Apoorv Shankar, mantan wakil presiden hardware di Ultrahuman, kini memimpin babak baru dalam perlombaan antarmuka manusia-komputer. Startup yang ia dirikan, Aina, mengumumkan penggalangan dana sebesar $5,5 juta dalam putaran yang dipimpin oleh Redstart Labs (Infoedge, India) dan 360 ONE. Investor lain yang berpartisipasi adalah MIXI Global Investments, Antler, Blume Founders Fund, serta sejumlah investor individu seperti Kunal Shah (kepala WhatsApp), Harshil Mathur dan Shashank Kumar (pendiri Razorpay), dan Tikhon Bernstam (pendiri Scribd).
Uang segar ini akan digunakan Aina untuk mengembangkan perangkat yang tidak sekadar merekam aktivitas pengguna, tetapi benar‑benar mengendalikan agen AI. Produk pertama yang akan diluncurkan adalah Dune, sebuah keyboard makro tiga tombol yang sadar konteks. Perangkat kecil ini berfungsi sebagai keypad yang menjalankan pintasan yang telah ditetapkan sebelumnya, memungkinkan pengguna mengontrol mikrofon dan kamera saat rapat, serta menjalankan skrip atau pintasan berdasarkan aplikasi yang sedang digunakan. Dalam pengujian awal, tim menemukan bahwa Dune lebih unggul dibandingkan dua perangkat lain yang sedang dikembangkan, yaitu Radiance (remote meja untuk panggilan video dengan dial volume dan tombol kontrol mikrofon, kamera, notulis AI, modulasi suara, dan join meeting) dan Shift (tombol agentic satu ketuk yang terhubung ke ponsel). Karena itu, Dune dipilih sebagai produk pertama yang dikirim ke pasar.
Menurut Shankar, pelajaran yang dipetik dari ketiga perangkat tersebut akan menjadi dasar bagi produk berikutnya. Ia menegaskan bahwa perangkat baru ini tidak akan menjadi alat “penangkap konteks” pasif seperti cincin atau notulis rapat yang selalu mendengarkan, melainkan alat yang dirancang untuk mengendalikan dan invoking agen AI. “Saya rasa kita sudah memiliki cukup konteks di ponsel dan laptop kita, tetapi kita belum memanfaatkannya dengan baik. Kami membangun perangkat yang berorientasi pada tindakan dan menggunakan konteks tersebut untuk membantu pengguna mengontrol dan memicu alur kerja,” ujarnya.
Pasar antarmuka AI saat ini memang ramai dengan berbagai bentuk faktor. Mulai dari cincin (The Sandbar ring), pin (Plaud’s AI pin), kacamata pintar (Meta Ray‑Ban, Even Realities), hingga pucks berukuran kartu kredit (Pocket). Bee dan Friend mengambil jalur wearable, sementara Rabbit dan Humane Pin juga berupaya menarik perhatian pengguna. OpenAI baru‑baru ini merilis keypad khusus untuk Codex yang dibuat bersama Work Louder, dan Qualcomm dikabarkan sedang bereksperimen dengan lebih dari 40 perangkat untuk berinteraksi dengan AI. Belum ada pemenang yang jelas dalam hal form factor—ring, pin, kacamata, keypad, atau speaker—sehingga banyak taruhan hardware baru dan putaran pendanaan yang mengejar pertanyaan yang sama: bagaimana bentuk pengendalian AI dalam kehidupan sehari‑hari?
Di Indonesia, minat terhadap perangkat antarmuka AI tumbuh seiring dengan meningkatnya penggunaan alat bantu coding berbasis AI seperti Claude Code dan OpenAI’s Codex di kalangan pengembang dan pekerja knowledge. Beberapa startup lokal seperti KoinWorks dan Tokopedia telah bereksperimen dengan asisten virtual, tetapi perangkat keras yang benar‑benar mengendalikan agen AI masih langka. Jika Aina berhasil membawa konsep Dune ke pasar global, peluang bagi mitra lokal untuk mengadaptasi teknologi tersebut ke dalam bahasa dan ekosistem yang relevan di Indonesia akan terbuka lebar. Selain itu, kehadiran perangkat seperti ini dapat mempercepat adopsi AI di kalangan usaha kecil dan menengah yang membutuhkan otomatisasi tugas berulang.
Shankar, yang pernah memimpin LazyCo sebelum Ultrahuman mengakuisisi perusahaan tersebut, mengatakan, “Saya meninggalkan Ultrahuman tahun lalu karena saya sangat penasaran dengan ruang antarmuka AI. Perangkat seperti Rabbit dan Humane Pin telah diluncurkan, dan saya memiliki kekecewaan sendiri terhadap mereka. Namun, saya antusias melihat antarmuka menjadi tren saat ini. Sebagai insinyur yang beralih menjadi desainer produk, ini adalah hal paling menarik yang bisa saya bayangkan untuk dibangun.”
Aina berencana memulai pengujian dengan sekelompok kecil pengguna terpilih dalam beberapa minggu ke depan. Perangkat baru tersebut, yang belum diungkapkan detailnya, diharapkan dapat menjadi langkah maju dalam interaksi manusia‑AI yang lebih proaktif dan terarah. Dengan dukungan pendanaan yang kuat dan visi yang jelas, startup ini berpotensi menjadi pemain penting dalam membentuk masa depan perangkat keras yang berinteraksi dengan kecerdasan buatan.
Pendanaan $5,5 juta ini menjadi yang terbesar bagi Aina dan menempatkan startup tersebut di posisi strategis di tengah persaingan ketat. Redstart Labs, yang dikenal aktif di ekosistem startup India, membawa jaringan investor institusional yang dapat membantu Aina berekspansi ke pasar Asia selain India. Kehadiran investor individu seperti Kunal Shah dan Razorpay juga memberikan kredibilitas di kalangan komunitas teknologi Indonesia, yang mungkin tertarik untuk bermitra atau berinvestasi lebih lanjut.
Ke depannya, Aina tidak hanya akan fokus pada perangkat keras, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan pengembang membuat agen AI khusus untuk kebutuhan pengguna. Dengan basis pengguna awal yang memberikan umpan balik langsung, perusahaan dapat menyempurnakan algoritma pembelajaran kontekstual dan memperluas integrasi dengan platform produktivitas populer seperti Slack, Microsoft Teams, dan Notion. Jika sukses, perangkat buatan Indonesia atau yang dikembangkan bersama pasar lokal bisa menjadi standar baru dalam kolaborasi manusia‑AI.