Netflix telah memanfaatkan kecerdasan buatan generatif pada sekitar 300 judul tayangannya sepanjang tahun ini, dengan konsentrasi terbesar berada di tahap pasca produksi. Penggunaan teknologi itu tertuang dalam surat kepada pemegang saham terkait laporan keuangan kuartal kedua perusahaan.
Raksasa streaming asal Amerika Serikat tersebut menyebutkan bahwa alur kerja berbasis generative AI telah dipakai dalam produksi sejumlah proyek besar. Tiga di antaranya adalah Glory dari India, Brasil 70: A Saga do Tri dari Brasil, dan The American Experiment dari Amerika Serikat. Ketiga tayangan itu menggunakan AI untuk menciptakan rangkaian visual yang sangat kompleks.
Praktik ini menandai percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan di industri hiburan global. Netflix sebelumnya sudah diketahui menerapkan generative AI pada minimal satu serial orisinal sejak Juli tahun lalu. Kini, setelah mengakuisisi sejumlah studio dan meluncurkan divisi produksi khusus, ambisi mereka melampaui sekadar eksperimen.
Perusahaan menjelaskan bahwa alat berbasis AI semakin digunakan untuk menghasilkan output berkualitas lebih tinggi dengan waktu pengerjaan lebih singkat dan biaya lebih rendah dibanding metode konvensional. Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi tentang seberapa jauh platform tersebut mengandalkan otomatisasi dalam pembuatan konten.
Latar belakang strategi ini erat kaitannya dengan tekanan efisiensi di tengah persaingan layanan streaming yang makin ketat. Biaya produksi konten original terus naik, sementara pelanggan menuntut judul baru dengan frekuensi tinggi. AI dipandang sebagai jalan keluar yang memungkinkan studio memangkas waktu pengerjaan efek visual tanpa mengorbankan skala produksi.
Namun, kecepatan bukan satu-satunya alasan. Kompleksitas visual pada tayangan masa kini menuntut efek yang dulu membutuhkan ratusan seniman. Dengan AI, bagian tertentu dari pasca produksi dapat diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih pendek. Hal ini mengubah cara rumah produksi mengelola anggaran dan jadwal rilis.
Dampaknya mulai terasa bagi ekosistem kreatif global, termasuk potensi pergeseran peran tenaga kerja kreatif. Di Indonesia, industri konten lokal seperti serial Disney+ Hotstar, Vidio, dan MD Pictures belum menyatakan adopsi AI generatif secara massal. Kendati demikian, studio efek visual domestik telah mempelajari alat serupa untuk keperluan iklan dan film pendek.
Perbandingan dengan situasi di Tanah Air menunjukkan ketertinggalan infrastruktur, namun peluangnya terbuka lebar. Penggunaan AI di produksi hiburan Indonesia masih terkendala lisensi perangkat mahal dan ketersediaan talenta yang memahami teknologi tersebut. Jika tren global berlanjut, produsen lokal terpaksa beradaptasi agar tidak kalah saing di pasar regional.
Netflix menegaskan bahwa hasil buatan AI tetap membutuhkan sentuhan manusia agar selaras dengan keseluruhan film atau serial. Perusahaan menyadari bahwa alat canggih sekalipun tidak otomatis menggantikan tim kreatif secara penuh. Peringatan ini penting mengingat ancaman penggantian pekerja oleh mesin sempat memicu protes di Hollywood.
"Kami semakin memanfaatkan alat ini untuk menghasilkan output berkualitas lebih tinggi lebih cepat dan dengan biaya lebih rendah daripada metode tradisional," tulis Netflix dalam surat kepada pemegang saham. Pernyataan itu mengonfirmasi bahwa AI diposisikan sebagai pendukung, bukan pengganti total insan kreatif.
Ke depan, jumlah tayangan Netflix yang menggunakan AI dipastikan tidak akan menyusut. Perusahaan akan terus mengintegrasikan teknologi tersebut ke lebih banyak proyek sebagai bagian dari strategi operasional jangka panjang. Studio mitra juga diperkirakan mengikuti langkah serupa demi efisiensi.
Tren ini akan mempercepat standar baru dalam produksi hiburan di mana kecepatan dan efisiensi biaya menjadi syarat utama. Bagi penonton, perubahan mungkin tidak terlihat langsung, tetapi bagi industri, batas antara produksi tradisional dan berbasis AI akan makin tipis.
Perspektif Indonesia: Teknologi AI generatif untuk produksi film belum merata di Indonesia, namun beberapa studio animasi lokal seperti The Little Giantz dan rumah produksi iklan sudah menguji alat berbasis difusi untuk storyboard. Kementerian Komunikasi dan Informatika belum mengatur secara spesifik penggunaan AI dalam konten tayang, sehingga produsen lokal memiliki ruang coba yang longgar. Jika Netflix memperluas kolaborasi dengan talenta Indonesia, adopsi AI bisa masuk ke serial lokal dan meningkatkan daya saing konten domestik di level Asia Tenggara.