Artificial Intelligence

OpenAI Hadapi Investigasi Serentak dari Jaksa Agung di Amerika Serikat

OpenAI Hadapi Investigasi Serentak dari Jaksa Agung di Amerika Serikat

Ringkasan

  • OpenAI menghadapi investigasi dari koalisi jaksa agung AS terkait praktik periklanan, data pengguna, hingga aspek keamanan bagi kelompok rentan di tengah rencana perusahaan untuk melantai di bursa saham.

OpenAI kini menghadapi pengawasan hukum yang semakin ketat setelah koalisi jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat meluncurkan investigasi resmi terhadap perusahaan kecerdasan buatan tersebut. Langkah ini ditandai dengan diterbitkannya surat panggilan pengadilan (subpoena) dari Jaksa Agung New York pada Jumat lalu, yang menuntut penyerahan berbagai dokumen krusial terkait operasional perusahaan.

Investigasi ini mencakup spektrum topik yang sangat luas, mulai dari strategi periklanan, metrik keterlibatan dan retensi pengguna, hingga isu teknis seperti 'model sycophancy' atau kecenderungan AI untuk setuju dengan pengguna guna memvalidasi pendapat mereka. Selain itu, pihak berwenang tengah menyoroti kebijakan privasi data konsumen, perlindungan data kesehatan, serta protokol keamanan perusahaan dalam menangani pengguna dari kalangan anak-anak maupun lanjut usia.

Menanggapi situasi ini, juru bicara OpenAI menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk bekerja sama sepenuhnya dengan pihak berwenang. Mereka menegaskan bahwa OpenAI memandang serius kekhawatiran yang diajukan oleh para jaksa agung dan berjanji akan menempuh dialog yang konstruktif. Pihak perusahaan juga mengklaim telah meningkatkan perlindungan bagi kelompok rentan dengan mengarahkan mereka pada sumber daya manusia yang tepercaya saat menghadapi situasi sulit.

Tekanan hukum terhadap OpenAI memang sedang memuncak dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, perusahaan ini baru saja memenangkan persidangan tingkat tinggi melawan salah satu pendirinya, Elon Musk, terkait tuduhan pelanggaran perjanjian pendirian perusahaan. Meski demikian, OpenAI masih terjerat dalam berbagai tuntutan hukum lainnya, termasuk dugaan pelanggaran hak cipta dan keterlibatan ChatGPT dalam kasus-kasus sensitif seperti dorongan tindakan bunuh diri.

Di sisi lain, Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, secara terpisah telah melayangkan gugatan terhadap OpenAI dan CEO Sam Altman. Gugatan tersebut menuduh bahwa pimpinan OpenAI secara sadar mengabaikan peringatan keamanan internal maupun eksternal, yang dianggap membahayakan anak-anak dan masyarakat luas. Kasus ini semakin diperburuk oleh pengakuan Altman baru-baru ini terkait kegagalan perusahaan dalam melapor kepada penegak hukum setelah mendeteksi akun ChatGPT milik tersangka penembakan massal di Tumbler Ridge, Kanada.

Di tengah badai tuntutan hukum dan investigasi yang terus membayangi, OpenAI secara mengejutkan mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan dokumen secara rahasia untuk melantai di bursa saham (IPO). Keputusan untuk go public ini menjadi babak baru yang krusial bagi perusahaan, di mana transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi akan menjadi sorotan utama investor dan regulator di masa depan.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
13 Juni 2026
Waktu Baca
2 menit