Layanan streaming Peacock resmi mengumumkan kenaikan harga untuk semua paket langganannya, mulai dari tingkat terjangkauan hingga versi tanpa iklan. Kenaikan ini berlaku untuk pelanggan baru mulai 18 Agustus 2026, sementara pelanggan yang sudah ada akan merasakan dampaknya paling lambat pada September 2026. Dengan langkah ini, Peacock menegaskan komitmennya untuk tetap kompetitif di tengah persaingan ketat di dunia streaming global.
Peacock Select, paket termurah yang masih menampilkan iklan, naik dari $7,99 menjadi $8,99 per bulan. Paket Premium dengan iklan naik dari $10,99 ke $12,99, sementara Premium Plus tanpa iklan mengalami kenaikan tertinggi sebesar $3, dari $16,99 menjadi $19,99 per bulan. Kenaikan ini juga memengaruhi langganan tahunan, yang secara otomatis akan disesuaikan sesuai dengan tarif baru.
Latar belakang kenaikan harga ini tampaknya terkait dengan keputusan NBCUniversal untuk memperkuat posisi finansial Peacock setelah mencatatkan keuntungan pertama kali pada kuartal sebelumnya. Layanan ini berhasil menambahkan jumlah langganan hingga 48 juta pengguna, sekaligus bersiap untuk memisahkan diri dari induk perusahaannya, Comcast, pada tahun depan. Dengan demikian, Peacock perlu memastikan keberlangsungannya secara mandiri.
Kenaikan harga juga didukung oleh penambahan fitur baru yang dirancang untuk meningkatkan nilai bagi pengguna. Di antaranya adalah video vertikal untuk siaran NBA, serta umpan khusus “Bravoverse” yang menampilkan cuplikan dari berbagai acara seperti Love Island. Peacock juga sedang menguji manfaat eksklusif untuk langganan jangka panjang, serta akan segera terintegrasi dengan langganan YouTube Premium.
Menurut halaman dukungan resmi Peacock, kenaikan harga dilakukan agar layanan dapat “menciptakan pengalaman terbaik bagi penonton, tetap kompetitif di pasar, dan menyampaikan konten unik di semua genre.” Pernyataan ini mencerminkan strategi perusahaan untuk tidak hanya mengandalkan konten, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman pengguna secara keseluruhan.
Dampak dari kenaikan harga ini tidak hanya terbatas pada pengguna di Amerika Serikat, tetapi juga dapat memengaruhi strategi harga platform streaming lainnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun belum ada kepastian apakah kenaikan harga serupa akan diterapkan di wilayah Asia Pasifik, tren ini menunjukkan bahwa platform streaming global semakin mengutamakan profitabilitas over volume langganan.
Di Indonesia, layanan streaming seperti Vidio, RCTI+, dan Netflix masih menjaga harga relatif stabil, meskipun ada laporan tentang kenaikan harga bertahap. Namun, dengan tekanan ekonomi yang meningkat dan daya beli konsumen yang terpengaruh, kenaikan harga signifikan seperti yang dilakukan Peacock bisa menjadi pelajaran berharga bagi platform lokal untuk tidak terburu-buru menaikkan tarif.
Sebagai tanggapan terhadap kenaikan harga, banyak pengguna Peacock mungkin akan mencari alternatif yang lebih terjangkaukan. Platform seperti Tubi, Pluto TV, atau bahkan layanan lokal di Indonesia seperti Mola atau MaxStream bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tetap menikmati konten tanpa menambah beban biaya.
Di sisi lain, bagi mereka yang sudah terikat dalam kontrak tahunan, dampaknya mungkin akan terasa lebih halus karena kenaikan harga baru akan diterapkan pada periode pembaruan berikutnya. Namun, bagi pengguna yang baru bergabung, kenaikan ini langsung terasa dan bisa memengaruhi keputusan untuk berlangganan.
Peacock belum lama ini berhasil meraih profitabilitas setelah bertahun-tahun beroperasi dengan kerugian. Dengan demikian, langkah untuk meningkatkan harga bisa dilihat sebagai upaya untuk memastikan keberlangsungan usaha di masa depan, terutama ketika persiapan pemisahan dari Comcast semakin mendekat.
Menilik prospek ke depan, kemungkinan besar Peacock akan terus menyesuaikan strategi harganya berdasarkan tanggapan pasar dan performa keuangan. Jika pengguna tetap setia meskipun setelah kenaikan harga, maka kemungkinan inilah yang akan menjadi patokan bagi keputusan harga selanjutnya.
Sementara itu, integrasi dengan YouTube Premium yang akan datang bisa menjadi cara cerdas bagi Peacock untuk menambah nilai bagi pengguna tanpa harus meningkatkan biaya langganan secara langsung. Dengan demikian, pengguna bisa mendapatkan akses ke lebih banyak konten tanpa harus membayar lebih.
Bagbagi pengguna Indonesia yang tertarik dengan layanan asal AS seperti Peacock, kenaikan harga ini bisa menjadi pertimbangan tambahan sebelum memutuskan untuk berlangganan. Terlebih, dengan banyaknya alternatif streaming yang tersedia secara lokal maupun internasional, kompetisi untuk menarik dan mempertahankan pengguna semakin ketat.
Meskipun demikian, inovasi yang dilakukan oleh Peacock dalam bentuk fitur baru dan integrasi dengan platform lainnya menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan kenaikan harga untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga berupaya memberikan nilai tambah yang nyata bagi pengguna setianya.
Sehingga, meskipun kenaikan harga mungkin menimbulkan protes di kalangan pengguna, langkah-langkah inovatif yang dilakukan oleh Peacock bisa menjadi kompensasi yang layak jika fitur-fitur baru ini benar-benar meningkatkan pengalaman menonton secara signifikan.
Namun, bagi mereka yang sudah lama menggunakan Peacock dan merasa layanan ini tidak lagi sesuai dengan kebutuhan atau anggaran mereka, kemungkinan besar akan ada banyak opsi pengganti yang bisa dipertimbangkan, baik dari platform internasional maupun lokal yang semakin berkembang di Indonesia.
Sementara itu, dengan semakin banyaknya platform streaming yang bersaing untuk hak sutradari yang sama, kenaikan harga yang dilakukan oleh Peacock bisa menjadi indikator bahwa industri ini sedang memasuki fase konsolidasi, di mana keberlangsungan usaha dan profitabilitas menjadi prioritas utama, bahkan jika harus mengorbankan pertumbuhan pengguna secara cepat.