Artificial Intelligence

Polri dan Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026, Perkuat Sinergi di Hari Bhayangkara ke-80

Ringkasan

  • Polri dan Jurnalis Trunojoyo menggelar Padel Bhayangkara Cup 2026 guna memperingati Hari Bhayangkara ke-80.
  • Turnamen ini dirancang untuk memperkuat sinergi, membangun kepercayaan, dan menciptakan komunikasi publik yang transparan serta humanis melalui diplomasi olahraga.

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama Jurnalis Trunojoyo menggelar turnamen Padel Bhayangkara Cup 2026 pada Sabtu (11/7) di kompleks Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026. Turnamen ini tidak sekadar ajang olahraga, melainkan manifestasi nyata dari upaya membangun komunikasi publik yang transparan, profesional, dan humanis antara aparat penegak hukum dan pekerja media.

Kepala Biro Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi (Karo PID) Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Saptono Erlangga, mewakili Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir dalam membuka acara. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan baik antara Polri dan media merupakan fondasi krusial dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat. "Hubungan yang baik antara Polri dan media merupakan hal yang sangat penting dalam mendukung terciptanya komunikasi publik yang transparan, profesional, dan humanis," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan geseran paradigma Polri dari pendekatan sekadar mengelola informasi menuju membangun kemitraan strategis dengan jurnalis.

Pemilihan olahraga padel sebagai medium interaksi bukan tanpa alasan. Padel, cabang olahraga raket yang menggabungkan elemen tenis dan squash, saat ini mengalami popularitas melonjak di kalangan masyarakat urban Indonesia. Karakteristik permainan yang dimainkan berpasangan (doubles) dengan lapangan lebih kecil dan dinding kaca memaksa pemain untuk berkomunikasi intensif, saling menutupi posisi, dan membangun kepercayaan instan — metafora yang tepat untuk relasi Polri-media yang ideal. Selain itu, padel bersifat inklusif dan mudah dipelajari oleh berbagai usia, memungkinkan personel Polri senior hingga jurnalis muda bermain di atas ketinggian yang sama.

Turnamen ini mempertandingkan tiga kategori utama: jurnalis pria, jurnalis wanita, dan personel Polri. Partisipasi jurnalis wanita dalam kategori terpisah menunjukkan apresiasi terhadap peran perempuan di industri media yang semakin signifikan. Peserta berasal dari berbagai platform media — televisi, cetak, dan digital — yang rutin meliput kegiatan di lingkungan Mabes Polri. Format kompetisi ini dirancang untuk memastikan keseimbangan daya saing sekaligus menciptakan ruang interaksi lintas kategori selama jeda pertandingan.

Momen puncak acara adalah laga eksibisi yang mempertemukan perwakilan pejabat tinggi Polri dengan perwakilan wartawan senior. Pertandingan ini sengaja dikemas non-kompetitif, tanpa skor resmi, untuk menekankan nilai sportivitas dan kebersamaan di atas kemenangan. Dalam konteks sejarah hubungan Polri-media yang pernah penuh ketegangan — terutama era Orde Baru dan masa transisi reformasi — momen di mana jenderal dan editor-in-chief berbagi raket di lapangan yang sama memiliki bobot simbolis yang mendalam. Ini menandai normalisasi relasi yang berbasis rasa hormat timbal balik, bukan sekadar toleransi prosedural.

Secara kontekstual, Hari Bhayangkara ke-80 memiliki makna khusus. Delapan dekade sejak pembentukan Kepolisian Negara pada 1 Juli 1946, Polri telah bertransformasi dari aparat militer terpadu (ABRI) menjadi institusi sipil yang mandiri sejak 1999. Peringatan tahun ini tidak hanya merayakan usia, tapi merefleksikan perjalanan reformasi birokrasi, penegakan HAM, dan upaya membangun kepercayaan publik. Kegiatan seperti Padel Cup menjadi bukti nyata komitmen Polri untuk "buka diri" — bukan hanya melalui konferensi pers formal, tapi melalui interaksi manusiawi yang membangun empati.

Dari perspektif manajemen komunikasi strategis, inisiatif ini mengadopsi pendekatan "public diplomacy" melalui diplomasi olahraga (sports diplomacy). Riset komunikasi politik menunjukkan bahwa interaksi informal non-hierarkis antara sumber berita (news source) dan pelapor (reporter) mengurangi bias kognitif, menurunkan kecurigaan, dan meningkatkan akurasi pemberitaan. Ketika jurnalis melihat personel Polri sebagai lawan main yang sportif, bukan subjek investigasi yang mengancam, kerangka pemberitaan (news framing) pun bergeser dari konfrontatif menjadi konstruktif.

Ke depannya, tantangannya adalah memastikan momentum ini tidak bersifat ad-hoc atau sekadar upacara tahunan. Diperlukan penginstitusionalan forum olahraga rutin, program pertukaran pengetahuan (media visit ke satuan Polri, pelatihan safety reporting bagi jurnalis), dan mekanisme umpan balik terstruktur. Jika Padel Bhayangkara Cup 2026 menjadi katalisator untuk membangun "social capital" antara dua profesi yang saling membutuhkan, maka investasi sejumlah lapangan padel dan sehari turnamen ini akan memberikan return on investment yang tak ternilai harganya: kepercayaan publik yang menjadi modal utama legitimasi negara.

Mengapa Ini Penting

Turnamen ini menandai pergeseran strategis relasi Polri-media dari konfrontatif ke kolaboratif melalui diplomasi olahraga. Bagi publik, ini berarti peluang pemberitaan yang lebih seimbang dan berdasar empati, bukan sekadar tekanan institusional. Bagi industri media, akses non-formal ke pejabat tinggi membangun jaringan kepercayaan yang krusial di era desinformasi. Model ini bisa direplikasi oleh lembaga negara lain untuk memperbaiki legitimasi publik.

Sumber Asli
ANTARA News
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit