Jakarta — Kebakaran yang menerjang kawasan permukiman padat di Pulogadung, Jakarta Timur, pada hari Minggu dini hari menewaskan tiga orang dan melukai satu warga lainnya. Insiden yang terjadi sekitar pukul 03.00 WIB itu melahap satu unit rumah tinggal yang juga berfungsi sebagai toko kelontong dan warung makan, menimbulkan kekhawatiran baru soal keamanan kebakaran di kawasan padat penghuni Ibukota.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pulogadung, Kompol Gomos Simamora, mengonfirmasi bahwa pihaknya masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran. "Masih dalam proses lidik untuk penyebab pasti kebakaran," ucapnya kepada wartawan. Ketiga korban tewas dievakuasi dalam kondisi tidak bernyawa dari dalam rumah yang menjadi titik api, sementara identitas korban masih dalam proses pendataan oleh petugas terkait. Seorang warga lain berhasil diselamatkan dengan luka-luka dan langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk penanganan medis.
Menurut data Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Sudin Gulkarmat) Kota Administrasi Jakarta Timur, api mulai melahap bangunan campuran kayu dan beton tersebut pada pukul 03.00 WIB. Unit pertama pemadam kebakaran tiba di lokasi empat menit kemudian, pukul 03.04 WIB. Total 14 unit armada damkar dengan kekuatan 60 personel dikerahkan untuk memadamkan api yang melambung tinggi di tengah kepadatan permukiman.
Petugas damkar menghadapi tantangan signifikan akibat akses jalan sempit yang khas kawasan padat penghuni, sehingga memerlukan strategi khusus untuk memasang selang dan menghalau api agar tidak menyebar ke rumah tetangga. Setelah hampir dua jam berjuang, api baru berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 05.00 WIB. Proses pendinginan (cooling down) pun dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api tersembunyi yang berpotensi menyulut kembali.
Berdasarkan dugaan sementara dari petugas di lapangan, titik asal api diduga berasal dari korsleting listrik pada salah satu stop kontak di rumah warga. Hal ini sejalan dengan pola kebakaran di Jakarta yang mayoritas disebabkan oleh faktor kelistrikan, terutama di kawasan permukiman lama dengan instalasi listrik yang sudah usang atau tidak memenuhi standar K3. Data Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta mencatat bahwa sepanjang 2023, lebih dari 60 persen kasus kebakaran di Jakarta disebabkan oleh korsleting dan kelalaian listrik.
Kawasan Pulogadung sendiri dikenal sebagai area industri dan permukiman padat dengan karakteristik jalan-jalan sempit, banyaknya sambungan listrik liar (octopus), serta kepadatan bangunan yang saling menempel. Kondisi ini menciptakan risiko tinggi terjadinya kebakaran massal (conflagration) jika penanganan tidak cepat. Kejadian ini mengingatkan kembali pada kebakaran di kawasan serupa seperti di Tanah Abang dan Palmerah yang juga menewaskan korban jiwa pada bulan-bulan sebelumnya.
Pakar keselamatan kebakaran, Dr. Ir. Bambang Sulistyo dari Institut Teknologi Bandung, menilai bahwa mitigasi kebakaran di kawasan padat penghuni memerlukan pendekatan sistemik, tidak hanya andal pada damkar. "Diperlukan pemetaan risiko berbasis GIS, penataan kabel udara, serta penyediaan hydrant dan akses darurat yang memadai. Partisipasi masyarakat melalui K3LL (Kelompok Kesadaran Lingkungan) juga krusial untuk deteksi dini," ujarnya saat dihubungi terpisah.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil berkoordinasi dengan Kelurahan Pulogadung untuk mengurus dokumen korban serta bantuan sosial bagi keluarga ditinggalkan. Tim Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Kelurahan juga melakukan pendataan kerugian material untuk mengajukan bantuan rehabilitasi rumah. Kasus ini menjadi momentum bagi pihak berwajib untuk memperketat inspeksi rutin instalasi listrik di kawasan rawan, serta mengedukasi warga soal protokol evakuasi darurat demi mencegah tragedi serupa di masa depan.