Major League Baseball (MLB) resmi melarang penggunaan tablet iPad di bangku cadangan untuk menjalankan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam menentukan strategi pertandingan. Kebijakan baru yang berlaku sejak 11 Juni 2025 itu ditetapkan melalui memo dari kantor komisaris liga menyusul temuan bahwa sepertiga tim memanfaatkan perangkat tersebut di luar fungsi semula.
Larangan ini menyasar aplikasi khusus yang mengambil alih rekomendasi soal pergantian pemain, pemanggilan jenis lemparan, dan keputusan dalam pertandingan yang selama ini diambil oleh pelatih serta pemain. MLB tidak memberikan sanksi kepada klub mana pun karena hasil evaluasi menunjukkan seluruh organisasi sudah mematuhi aturan yang diperbarui secara mendadak di tengah musim tersebut.
Penggunaan tablet di area bangku cadangan sebenarnya sudah lazim di kalangan tim MLB untuk meninjau performa dan memeriksa data statistik menjelang pertandingan. Namun, praktik tersebut mulai bergeser ketika beberapa tim mengembangkan perangkat lunak yang memanfaatkan AI untuk memberi saran strategi secara langsung saat laga berjalan. Hal itu memicu kekhawatiran liga terhadap hilangnya aspek intuisi manusia dalam olahraga.
Ketegasan MLB muncul setelah skandal pencurian tanda lemparan meletus pada 2021. Sejak saat itu, liga memperketat pemakaian perangkat elektronik di dalam stadion. Beberapa tahun terakhir, tim-tim justru mendesak pelonggaran aturan, permintaan yang kini dibatalkan oleh komisaris melalui revisi kebijakan musim ini.
Seorang pejabat front office yang tidak ingin disebut namanya mengatakan kepada The Athletic bahwa liga perlu menghentikan potensi kecurangan sebelum benar-benar terjadi. Pernyataan tersebut mencerminkan kehati-hatian MLB dalam merespons penetrasi teknologi ke ruang pengambilan keputusan olahraga profesional.
Bagi pembaca di Indonesia, langkah MLB menyoroti batas etis penerapan AI yang tengah menjadi perdebatan global. Di tanah air, penggunaan analitik olahraga masih terbatas pada level amatir dan kompetisi tertentu seperti Liga 1 yang mulai mengadopsi sistem pendukung data. Namun, belum ada regulasi tegas yang membatasi peran AI dalam strategi pertandingan secara langsung.
Industri teknologi lokal sebenarnya memiliki potensi meniru model aplikasi yang dilarang MLB. Beberapa startup sports analytics Indonesia telah meluncurkan produk berbasis kecerdasan buatan untuk prediksi performa atlet. Tanpa batasan serupa, risiko ketergantungan pada mesin dapat mengikis nilai kejuruan pelatih domestik.
Dampak kebijakan ini melampaui bisbol. Ini menjadi preseden bagi federasi olahraga lain, termasuk di Asia Tenggara, untuk menetapkan garis antara bantuan teknis dan penggantian insting manusia. Bagi pengguna teknologi umum, kasus ini mengingatkan bahwa AI bukan selalu jawaban tepat dalam situasi yang melibatkan faktor fisik dan emosional.
Baseball dikenal sebagai surga bagi penggemar statistik. Memproses data dalam jumlah besar memang kekuatan utama AI. Namun, ketika performa mental, fisik, dan emosional turut bermain, jawaban matematis belum tentu menjadi keputusan terbaik di lapangan.
Teknologi tetap berguna sebagai pelapis, seperti sistem ABS (Automated Ball-Strike) yang membantu wasit. Menggantikan otak dan intuisi pelatih dengan mesin justru berisiko menghilangkan kenikmatan menonton olahraga. Pertandingan bisbol tidak identik dengan catur, dan tidak sepatutnya dipaksa menjadi demikian.
Ke depan, MLB kemungkinan akan terus memantau evolusi perangkat lunak di bangku cadangan. Liganya dapat merilis panduan lebih rinci mengenai batasan fungsi tablet agar tidak disalahartikan kembali oleh klub. Sementara itu, tim harus kembali mengandalkan kombinasi data tradisional dan pertimbangan manusiawi.
Tren pengawasan serupa diprediksi meluas ke liga olahraga profesional lain secara internasional. Penggunaan AI akan tetap tumbuh, tetapi batas penggunaannya bakal semakin dikawal agar olahraga tetap mempertahankan unsur kejutan dan keputusan manusia.
Di Indonesia, asosiasi olahraga dapat mengambil pelajaran dari MLB dengan merumuskan pedoman etis AI sebelum teknologi itu masuk lebih jauh ke pertandingan resmi. Langkah preventif jauh lebih baik daripada penindakan setelah kecurangan terjadi.