Meta menegaskan bahwa sistem pengenalan wajah bernama NameTag untuk kacamata pintar Ray-Ban belum tersedia, meski kode fungsionalnya sempat tertanam di aplikasi Meta AI yang diunduh puluhan juta pengguna. Perdebatan soal keberadaan fitur itu mencuat setelah Wired mengungkap kehadiran kode tidak aktif dalam aplikasi pendamping tersebut pada 4 Juni lalu.
Andy Stone, Wakil Presiden Komunikasi Meta, merespons laporan tersebut melalui X dengan menyatakan fitur itu tidak ada. Pernyataan itu ia sampaikan sehari setelah Wired melaporkan temuan kode NameTag yang sudah muncul sejak Januari dan menjadi komponen inti pada Mei. Meta kemudian mencabut kode tersebut dari aplikasi Meta AI keesokan harinya.
Latar belakang teknis dari NameTag bermula dari pengembangan yang dimulai Meta pada awal 2025. Perusahaan melisensi perangkat lunak pengenalan wajah serta menyusun sistem pendeteksian dan pencocokan lengkap. Kode itu disebar ke tens jutaan ponsel pengguna aplikasi Meta AI, namun tidak dapat dioperasikan tanpa alat khusus.
Seorang peneliti yang menggunakan nama Buchodi mengulas kode tersebut atas permintaan Wired. Ia berhasil menjadikan sistem itu mengenali foto filsuf Michel Foucault, tokoh yang dikenal lewat tulisan tentang pengawasan sebagai instrumen kekuasaan. Keberhasilan itu memperlihatkan bahwa sistem secara teknis berfungsi di dalam aplikasi, kendati pengguna umum belum bisa mengaksesnya.
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer Meta, memberikan penjelasan rinci soal NameTag dalam podcast The Most Interesting Thing in AI pada 8 Juli. Saat ditanya siapa yang bakal dikenali fitur itu, Bosworth menjawab orang yang pernah bertemu langsung memakai kacamata dan memperkenalkan diri. Sistem hanya tersedia bagi pemakai kacamata saat berhadapan dengan orang yang pernah ditemui sebelumnya.
Meta berkeras tidak ada kontradiksi antara bantahan Stone dan paparan Bosworth. Juru bicara Ryan Daniels menekankan kata "would" dari ucapan Bosworth yang menyebut fitur itu "akan menjadi" fitur bagus, bukan sedang atau pasti tersedia. Menurut Meta, NameTag masih dalam tahap eksplorasi dan belum diluncurkan untuk konsumen.
Bagi pembaca di Indonesia, isu ini relevan mengingat kacamata Ray-Ban Meta mulai masuk pasar global dan bisa dibeli secara impor oleh konsumen domestik. Pengenalan wajah berbasis perangkat membawa pertanyaan soal perlindungan data biometrik yang belum diatur tegas dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi secara spesifik untuk wajah. Komparasi dengan aturan di Illinois dan Texas memperlihatkan celah hukum jika teknologi serupa disebar tanpa persetujuan eksplisit.
Dampak industri meliputi potensi pengawasan tanpa disadari di ruang publik. Di Indonesia, produk kacamata pintar serupa belum banyak, namun aplikasi dengan fitur pengenalan wajah seperti pembuka kunci ponsel sudah lazim. Perbedaannya, NameTag dirancang memindai wajah orang lain secara pasif melalui kamera kacamata, bukan pemilik perangkat.
Bosworth menegaskan NameTag tidak mengandalkan basis data terpusat. Wired menemukan sistem mengubah wajah dari kamera kacamata menjadi tanda numerik unik yang disebut faceprint. Faceprint itu dicocokkan dengan basis data lokal di ponsel yang diisi lewat server Meta.
Pembedaan antara basis data pusat dan jutaan basis data lokal terhubung server punya konsekuensi hukum. Undang-undang di beberapa negara bagian AS membatasi penyebaran teknologi pengenalan wajah publik dan mewajibkan persetujuan. Meta pernah menghentikan fitur Tag Suggestions di Facebook pada 2019 setelah penyelesaian 5 miliar dolar terkait masalah serupa.
Ke depan, Meta kemungkinan akan memperlambat peluncuran NameTag sampai kerangka hukum dan sosial siap. Bosworth menyebut fitur itu bisa membantu komunitas tunanetra mengenali orang yang pernah ditemui. Namun tekanan publik dan regulator bakal menentukan apakah kode yang kini ditarik itu kembali hadir dalam bentuk resmi.
Tren kacamata pintar dengan kemampuan AI diprediksi bertambah, termasuk dari pesaing Meta. Transparansi soal kode yang tertanam di aplikasi bakal jadi standar ekspektasi pengguna. Tanpa penjelasan jelas, perusahaan rentan dituding menutupi kapabilitas yang sebenarnya sudah siap pakai.