Artificial Intelligence

Mantan Pencipta FaceID Apple Bangun AI Diagnosa Gangguan Otak

Ringkasan

  • Gidi Littwin, mantan perancang FaceID Apple, mengembangkan AI diagnosis otak di Hemispheric dengan data 100.000 sukarelawan dari Asia dan AS sejak 2020.

Gidi Littwin, co-inventor teknologi FaceID dan Vision Pro di Apple, kini memimpin startup Hemispheric yang berhasil mengumpulkan pendanaan 52 juta dolar Amerika. Perusahaan tersebut membangun model kecerdasan buatan tingkat lanjut untuk membaca aktivitas listrik otak manusia. Pendekatan ini bertujuan mendiagnosis gangguan kognitif tanpa prosedur invasif.

Produk pertama Hemispheric ditargetkan untuk studi PTSD dan akan diajukan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat pada awal tahun depan. Jika disetujui, alat tersebut dapat meluncur ke publik pada akhir 2027. Pasien cukup mengenakan headset EEG ringan selama 15 menit sambil berinteraksi dengan aplikasi tablet. Model AI kemudian membantu klinisi mendekode sinyal otak, menentukan intervensi paling efektif, serta memantau perkembangan pasca-perawatan.

Littwin meninggalkan Apple pada 2020 setelah mengembangkan FaceID dan sistem pelacakan tangan untuk Vision Pro. Pengalaman mengumpulkan ratusan ribu data subjek guna melatih model pembelajaran mendalam menjadi bekal penting. Hagai Lalazar, rekan pendiri Hemispheric, menghubunginya secara tiba-tiba melalui LinkedIn setelah menemui 75 kandidat lain. Lalazar telah merintis AI untuk mempelajari otak tanpa operasi dan mencari mitra berjiwa komersial.

Motivasi utama lahir dari keterbatasan metode medis saat ini. Dokter sebagian besar bergantung pada kuesioner subjektif dan observasi perilaku untuk mendeteksi depresi, Alzheimer, serta Parkinson. Setiap aktivitas otak individu bersifat unik, sehingga dibutuhkan alat objektif yang bisa membandingkan pola secara luas. Hemispheric menawarkan solusi lewat inferensi fungsi otak dari sinyal elektrik di dalam tengkorak.

Tim mengumpulkan apa yang disebut Littwin sebagai "harta berharga": 250.000 jam data otak dari 100.000 sukarelawan berbayar di berbagai wilayah Asia, Tel Aviv, dan Boston. Mereka melakukan serangkaian aktivitas bernuansa permainan yang mengaktifkan area otak berbeda. Data tersebut melatih model frontier yang bekerja mirip model bahasa besar, namun menganalisis aktivitas listrik secara statistik. Uji terhadap kelompok dengan PTSD, skizofrenia, dan depresi menunjukkan deduksi akurat soal kondisi neurologis mereka.

Di Indonesia, beban gangguan mental tercatat tinggi sementara jumlah psikiater sangat terbatas. Diagnosis masih mengandalkan wawancara klinis yang rentan bias. Kehadiran alat berbasis AI non-invasif seperti Hemispheric berpotensi menjembatani kekurangan tenaga ahli, terutama di wilayah dengan akses kesehatan minim. Namun teknologi ini belum tentu langsung sesuai karena variasi genetik dan lingkungan pasien lokal.

Regulasi kesehatan dalam negeri juga akan menentukan kecepatan adopsi. Alat neurodiagnostik harus melewati uji klinis dan sertifikasi Kementerian Kesehatan serta badan terkait sebelum dipakai secara luas. Data yang digunakan Hemispheric memang mencakup Asia, tetapi belum tentu merepresentasikan keragaman etnis Nusantara. Startup lokal perlu melakukan kalibrasi ulang agar model bekerja optimal di populasi Indonesia.

Dari sisi pengguna, visi Lalazar tentang perangkat semurah tes darah bisa mendemokratisasi skrining kesehatan mental. Klinik swasta, rumah sakit, hingga praktik psikolog dapat menyediakan pemeriksaan cepat. Kendati demikian, perlindungan data pribadi menjadi krusial. Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi mewajibkan pengelola informasi neurologis bersifat sensitif untuk menerapkan keamanan ketat guna mencegah penyalahgunaan.

Lalazar membayangkan masa depan di mana pemindaian otak setara dengan tes darah rutin. "Alat ini akan sangat murah; dapat dijual dan didistribusikan ke klinik kesehatan mental, rumah sakit, bahkan kantor psikolog," ujarnya. Harapan tersebut mendorong Hemispheric mengembangkan scanner otak sendiri yang diklaim lebih ramah pembelajaran mendalam dibanding EEG tradisional.

Littwin menegaskan perangkat EEG konvensional tidak dirancang untuk machine learning apalagi deep learning. "Alat tersebut tidak pernah dibangun untuk pembelajaran mesin dan tentu saja bukan untuk pembelajaran mendalam," katanya. Oleh karena itu, startup tersebut memilih merancak scanner baru guna menyediakan data lebih berguna bagi model AI mereka.

Studi klinis untuk diagnosis dan prediksi Alzheimer kini sedang digarap. Dana segar akan dipakai memperluas kemitraan dengan pemerintah, organisasi kesehatan, dan perusahaan farmasi. Hemispheric berencana mengumpulkan data otak dari jutaan orang demi menyempurnakan model. Persaingan ketat muncul seiring OpenAI dan Anthropic yang juga merambah layanan kesehatan.

Alat diagnosis berbantuan AI untuk kanker paru sudah dipakai di Eropa dan mempercepat penanganan. Model frontier otak Hemispheric berada di garis depan transformasi serupa bagi neurologi. Beberapa tahun ke depan menjadi penentuan apakah regulator dan pasar menerima dekode otak otomatis sebagai standar baru. Jika berhasil, cara manusia memahami gangguan kognitif akan berubah permanen.

Mengapa Ini Penting

Indonesia memiliki prevalensi gangguan mental yang meningkat, namun infrastruktur diagnosis neurologis masih tertinggal sehingga teknologi noninvasif berbasis AI dari luar negeri dapat memicu ketergantungan impor alat kesehatan. Keragaman populasi Nusantara menuntut kalibrasi data lokal yang belum tersentuh oleh Hemispheric, membuka peluang kolaborasi bagi startup health-tech domestik untuk membangun model serupa. Di sisi lain, penggunaan sinyal otak sebagai data sensitif akan menguji kesiapan enforcement UU PDP serta etika konsent pasien di tanah air. Tren ini juga dapat mempercepat reformasi regulasi alat kesehatan digital di BPOM jika masuk ke Indonesia.

Sumber Asli
Wired
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit