Artificial Intelligence

Kebakaran Besar TPA Jatiwaringin Memicu Seruan Penghentian Open Dumping

Ringkasan

  • Kebakaran selama sembilan hari di TPA Jatiwaringin memicu seruan nasional mengakhiri praktik open dumping yang berbahaya.

TANGERANG, Banten – Kebakaran massif yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang lebih dari seminggu lalu telah mengungsikan lebih dari 200 warga dan memicu seruan nasional untuk mengakhiri praktik pembuangan sampah terbuka atau open dumping. Peristiwa yang bermula pada 30 Juni tersebut menghanguskan sekitar 15 hektare dari total 33 hektare area TPA, setara dengan 22 lapangan sepak bola. Asap beracun dan panas ekstrem memaksa ratusan keluarga mencari perlindungan di kantor desa Tanjakan Mekar yang sudah lapuk, dengan kondisi yang jauh dari layak.

Salah satu pengungsi, Fitriah (34), seorang ibu rumah tangga yang membawa dua anaknya, menceritakan sulitnya bernapas karena tenggorokan perih dan mata perih akibat haze. "Rasanya sangat sesak, anak-anak terus batuk," ujarnya. Di posko pengungsian, angin yang berubah arah acapkali membawa kabut toksik ke dalam ruangan. Malam hari menjadi sulit karena keluarga terbaring bersebelahan di matras tipis, cemas akan nasib rumah dan harta benda yang ditinggalkan. Kondisi ini memperlihatkan dampak kesehatan langsung dari kebakaran landfill yang sering kali mengandung dioksin dan partikulat berbahaya.

Upaya pemadaman melibatkan sekitar 300 petugas pemadam kebakaran dan relawan yang bekerja bergiliran selama beberapa hari. Sedikitnya 19 unit mobil pemadam, empat truk tangki air, dan tiga helikopter diterjunkan untuk menyemprotkan ribuan liter air dari darat maupun udara. Meski demikian, api baru bisa diisolasi sepenuhnya pada Kamis (9 Juli) pukul 19.30 WIB menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Madin (40), pekerja kebersihan setempat, mengaku tidak pernah melihat api sebesar ini, mengingat kebakaran sebelumnya biasanya padam dalam satu atau dua hari.

Kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran Jatiwaringin dan belum menyingkirkan kemungkinan kelalaian maupun pembakaran terbuka. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan bencana alam, melainkan kegagalan sistem pengelolaan sampah. Pada 5 Juli, ia menyatakan pemerintah menargetkan penghentian praktik open dumping di Indonesia pada akhir tahun ini. Pernyataan tersebut menambah tekanan pada pemerintah daerah untuk mempercepat modernisasi fasilitas pembuangan.

Pakar menilai kebakaran ini memperlihatkan urgensi perbaikan tata kelola landfill di tengah pesatnya pertumbuhan volume sampah. Faktor El Nino memperparah kekeringan yang memicu kebakaran serupa; pada 2023 tercatat 35 kebakaran TPA nasional, termasuk di Suwung, Bali, yang terbakar sebulan penuh. Mahawan Karuniasa, ahli teknik lingkungan Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa dekomposisi bahan organik menghasilkan metana yang sangat mudah terbakar, sementara cuaca ekstrem mengeringkan sampah dan menurunkan titik nyala. Wahyu Eka Styawan dari Walhi menambahkan bahwa selama metana terus dihasilkan di open dump, kebakaran bukan sekadar kemungkinan, melainkan inevitabilitas.

Data Kementerian Lingkungan Hidup menyebut lebih dari 340 dari 550 TPA di Indonesia masih mengandalkan open dumping, meski praktik itu dilarang sejak 2013. Jatiwaringin, yang menerima 1.200 ton sampah harian, sebelumnya sudah mendapat teguran. Pada Mei 2025, regulator memerintahkan penutupan sementara karena limbah cair merembes dan pembakaran terbuka oleh pemulung. TPA dibuka kembali Desember dengan janji konversi ke controlled landfill, namun transisi belum tuntas. Rizal Irawan, deputi penegakan hukum kementerian, mengakui sebagian area masih menggunakan sistem lama, yang menjadi bom waktu bagi bencana kebakaran.

Dari perspektif teknologi dan industri, tragedi ini mengindikasikan perlunya investasi pada sistem landfill sanitari dengan instrumentasi cerdas. Pemantauan suhu dan gas metana berbasis Internet of Things (IoT), serta penggunaan citra satelit untuk deteksi hotspot, dapat memberikan peringatan dini sebelum api meluas. Lebih jauh, pemanfaatan gas metana menjadi energi listrik (landfill gas-to-energy) akan mengurangi emisi sekaligus risiko kebakaran. Transformasi digital sektor lingkungan hidup menjadi krusial agar kejadian serupa tidak terus berulang di ratusan TPA lainnya.

Penutupan bertahap open dumping memang bukan tugas mudah karena butuh anggaran dan perubahan perilaku. Namun, kebakaran Jatiwaringin yang melukai warga dan merusak ekosistem adalah alarm yang tak bisa diabaikan. Penegakan regulasi, penguatan infrastruktur, dan adopsi teknologi pengelolaan sampah terintegrasi harus berjalan beriringan. Tanpa itu, Indonesia akan terus berada dalam lingkaran kebakaran TPA yang berulang setiap musim kemarau.

Mengapa Ini Penting

Kebakaran ini menunjukkan bahwa praktik open dumping bukan hanya masalah lingkungan, tetapi ancaman keselamatan publik yang dapat diantisipasi dengan teknologi pemantauan landfill berbasis sensor IoT dan citra satelit. Industri teknologi Indonesia memiliki peluang strategis mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran serta recovery metana menjadi energi bersih. Tanpa integrasi solusi digital dan engineering lingkungan, target penghentian open dumping sulit tercapai dan risiko tragedi serupa akan terus meningkat.

Sumber Asli
Channel News Asia
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit