Keamanan Siber

Lorde Sindir Kacamata AI Meta: Tidak Seksi dan Rusak Privasi

Ringkasan

  • Di Madrid pekan lalu, penyanyi Lorde mengkritik kacamata AI Meta saat konser Mad Cool, menyebutnya ancaman privasi dan 'tidak seksi'.

Penyanyi asal Selandia Baru, Lorde, melontarkan kritik tajam terhadap kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) buatan Meta dan Ray-Ban saat pentas di Festival Mad Cool, Madrid, pekan lalu. Di hadapan penonton, ia menyoroti ancaman privasi serta menyebut perangkat tersebut sama sekali tidak menarik.

Ucapan Lorde tersebut menjadi catatan menarik karena berbeda dengan sejumlah selebritas yang justru mempromosikan produk serupa. Kylie Jenner, misalnya, diketahui menjadi wajah kampanye kacamata AI Meta, sementara Jennie dari Blackpink bertindak sebagai duta lini Ray-Ban Meta. Lorde tampil tepat sebelum Jennie di panggung yang disponsori Ray-Ban, mitra Meta.

Kacamata Ray-Ban Meta pertama kali meluncur sebagai hasil kolaborasi antara EssilorLuxottica dan perusahaan induk Facebook. Perangkat ini dilengkapi kamera tersembunyi, mikrofon, dan asisten AI yang memungkinkan pengguna merekam serta menganalisis lingkungan secara langsung. Meski Meta mengklaim telah menyematkan lampu indikator perekaman, pakar keamanan menyebutnya sebagai mimpi buruk privasi.

Popularitas kacamata tersebut ternyata tidak terbendung oleh kontroversi. EssilorLuxottica melaporkan penjualan lebih dari 7 juta unit kacamata AI Meta sepanjang 2025, melonjak tiga kali lipat dibanding gabungan penjualan 2023 dan 2024 yang hanya sekitar 2 juta unit. Angka tersebut mendorong Meta memperluas varian produknya.

Di balik angka penjualan, sejumlah tuntutan hukum menggantung di atas Meta. Salah satu gugatan menyebut pekerja kontrak di Kenya dipaksa menonton video grafis yang diambil dengan kacamata tersebut demi melatih model AI perusahaan. Meta membantah secara rinci tuduhan itu, namun penyelidikan privasi di berbagai negara terus berjalan.

Bagi pembaca di Indonesia, kehadiran kacamata AI semacam ini relevan meski Meta belum memasarkannya secara resmi. Produk tersebut mudah ditemukan melalui importir daring dan toko gadget di Jakarta maupun Surabaya. Ketidaktersediaan regulasi spesifik tentang perekaman visual di ruang publik membuat warga rentan terhadap surveilans tanpa izin.

Undang-Undang ITE mengatur tentang penyadapan dan penyalahgunaan data, namun penerapannya terhadap perangkat wearable masih abu-abu. Jika seseorang merekam orang lain tanpa persetujuan di kereta commuter atau kafe, korban kesulitan membuktikan pelanggaran karena kamera tidak selalu terlihat jelas. Kasus pelecehan dan pemerasan menggunakan kacamata pintar di luar negeri harus menjadi pelajaran.

Masyarakat Indonesia yang gemar mengadopsi tren teknologi global perlu meningkatkan literasi digital. Membeli gadget karena daya tarik selebritas seperti Jennie atau Kylie berisiko mengabaikan hak privasi orang lain. Edukasi konsumen tentang etika penggunaan kamera tersembunyi penting sebelum produk ini meluas di Tanah Air.

Lorde sendiri bukan pertama kali menyuarakan resistensi terhadap teknologi invasif. Ia pernah menulis tentang membuang ponselnya ke laut sebagai bentuk pembebasan dari distraksi digital. Dalam konser Madrid, ia menegaskan, 'Saya katakan untuk catatan, tolak kacamata itu. Jangan beli. Tidak seksi.' Ia menambahkan bahwa dunia kini semakin sulit membedakan realitas asli dari rekayasa.

Teks ucapan tersebut viral di media sosial dan mendapat dukungan dari pengguna yang resah terhadap erosi privasi. Jennie sebagai duta merek tampil sesudahnya, menciptakan kontras antara promosi korporat dan kritik artistik. Festival yang disponsori Ray-Ban memunculkan ironi tersendiri karena panggungnya digunakan untuk menolak produk mitranya.

Ke depan, Meta diprediksi tetap agresif memasarkan kacamata AI meski mendapat kecaman. Vanity atau daya tarik visual mungkin tidak cukup menahan laju penjualan, tetapi kesadaran privasi dari figur publik seperti Lorde dapat memengaruhi segmen konsumen kritis. Di Indonesia, otoritas terkait sebaiknya menyiapkan panduan distribusi dan penggunaan perangkat pengawasan mini.

Produsen lokal dan platform e-commerce juga memiliki peran mencegah penjualan bebas tanpa pengawasan. Jika tren kacamata pintar terus naik, masyarakat harus dibekali kemampuan mengenali indikator perekaman dan hak menolak difilmkan. Lorde mungkin menggunakan kata kasar, namun pesannya tentang kemanusiaan di era AI terasa jelas.

Mengapa Ini Penting

Meskipun Meta belum menjual resmi kacamata AI di Indonesia, peredaran via import membuat celah regulasi UU ITE teruji secara langsung. Masyarakat lokal masih minim literasi tentang perekaman terselubung di ruang publik yang dapat berujung pada pemerasan. Pemerintah dan e-commerce perlu menyusun panduan etik serta labeling khusus sebelum perangkat ini masuk pasar massal. Kritik publik figur seperti Lorde dapat menjadi katalis kesadaran privasi di kalangan konsumen muda Tanah Air.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit