Artificial Intelligence

Startup Otonom Reliable Robotics Raih Valuasi Rp15 Triliun Usai Pendanaan Jumbo

Bagikan: X Facebook WhatsApp Telegram LinkedIn
Startup Otonom Reliable Robotics Raih Valuasi Rp15 Triliun Usai Pendanaan Jumbo

Ringkasan

  • Startup penerbangan otonom Reliable Robotics resmi menjadi unicorn dengan valuasi 1 miliar dolar AS usai meraih pendanaan 115 juta dolar AS untuk mempercepat sertifikasi teknologi penerbangan mereka.

Reliable Robotics, startup penerbangan otonom yang didirikan oleh mantan insinyur SpaceX, resmi menyandang status unicorn setelah mengamankan pendanaan tambahan sebesar 115 juta dolar AS. Suntikan modal ini membawa total valuasi perusahaan asal Mountain View, California tersebut melampaui angka 1 miliar dolar AS atau sekitar 15,6 triliun rupiah. Pendanaan ini terdiri dari 90 juta dolar AS dalam bentuk ekuitas yang dipimpin oleh Nimble Partners, serta 25 juta dolar AS dalam bentuk utang dari Silicon Valley Bank.

Sejak didirikan hampir satu dekade lalu, Reliable Robotics fokus mengembangkan sistem penerbangan otonom yang dapat dipasang pada pesawat konvensional. Langkah ini diambil untuk merevolusi efisiensi operasional industri kargo udara. Dengan total pendanaan yang kini mencapai 380 juta dolar AS, perusahaan memiliki ruang gerak lebih luas untuk menuntaskan proses sertifikasi ketat dari Federal Aviation Administration (FAA).

CEO Reliable Robotics, Robert Rose, menegaskan bahwa perusahaan terus memberikan bukti teknis yang dibutuhkan regulator setiap harinya. Rose, yang merupakan mantan direktur perangkat lunak penerbangan di SpaceX, memimpin perusahaan ini bersama CTO Juerg Frefel. Keduanya membawa pengalaman mendalam dari industri kedirgantaraan dan teknologi tinggi untuk menaklukkan tantangan regulasi yang dikenal sangat sulit ditembus di dunia penerbangan.

Strategi sertifikasi perusahaan mencakup empat tahapan krusial. Produk pertama, yang disebut 'continuous autopilot engagement', dirancang untuk menangani proses menghidupkan mesin, taxiing, lepas landas, hingga mendarat. Pilot tetap berada di kokpit namun berinteraksi melalui layar sentuh. Rose menargetkan sertifikasi untuk sistem ini rampung dalam 18 hingga 24 bulan ke depan.

Langkah berikutnya, yang diperkirakan memakan waktu tiga tahun, adalah memindahkan kendali pesawat ke stasiun kendali darat secara penuh. Selain perangkat lunak, perusahaan juga mengembangkan radar solid-state mandiri. Teknologi radar ini diklaim lebih unggul dibanding radar konvensional karena tidak memiliki bagian bergerak, sehingga lebih murah, beresolusi tinggi, dan minim perawatan.

Inovasi radar ini menjadi sangat relevan mengingat meningkatnya insiden tabrakan di landasan pacu yang melibatkan pesawat komersial global. Tidak hanya di udara, radar ini mampu memantau pergerakan di darat untuk mencegah tabrakan antar pesawat maupun dengan infrastruktur bandara. Perusahaan menargetkan sertifikasi radar ini tuntas pada akhir 2027.

Bagi industri penerbangan Indonesia, teknologi otonom seperti ini menawarkan potensi besar untuk logistik di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau. Mengingat Indonesia memiliki ribuan pulau, otomatisasi pada pesawat kargo ukuran menengah, seperti Cessna Caravan yang digunakan Reliable Airlines, bisa menekan biaya distribusi logistik secara signifikan.

Namun, tantangan adopsi teknologi ini di Indonesia tidak hanya terletak pada kesiapan perangkat, melainkan juga pada regulasi keselamatan udara nasional yang harus selaras dengan standar internasional. Otoritas penerbangan di Indonesia perlu mulai memetakan kerangka kerja untuk mengintegrasikan sistem otonom ke dalam ruang udara nasional yang semakin padat.

John Burbank, pendiri Nimble Partners, menilai bahwa visi Reliable Robotics jauh melampaui sekadar memodifikasi satu jenis pesawat. Mereka sedang membangun ekosistem sistem otonom yang bersifat universal dan dapat diterapkan pada berbagai jenis rangka pesawat. Ini adalah lompatan paradigma yang sama seperti transisi otomotif menuju kendaraan otonom.

Keberhasilan Reliable Robotics membuktikan bahwa investor masih sangat berminat pada teknologi 'deep tech' yang memiliki dampak nyata bagi infrastruktur global. Selama mereka mampu menjaga ritme sertifikasi di bawah pengawasan FAA, teknologi ini diprediksi menjadi standar baru bagi maskapai kargo dalam lima tahun ke depan.

Sementara itu, Reliable Airlines yang beroperasi di Albuquerque kini menjadi laboratorium hidup bagi perusahaan. Dengan mengoperasikan enam pesawat kargo secara rutin, mereka mengumpulkan data berharga untuk membuktikan keandalan sistem kepada regulator. Ini adalah strategi cerdas untuk meminimalkan risiko sebelum teknologi ini dilisensikan kepada maskapai komersial lainnya.

Ke depan, persaingan di sektor penerbangan otonom akan semakin ketat. Perusahaan yang mampu membuktikan keamanan sistemnya terlebih dahulu akan memenangkan pangsa pasar yang besar di tengah upaya global dalam menekan biaya operasional penerbangan dan mengurangi ketergantungan pada tenaga pilot untuk rute-rute kargo yang monoton.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial karena menandakan pergeseran besar dalam industri kargo udara menuju otomatisasi penuh. Bagi Indonesia, teknologi ini memiliki implikasi signifikan dalam menekan biaya logistik di wilayah terpencil melalui pesawat kargo otonom. Adopsi sistem ini di masa depan akan memaksa regulator penerbangan nasional untuk memperbarui standar keselamatan udara agar bisa mengakomodasi teknologi otonom yang kini mulai matang di pasar global.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Startup Otonom Reliable Robotics Raih Valuasi Rp15 Triliun Usai Pendanaan Jumbo"?

Startup penerbangan otonom Reliable Robotics resmi menjadi unicorn dengan valuasi 1 miliar dolar AS usai meraih pendanaan 115 juta dolar AS untuk mempercepat sertifikasi teknologi penerbangan mereka.

Mengapa Artificial Intelligence ini penting?

Berita ini krusial karena menandakan pergeseran besar dalam industri kargo udara menuju otomatisasi penuh. Bagi Indonesia, teknologi ini memiliki implikasi signifikan dalam menekan biaya logistik di wilayah terpencil melalui pesawat kargo otonom. Adopsi sistem ini di masa depan akan memaksa regulator penerbangan nasional untuk memperbarui standar keselamatan udara agar bisa mengakomodasi teknologi

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
1 jam lalu
Waktu Baca
5 menit