Ketegangan internal tengah melanda perusahaan teknologi raksasa Meta. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa unit Applied AI yang baru berusia tiga bulan kini berada di ambang pemberontakan. Suasana kerja yang tidak kondusif ini dipicu oleh kekecewaan mendalam dari para insinyur dan manajer produk yang merasa terjebak dalam penugasan yang tidak mereka inginkan.
Ketegangan memuncak dalam sebuah presentasi internal yang disiarkan langsung minggu ini. Seorang karyawan secara terbuka melakukan protes keras dengan melontarkan umpatan dan kritik tajam terhadap salah satu eksekutif senior Meta. Kejadian tersebut mencerminkan kemarahan yang telah lama terpendam di antara sekitar 6.500 karyawan yang ditugaskan untuk mendukung ambisi riset kecerdasan buatan perusahaan.
Banyak karyawan yang tergabung dalam unit ini mengaku dipindahkan secara sepihak melalui email mendadak. Proses rekrutmen internal ini digambarkan sebagai tindakan yang acak dan tidak transparan. Para karyawan merasa tidak memiliki pilihan lain selain bergabung dengan unit tersebut atau memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan, sebuah kondisi yang membuat mereka menjuluki diri sendiri sebagai 'wajib militer' atau draftees.
Meta mengambil langkah drastis ini karena model kecerdasan buatan mereka dinilai masih belum mampu mengungguli kemampuan manusia dalam tugas teknis seperti pemrograman. Perusahaan membutuhkan data pelatihan berupa contoh nyata dari cara manusia menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer. CEO Mark Zuckerberg dilaporkan lebih memilih menggunakan karyawan internal dibandingkan kontraktor pihak ketiga karena menganggap tingkat kecerdasan karyawan Meta jauh lebih tinggi.
Tugas yang dibebankan kepada para karyawan ini dinilai sangat monoton dan membosankan, seperti membuat teka-teki dan masalah pemrograman untuk melatih model AI. Salah satu karyawan secara blak-blakan menyebut unit ini sebagai 'gulag' karena beban kerja yang dianggap menghancurkan semangat. Keluhan serupa juga muncul terkait program pemantauan aktivitas keystroke dan klik karyawan yang dianggap melanggar privasi.
Menanggapi situasi yang kian memburuk, Chief Product Officer Meta, Chris Cox, dilaporkan telah melakukan panggilan internal untuk membahas lingkungan kerja yang dianggap 'brutal' oleh para staf. Meskipun demikian, moral karyawan di seluruh perusahaan tetap berada pada titik terendah. Hingga saat ini, pihak Meta belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan lingkungan kerja yang tidak manusiawi di dalam divisi Applied AI tersebut.