StoryKit hadir sebagai solusi bagi orang tua yang kehabisan ide atau waktu untuk merangkai dongeng sebelum tidur. Cukup dengan memotret mainan favorit anak, aplikasi ini akan menjadikannya karakter utama dalam cerita yang dihasilkan. Orang tua juga bisa memilih latar cerita dan nilai-nilai seperti kebaikan atau keberanian yang ingin ditanamkan.
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, mengonfirmasi bahwa StoryKit saat ini masih dalam tahap uji coba di beberapa negara. Juru bicara Meta menyebut aplikasi ini dirancang untuk membantu orang tua menciptakan cerita yang imajinatif dan personal bagi anak-anak mereka. Seluruh konten melewati filter keamanan AI dan tidak memiliki fitur sosial. Aplikasi ini hanya bisa digunakan oleh pengguna berusia 18 tahun ke atas.
Langkah pembuatan cerita terbilang sederhana. Setelah memilih atau memotret karakter, pengguna mendeskripsikan dunia tempat cerita berlangsung, lalu memilih pelajaran yang ingin disampaikan. Dalam hitungan detik, AI akan merangkai narasi lengkap dengan ilustrasi dan musik latar. Deskripsi di App Store bahkan menegaskan bahwa pengguna tidak perlu menulis sepatah kata pun.
Namun, kehadiran StoryKit memicu perdebatan. Di satu sisi, aplikasi ini bisa menjadi penolong bagi orang tua yang kelelahan setelah bekerja seharian. Namun di sisi lain, bercerita adalah salah satu momen emas interaksi antara orang tua dan anak. Menggantikannya dengan cerita buatan AI dinilai dapat mengurangi kehangatan dan spontanitas yang justru penting bagi perkembangan anak.
Kritik juga datang dari pengamat teknologi. Meta sebelumnya dikenal meluncurkan produk kontroversial seperti generator deepfake di Instagram dan kacamata pintar yang disebut "pervert glasses". StoryKit dianggap sebagai langkah lain yang mengalihkan tugas berimajinasi. Manusia telah bercerita sejak awal peradaban, dan momen mendongeng sebelum tidur adalah tradisi yang tak ternilai.
Di Indonesia, tradisi mendongeng masih melekat kuat, terutama di budaya Jawa dan Sumatera melalui cerita rakyat. Namun, orang tua di kota besar sering kali tidak punya waktu untuk merangkai cerita sendiri. Aplikasi seperti StoryKit bisa menjadi alternatif, meskipun belum tersedia secara resmi di Indonesia. Beberapa startup lokal sudah mulai mengembangkan aplikasi cerita anak berbasis AI, namun belum sekomplet StoryKit.
Pakar parenting di Indonesia mengingatkan bahwa esensi bercerita bukan hanya pada konten, melainkan pada interaksi dan kedekatan emosional. Suara, ekspresi, dan improvisasi orang tua tidak bisa digantikan oleh AI. Apalagi, anak-anak sering kali meminta cerita yang sama berulang kali sebagai bentuk kenyamanan, sesuatu yang mungkin tidak dipahami oleh algoritma.
Dari sisi regulasi, Indonesia memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang mengatur pengumpulan data anak. Meta harus memastikan kepatuhan jika ingin merilis StoryKit di Indonesia. Selain itu, filter konten harus sensitif terhadap budaya lokal agar tidak melanggar norma.
Ke depan, Meta berencana memperluas uji coba StoryKit ke lebih banyak negara. Jika respons positif, bukan tidak mungkin aplikasi ini akan menjadi fitur bawaan di platform Meta lainnya. Namun, keputusan akhir tetap ada di tangan orang tua: apakah akan memanfaatkan teknologi ini atau tetap memegang tradisi bercerita manual.
Pada akhirnya, StoryKit adalah cermin dari ambisi Meta dalam mengintegrasikan AI ke setiap aspek kehidupan. Apakah ini akan memperkaya atau justru mengurangi kualitas pengasuhan anak, hanya waktu yang bisa menjawab.