Artificial Intelligence

Rencana Smart Speaker OpenAI Dianggap Bisa Perburuk Kerugian Perusahaan

Ringkasan

  • OpenAI akan rilis smart speaker AI 2026, langkah yang diperkirakan memperbesar kerugian perusahaan yang belum untung.

OpenAI dikabarkan menyiapkan peluncuran smart speaker pintar berbasis kecerdasan buatan pada 2026, sebuah langkah yang dinilai berisiko memperbesar kerugian perusahaan yang belum mencetak untung. Kabar tersebut muncul dari laporan jurnalis Bloomberg, Mark Gurman, yang menyebut perangkat pertama buatan langsung OpenAI akan berupa speaker isi ulang dengan kemampuan meniru sifat manusiawi.

Langkah ini memicu keraguan di kalangan analis karena OpenAI belum menguntungkan, sementara pasar smart speaker global justru menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Mantan eksekutif OpenAI, Fidji Simo, sempat memperingatkan karyawan pada musim semi lalu bahwa perusahaan kehilangan fokus akibat "side quests" atau proyek sampingan mahal seperti Sora yang akhirnya ditutup April lalu. Rencana perangkat keras anyar ini dianggap persis seperti hal yang hendak dihindari Simo.

Berdasarkan data firma riset IDC, volume pengapalan smart speaker menurun 16,3 persen pada 2023 dibanding tahun sebelumnya, lalu turun lagi 11,8 persen pada 2024. Kehadiran Alexa+ pada 2025 memperlambat penurunan, namun pasar tetap berkontraksi 6,7 persen di tahun tersebut. IDC memproyeksikan penyusutan 9,6 persen tambahan pada akhir tahun ini sebelum pasar stagnan pada 2026.

Penurunan tersebut terjadi karena konsumen tidak lagi mengganti perangkat mereka. Jitesh Ubrani, Direktur Pelacak Perangkat Global IDC, menjelaskan bahwa fitur terbaru bersifat berbasis cloud sehingga pengguna bisa tetap memakai hardware lama. Fungsi speaker pintar juga terbatas pada putar musik, podcast, dan pengatur waktu, yang tidak membutuhkan komputasi rumit.

Bagi OpenAI, masuk ke pasar yang dikuasai pemain mapan seperti Amazon menjadi tantangan berat. Menurut Ubrani, membuat perangkat tidak sulit, tetapi mencapai skala massa sangat sulit karena kategori ini tidak banyak berevolusi. Amazon sendiri menguasai pasar sejak 2022 dengan pengapalan lebih dari 100 juta unit, sementara pengapalan industri kini tinggal puluhan juta unit per tahun.

Persoalan utama lainnya adalah harga. Bloomberg melaporkan OpenAI merancang speaker dengan kamera, sensor lingkungan, baterai isi ulang, dan elemen mekanik bergerak mandiri. Spesifikasi itu jauh lebih kompleks ketimbang Echo Dot. Ubrani mencatat speaker pintar selama ini dijual di bawah 100 dolar dan itu yang paling laris, padahal banyak konsumen enggan membayar 300 dolar untuk speaker.

OpenAI yakin daya tarik produknya ada pada kepribadian dan koneksi humanlike melalui model suara GPT-Live-1. Model berarsitektur duplex tersebut bisa memproses input dan output bersamaan, memungkinkan percakapan alami, pemahaman waktu, dan terjemahan langsung. Amazon membuat klaim serupa saat meluncurkan Alexa+ tahun lalu dengan kemampuan mendeteksi nada dan memori percakapan, namun tidak mengubah tren pasar.

Di Indonesia, smart speaker belum menjadi kebutuhan pokok rumah tangga. Produk seperti Google Nest dan Amazon Echo hadir secara terbatas, sementara pengguna lebih mengandalkan asisten virtual di ponsel seperti Google Assistant dan Siri dalam bahasa lokal. Produsen lokal belum melahirkan speaker AI bersaing, sehingga masuknya pemain raksasa seperti OpenAI dapat memicu edukasi pasar namun berisiko gagal jika harga tinggi.

Ubrani menilai ada logika di balik rencana OpenAI. "Industri sepakat AI adalah masa depan, tapi AI tidak boleh cuma terkunci di browser. Ia harus paham dunia sekitar untuk benar-benar berguna, dan cara satu-satunya OpenAI melakukan itu adalah lewat hardware," ujarnya. Speaker pintar disebut sebagai titik awal dengan resistensi paling rendah ketimbang membuat ponsel atau kacamata cerdas.

Amazon sendiri hingga 2022 belum menemukan cara monetisasi Alexa meski Echo laris. Laporan Business Insider menyebut unit Digital Worldwide Amazon rugi operasi 3 miliar dolar pada kuartal I 2022, mayoritas dari asisten digital tersebut. Permintaan sederhana seperti cuaca atau musik tidak menghasilkan uang, dan OpenAI bisa terperangkap pola serupa.

Ke depan, OpenAI perlu merilis opsi terjangkau jika ingin menembus pasar. Tanpa monetisasi layanan, speaker humanlike hanya akan jadi beban finansial. Ubrani memperkirakan perangkat keras tidak akan untung, melainkan kendaraan menuju ekosistem, sehingga strategi jangka panjang OpenAI akan menentukan apakah side quest ini berujung rugi atau pembuka era baru.

Mengapa Ini Penting

Bagi Indonesia, rencana OpenAI menyoroti bahwa infrastruktur AI lokal belum siap bersaing di perangkat keras, sehingga ketergantungan pada produk impor mahal akan meningkat. Jika model bisnis speaker pintar gagal monetisasi, investor teknologi dalam negeri bisa menghindari pengembangan AI perangkat keras dan lebih fokus ke layanan cloud. Tren penyusutan pasar global juga mengingatkan startup lokal agar tidak meniru strategi tanpa kajian permintaan riil pengguna di tengah literasi AI yang masih bertahap.

Sumber Asli
Engadget
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit