Artificial Intelligence

Klaviyo Beli Agency, Elias Torres Jadi CPO AI Agent

Ringkasan

  • Platform otomatisasi pemasaran Klaviyo mengakuisisi startup AI Agency milik Elias Torres dan menunjuknya sebagai Chief Product Officer untuk mengembangkan agen pemasaran dan dukungan pelanggan.

Klaviyo, platform otomatisasi pemasaran e-commerce yang tercatat di bursa, resmi mengakuisisi Agency, startup kecerdasan buatan berusia tiga tahun yang didirikan oleh serial entrepreneur Elias Torres. Nilai transaksi tidak diungkapkan, namun Agency sebelumnya telah mengumpulkan dana 32 juta dolar dari investor seperti Sequoia, Menlo Ventures, dan Felicis.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Torres akan bergabung dengan Klaviyo sebagai Chief Product Officer (CPO) dan memimpin tim 25 orang Agency. Ia akan mempercepat pengembangan dua agen AI milik Klaviyo: Composer yang membangun kampanye pemasaran, dan Customer Agent yang menangani dukungan pasca penjualan seperti pengembalian dan pelacakan pesanan.

Hubungan Torres dengan Andrew Bialecki, CEO dan co-founder Klaviyo, bermula lebih dari sepuluh tahun lalu. Pada 2010, Torres merekrut Bialecki — lulusan Harvard dua tahun sebelumnya — sebagai salah satu insinyur pertama di Performable, startup yang kemudian dibeli HubSpot. Torres membimbing Bialecki dalam dinamika startup tahap awal, dan Bialecki kemudian mendirikan Klaviyo setelah keluar dari Performable.

Ketika Klaviyo menggalang dana pertama pada 2015, Bialecki mengundang Torres menjadi investor angel. Hubungan mentor-mentee itu berkembang menjadi kemitraan strategis. Klaviyo lalu melakukan IPO pada September 2023 dengan valuasi 9,2 miliar dolar, meski sahamnya kemudian tertekan seiring koreksi pasar SaaS secara global.

Kedua pendiri percaya keunggulan data pelanggan yang dikumpulkan Klaviyo selama bertahun-tahun akan menjadi senjata utama menghadapi pesaing seperti Decagon dan Sierra. Data transaksional dan perilaku pembeli memungkinkan agen AI memberikan rekomendasi yang lebih kontekstual dan akurat dibanding solusi generik.

Bialecki menyatakan bahwa misi gabungan keduanya adalah menyediakan agen yang bisa diserahkan bisnis kepada pelanggan mereka. "Ini revolusi teknologi besar berikutnya: agen. Kumpulkan kembali tim, dan mari bangun," ujarnya saat diwawancarai TechCrunch.

Bagi ekosistem e-commerce Indonesia, akuisisi ini menandakan percepatan adopsi AI generatif dalam otomatisasi pemasaran dan layanan pelanggan. Platform lokal seperti Tokopedia, Shopee, maupun merchant UMKM yang menggunakan Klaviyo atau sejenisnya berpotensi memanfaatkan agen AI untuk mengurangi beban tim support dan meningkatkan konversi kampanye.

Startup Indonesia yang berkutat di ruang martech, misalnya Qontak, Mekari, atau KlikDokter, kini menghadapi tekanan kompetitif yang lebih tajam. Kehadiran agen AI yang terintegrasi dengan data transaksional mendorong pemain lokal untuk mempercepat pengembangan fitur serupa atau mencari kemitraan strategis.

Torres sendiri memiliki catatan keluar (exit) yang sukses: Performable dibeli HubSpot 2011, dan Drift — di mana ia menjabat CTO delapan tahun — terjual ke Vista Equity seharga 1,2 miliar dolar pada 2021. Pengalaman membangun dan menjual perusahaan skala besar memberi dia kredibilitas untuk memimpin ekspansi produk AI Klaviyo.

Langkah selanjutnya Klaviyo adalah mengintegrasikan teknologi Agency ke dalam platform inti dan meluncurkan fitur baru secara bertahap ke basis pelanggan 200 ribu bisnis, dengan target mencapai jutaan pengguna dalam dua tahun ke depan. Fokus utamanya adalah memastikan agen AI dapat belajar dari data unik setiap merchant tanpa memerlukan konfigurasi manual yang rumit.

Dengan penguatan tim produk dan kekayaan data transaksional, Klaviyo berposisi untuk menjadi standar de facto otomatisasi pemasaran berbasis AI di pasar global, termasuk Indonesia. Pergerakan ini juga mengisyaratkan tren konsolidasi di industri martech, di mana pemain besar mengakuisisi startup AI khusus untuk mempercepat time-to-market.

Mengapa Ini Penting

Akuisisi ini mempercepat matangnya agen AI yang siap pakai untuk pemasaran dan dukungan pelanggan, mengurangi hambatan teknis bagi merchant Indonesia yang selama ini bergantung pada tim manual. Data transaksional lokal yang kaya akan memungkinkan agen tersebut memberikan rekomendasi hyper-personalization tanpa perlu integrasi rumit. Pemain martech domestik harus segera membangun kemampuan AI serupa atau bermitra, jika tidak ingin tertinggal dari standar global yang ditetapkan Klaviyo. Jangka panjang, konsolidasi semacam ini bisa menurunkan biaya adopsi AI bagi UMKM Indonesia melalui paket SaaS yang lebih terjangkau.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
5 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit