PT Pertamina (Persero) kembali menunjukkan komitmen tanggung jawab sosial perusahaan melalui peluncuran serentak tiga program pemberdayaan masyarakat di Jakarta pada Jumat (10/7/2026). Acara yang dihadiri jajaran Komisaris dan Direksi Pertamina Group tersebut menyoroti inisiatif Seragam Sekolah untuk Semua (Sesama), Pasar Murah Sembako (Pusako), serta Ultra Mikro Pertamina Aksi (Umimax). Ketiga program dirancang untuk menjangkau kelompok rentan mulai dari pelajar, pekerja harian, hingga pengusaha ultra mikro di sekitar wilayah operasi perusahaan energi negara tersebut.
Program Sesama menjadi tonggak penting dalam mendukung akses pendidikan karena Pertamina membagikan 1.000 paket seragam dan perlengkapan sekolah secara gratis. Sasaran utamanya meliputi anak-anak dari keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, serta putra-putri para guru honorer, petugas PPSU, personel pemadam kebakaran, pengemudi ojek online, dan pengemudi bajaj berbahan bakar gas (BBG). Kebijakan ini tidak sekadar memberikan material, tetapi juga menumbuhkan motivasi belajar di tengah tantangan ekonomi yang masih membayangi masyarakat pasca berbagai gejolak global.
Di sisi pemenuhan kebutuhan pokok, Pertamina melalui Pusako menyediakan 1.000 paket sembako bersubsidi dengan harga terjangkau. Menariknya, seluruh hasil penjualan paket tersebut disalurkan kembali kepada panti asuhan dan tempat ibadah sebagai bentuk gotong royong berkelanjutan. Salah satu penerima manfaat, Adenia, seorang pengemudi ojek online, mengungkapkan bahwa dengan hanya Rp30.000 ia memperoleh beras, minyak, gula, biskuit, kopi, dan kebutuhan lainnya. Hal ini mencerminkan efektivitas intervensi pangan mikro di tengah tren inflasi komoditas yang kerap memberatkan rumah tangga miskin.
Sementara itu, Umimax menyasar pilar ekonomi kerakyatan dengan menyalurkan sarana usaha produktif, pelatihan, dan pendampingan bagi pelaku usaha ultramikro. Suwandi, seorang penerima bantuan gerobak usaha, menyebutkan bahwa bantuan tersebut menjadi penyemangat untuk mengembangkan sumber penghidupan bagi dirinya dan anak. Mengingat usaha ultra mikro menyumbang pangsa besar dalam struktur ekonomi Indonesia, pendekatan pemberdayaan berbasis modal fisik dan kapasitas ini berpotensi mempercepat pemulihan inklusif di level akar rumput.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa aksi sosial tersebut selaras dengan program prioritas Presiden Republik Indonesia dalam pengentasan kemiskinan dan penguatan ketahanan pangan. Menurutnya, energi yang disalurkan perusahaan setiap hari pada akhirnya bermuara pada kehidupan masyarakat, sehingga kepedulian harus hadir dalam wujud nyata yang dekat dengan kebutuhan mereka. Pernyataan ini menegaskan pergeseran paradigma BUMN dari sekadar pencari profit menjadi agen pembangunan yang mengintegrasikan nilai sosial ke dalam rantai pasoknya.
Cakupan program yang sangat spesifik terhadap profesi gig economy seperti ojek online dan bajaj BBG menunjukkan pemahaman Pertamina atas dinamika pasar tenaga kerja modern. Kelompok ini sering kali terlewat dari jaring pengaman tradisional, namun memiliki peran krusial dalam mobilitas urban dan distribusi barang. Dengan menyertakan mereka, perusahaan tidak hanya memberikan bantuan sesaat tetapi juga memperkuat ekosistem pelayanan publik yang bergantung pada sektor informal.
Tak ketinggalan, masyarakat di sekitar wilayah operasi Pertamina turut menjadi prioritas, termasuk penerima program Sesama seperti Uke bersama putranya Lionel yang menyampaikan apresiasi atas bantuan seragam dan paket murah tersebut. Sinergi antarprogram ini membentuk jaringan perlindungan multidimensional: pendidikan anak terjaga, pangan keluarga terbantu, dan usaha kecil mendapat dorongan modal. Pendekatan terintegrasi semacam ini jarang ditemukan dalam CSR tunggal korporasi lain, sehingga layak menjadi studi kasus bagi praktisi pembangunan.
Dari perspektif teknologi dan inovasi, pelibatan penerima manfaat berbasis aplikasi seperti ojek online membuka peluang integrasi sistem pendataan digital. Misalnya, distribusi bantuan dapat dilacak melalui platform pencatatan yang terhubung dengan identitas resmi, sehingga meminimalisasi duplikasi dan kebocoran. Startup lokal bidang fintech atau sosial tech dapat berkolaborasi menyediakan dashboard monitorimpact bagi korporasi, sekaligus memberdayakan penerima dengan literasi keuangan digital.
Ke depan, keberlanjutan program seperti Umimax memerlukan evaluasi berkala untuk memastikan gerobak dan pelatihan benar-benar meningkatkan omzet. Transparansi pelaporan melalui kanal digital akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) BUMN. Aksi Pertamina ini pada akhirnya bukan sekadar berbagi fisik, melainkan investasi jangka panjang bagi resiliensi sosial ekonomi nasional yang dapat diadopsi oleh berbagai industri lainnya.