Industri kendaraan otonom (AV) kini memasuki fase transformasi yang jauh lebih masif dibandingkan euforia tahun 2016. Data terbaru dari Trucks VC menunjukkan lonjakan signifikan dalam jumlah startup AV, dengan 81 perusahaan baru muncul sepanjang 2026. Angka ini mencatat kenaikan dua pertiga dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan bahwa ekosistem transportasi otonom sedang mengalami gelombang kedua yang lebih matang dan didukung oleh kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang lebih presisi.
Faktor utama di balik kebangkitan ini adalah transisi dari arsitektur sistem AV 1.0 menuju AV 2.0 yang berbasis pada model fondasi (foundation models). Puneeth Meruva dari Trucks VC menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan sistem end-to-end yang lebih efisien. Kemampuan model AI untuk menggeneralisasi berbagai skenario lingkungan membuat pengembangan perangkat lunak otonom menjadi lebih cepat dan hemat biaya. Kini, banyak startup mampu melakukan penyebaran sistem dalam hitungan bulan dengan modal kurang dari satu juta dolar Amerika.
Menariknya, dominasi robotaxi sebagai model bisnis utama kian menguat. Meskipun Waymo masih memegang kendali pasar global, banyak pemain baru yang mulai berani menantang dengan menyasar ceruk pasar spesifik atau rute regional tertentu. Strategi ini dianggap lebih realistis bagi pemain skala kecil untuk tetap kompetitif tanpa harus langsung berhadapan dengan raksasa industri di semua lini.
Selain sektor perangkat lunak, ekosistem pendukung manufaktur juga mencatat investasi jumbo. Re:Build, akselerator manufaktur berbasis di Massachusetts, berhasil mengumpulkan dana sebesar 2,1 miliar dolar AS untuk memperkuat produksi teknologi keras di Amerika Serikat. Langkah ini mencerminkan ambisi untuk membangun basis industri mandiri yang mampu melayani kebutuhan startup otonom secara lokal.
Di sisi lain, pergerakan korporasi besar turut mewarnai peta persaingan. Bedrock Robotics baru saja meraih pendanaan seri C senilai 600 juta dolar AS dengan valuasi mencapai 4,1 miliar dolar AS. Partisipasi investor papan atas seperti Temasek dan Nvidia dalam putaran ini menegaskan tingginya kepercayaan pasar terhadap masa depan teknologi otonom di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Namun, adopsi teknologi ini tidak berjalan tanpa hambatan. DoorDash, misalnya, mencatat bahwa integrasi agen AI dalam operasional pengiriman masih berada pada tahap awal dengan volume pesanan yang relatif kecil. Sementara itu, isu regulasi dan privasi data tetap menjadi tantangan besar, sebagaimana terlihat dari penyelesaian sengketa hukum GM terkait penjualan data lokasi pengemudi sebesar 220 juta dolar AS.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan sinyal penting mengenai arah mobilitas masa depan. Meskipun infrastruktur jalan raya di Indonesia memiliki tantangan geografis dan perilaku lalu lintas yang unik, perkembangan model AI yang lebih fleksibel dapat mempercepat riset otonom di tingkat lokal. Startup logistik Indonesia dapat mulai melirik teknologi ini untuk efisiensi rantai pasok di kawasan industri atau area terbatas.
Ketergantungan pada model open source seperti yang dikembangkan Nvidia atau Qwen sebenarnya membuka peluang bagi pengembang lokal untuk melakukan lokalisasi teknologi. Jika startup Indonesia mampu mengintegrasikan data perilaku berkendara lokal ke dalam model fondasi yang ada, potensi implementasi otonom di Indonesia bukan lagi sekadar impian jauh di masa depan.
Ke depan, kita akan melihat lebih banyak kolaborasi antara raksasa otomotif dan pengembang perangkat lunak. Kemitraan antara Rivian dan Volkswagen dalam pengembangan asisten AI merupakan contoh konkret bagaimana produsen kendaraan konvensional berusaha mengejar ketertinggalan teknologi. Tren ini kemungkinan akan berlanjut dengan fokus pada integrasi energi dan mobilitas cerdas.
Keberhasilan startup dalam menembus pasar otonom kini lebih ditentukan oleh kemampuan mereka dalam mengoptimalkan AI dibandingkan sekadar kekuatan modal. Dengan hambatan masuk yang semakin rendah, inovasi di sektor ini diprediksi akan terus meningkat, mengubah cara kita memandang transportasi dari sekadar alat pemindah menjadi pusat layanan berbasis data yang otonom dan efisien.