Artificial Intelligence

Roblox Luncurkan Fitur Build untuk Buat Game AI di Ponsel

Ringkasan

  • Roblox meluncurkan Build pada 28 Juli di Selandia Baria, fitur AI pembuat game lewat ponsel dari teks.

Roblox akan membuka akses pembuatan game berbasis kecerdasan buatan langsung dari aplikasi seluler mulai 28 Juli 2025. Fitur bernama Build memungkinkan pengguna menyulap perintah teks menjadi game sederhana tanpa perlu perangkat komputer.

Perusahaan menyebut Build sebagai sarana penciptaan game dengan pendekatan mobile-first yang menurunkan batas masuk bagi siapa saja. Mekanisme permainan, lingkungan, karakter, gaya visual, hingga suara dihasilkan lewat model AI milik Roblox dan model sumber terbuka. Langkah ini memperluas strategi perusahaan yang sejak awal mengadopsi AI secara agresif.

Roblox sebelumnya sudah memperkenalkan asisten obrolan untuk pengembang serta model dasar AI penghasil aset 3D yang mirip dengan Project Genie milik Google. Model world AI ambisius itu dirancang membantu studio kecil maupun individu memproduksi konten lebih cepat. Build menjadi kelanjutan dari arah tersebut dengan menyasar perangkat ponsel yang jauh lebih lazim digunakan anak muda.

Keputusan menghadirkan Build lahir dari kebutuhan mempercepat eksperimen ide di tengah platform yang sudah padat konten. Roblox ingin pengguna bisa menguji konsep dengan cepat lalu menyempurnakannya tanpa harus menguasai teknis pemrograman. Penurunan hambatan teknis itu berisiko membanjiri platform dengan karya berkualitas rendah, sebuah kecemasan yang sudah muncul di komunitas kreator.

Pasar game buatan pengguna memang mengandalkan volume, namun kualitas menjadi penentu bertahannya sebuah karya. Roblox menekankan bahwa sistem penemuan mereka tetap mengutamakan retensi jangka panjang, bukan sekadar label buatan AI. Game yang tak dimainkan tidak akan muncul di beranda, sehingga karya asal jadi diprediksi tersisih secara otomatis.

Bagi pengguna Indonesia, tren ini relevan karena Roblox termasuk platform dengan basis pemain besar di kalangan pelajar. Kemudahan membuat game dari ponsel berpotensi menumbuhkan gelombang kreator muda lokal yang sebelumnya terkendala perangkat desktop. Di sisi lain, membludaknya konten AI dapat menyingkirkan karya buatan tangan yang dikembangkan dengan susah payah oleh studio independen domestik.

Industri game lokal belum memiliki alat serupa yang terintegrasi langsung ke ekosistem distribusi sebesar Roblox. Beberapa pengembang indie Tanah Air memanfaatkan Unity atau Godot dengan bantuan plugin AI pihak ketiga, namun alur kerjanya tetap menuntut komputer. Kehadiran Build memperlihatkan arah demokratisasi produksi game yang mungkin memicu respons pesaing global maupun lokal.

Dampak lain terletak pada literasi digital remaja. Fitur ini mengajarkan dasar desain game lewat bahasa natural, namun juga membiasakan ketergantungan pada generator otomatis. Orang tua dan pendidik perlu membedakan antara berkreasi dengan AI dan sekadar menekan tombol hasilkan. Tanpa bimbingan, estetika dan narasi game lokal berisiko kehilangan keunikan budaya.

"Sistem penemuan kami dirancang menonjolkan game dengan retensi jangka panjang, yang tidak termasuk sampah AI," tulis Roblox dalam pernyataan resminya. Perusahaan menegaskan kualitas di beranda tidak berubah karena mekanisme itu menyaring berdasarkan aktivitas nyata pemain.

Juru bicara Roblox, Juliet Chaitin-Lefcourt, menyatakan versi dasar Build tersedia tanpa biaya, sementara opsi berbayar untuk pengguna intensif akan diumumkan kemudian. Peluncuran awal menyasar pengguna berusia minimal sembilan tahun di Selandia Baru yang telah verifikasi umur, dengan game terbitan bisa dimainkan global oleh pengguna 16 tahun ke atas.

Roblox juga menyiapkan agen AI baru untuk pengujian, analitik, dan eksperimen peningkatkan keterlibatan yang akan hadir di Build dan Studio beberapa bulan ke depan. Perluasan bertahap ke wilayah lain menunjukkan perusahaan menguji kestabilan sebelum membuka akses penuh. Arah ini mengonfirmasi bahwa ponsel bukan sekadar alat main, melainkan juga studio kreasi masa depan.

Persaingan platform kreatif dipastikan makin bergeser ke perangkat seluler dengan AI sebagai tulang punggung. Jika Build sukses, batas antara pemain dan pembuat game akan semakin tipis di berbagai negara, termasuk Indonesia. Evolusi tersebut menuntut regulasi dan literasi yang seimbang agar ruang kreasi tetap sehat.

Konteks Indonesia menunjukkan bahwa penetrasi ponsel pintar sudah tinggi di kalangan remaja, sehingga adopsi fitur serupa akan cepat jika masuk ke sini. Komunitas developer lokal perlu mulai merumuskan diferensiasi karya berbasis budaya agar tak tenggelam oleh arus konten AI massal. Pemerintah dan sekolah dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengenalkan pendidikan computational thinking yang kritis.

Proyeksi ke depan menunjukkan Roblox akan terus mengintegrasikan agen AI ke seluruh rantai produksi game, dari pra-produksi hingga monetisasi. Tren serupa kemungkinan diikuti platform seperti Minecraft atau Meta Horizon yang juga mengincar kreator pemula. Transisi ke mobile-AI creation telah dimulai, dan ia akan mengubah wajah industri game sosial secara permanen.

Mengapa Ini Penting

Bagi Indonesia, fitur ini mempercepat demokratisasi produksi game di kalangan remaja yang mayoritas hanya punya ponsel, namun memicu risiko kanibalisasi karya indie lokal yang masih berbasis desktop. Ketiadaan regulasi literasi AI kreatif membuat karya bermuatan budaya rawan tertelan konten generatif massal. Pergeseran ke mobile-AI creation juga menuntut sekolah dan orang tua menyiapkan panduan etis agar generasi muda tak sekadar menjadi konsumen generator teks-ke-game.

Sumber Asli
The Verge
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit