Pim Sullivan-Tailyour baru berusia enam tahun ketika melihat gunung di selatan Thailand terukur habis, meninggalkan bekas tambang terbuka berwarna oranye yang menakutkan. Kenangan ibunya yang pernah berenang di sungai jernih — kini keruh akibat eksploitasi — menanamkan kesadaran dini bahwa aktivitas manusia merusak planet. Puluhan tahun kemudian, saat tinggal di Inggris, ia merasa sendirian dalam gerakan lingkungan di sekolahnya hingga menemukan Force of Nature, platform daring yang mengubah kecemasan iklim menjadi energi untuk bertindak.
Kisah Pim merepresentasikan generasi yang tumbuh bukan hanya di bawah bayangan pemanasan global, melainkan dalam apa yang para ahli sebut "polikrisis": tumpang tindih krisis iklim, pandemi, ancaman nuklir, kenaikan biaya hidup, polarisasi politik, ketidakpastian lapangan kerja akibat AI, dan banjir informasi di media sosial. Survei landmark Lancet Planetary Health 2021 melibatkan 10.000 remaja di 10 negara menunjukkan 60 persen responden sangat atau sangat khawatir tentang perubahan iklim, sementara 45 persen mengakui kecemasan itu mengganggu fungsi harian.
Istilah "eco-anxiety" telah lama dikenali American Psychological Association sebagai "ketakutan kronis terhadap kiamat lingkungan". Psikiater Lise Van Susteren menamainya "pre-traumatic stress" — trauma anticipatori atas bencana yang belum terjadi. Namun peneliti Polandia pada 2025 mencoba memperluas kerangka itu dengan konsep "polikrisis syndrome". Menggunakan skala Flourishing Index dan Difficulties in Emotional Regulation Scale, mereka menemukan lebih dari 60 persen remaja melaporkan kesulitan mengatur emosi, gejala depresi, dan menurunnya kesejahteraan fisik-mental akibat tekanan kumulatif urusan dunia.
Force of Nature, yang meluncurkan program "Becoming a Force of Nature" pada 2021, hadir menjawab kebutuhan ruang berbagi yang aman. Melalui sesi Zoom lintas negara, ribuan peserta muda menemukan validasi perasaan mereka. "Sadari aku tidak sendirian," ucap Pim setelah pertemuan pertamanya. Organisasi ini kini tidak lagi memisahkan iklim dari krisis lain, melainkan memperlakukan keduanya sebagai sisi yang sama dari realitas yang patah.
Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat. Komunitas seperti Muda Mudi Iklim, Youth Climate Action Network Indonesia, hingga forum diskusi di Discord dan WhatsApp menjadi wadah remaja berbagi kekhawatiran — dari banjab rob di pesisir hingga kecemasan soal prospek kerja di era AI. Survei Yayasan Pulih 2023 mencatat peningkatan konsultasi kesehatan mental remaja terkait isu lingkungan dan ketidakpastian masa depan sebesar 38 persen dibanding dua tahun sebelumnya.
Namun, para psikolog seperti Liza Jachens dari Universitas Nottingham mengingatkan: bukti ilmiah efektivitas jaringan-dukungan sebaya ini masih minimal. "Kita butuk evaluasi ketat agar sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan tahu program mana benar-benar membantu," katanya. Tanpa metrik yang jelas, risiko duplikasi upaya atau bahkan retraumatisasi melalui sharing tanpa facilitasi profesional tetap ada.
Sisi lain, kehadiran platform digital justru memperparah paparan berita negatif 24 jam. Algoritma media sosial cenderung memperkuat ruang gema polarisasi, membuat remaja tersandung konten krisis berulang tanpa filter. Force of Nature dan sejenisnya berusaha memecah siklus itu dengan kurasi konten, moderasi terlatih, dan framework "dari kecemasan ke aksi" — namun skala jangkauan mereka masih terbatas dibanding puluhan juta pengguna TikTok atau Instagram.
Pemerintah Indonesia telah meluncurkan program Sehat Jiwa Remaja di Puskesmas, namun integrasi isu polikrisis ke dalam kurikulum konseling sekolah masih langkah awal. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak baru-baru ini menyusun modul psikoedukasi berbasis krisis iklim, namun pelaksanaan di daerah belum merata. Kolaborasi dengan komunitas muda berbasis teknologi bisa menjadi jembatan yang diperlukan.
Para peneliti menyarankan pendekatan "whole school approach" di mana guru, konselor, dan orang tua dilatih mengenali tanda-tanda polikrisis syndrome. Di Finlandia, model ini telah teruji menurunkan tingkat kecemasan siswa melalui integrasi pendidikan emosional ke pelajaran rutin. Indonesia bisa mengadaptasi model serupa dengan memanfaatkan jaringan Posyandu Remaja dan Karang Taruna yang sudah ada di tingkat kelurahan.
Masa depan jaringan dukungan ini bergantung pada tiga hal: standardisasi pengukuran dampak, pendanaan berkelanjutan yang tidak bergantung pada hibah sukarela, dan pengakuan formal dari sistem pendidikan serta kesehatan. Force of Nature kini bermitra dengan universitas untuk mengembangkan protokol evaluasi berbasis bukti — langkah yang jika sukses bisa menjadi templat global.
Bagi generasi Pim dan jutaan remaja Indonesia, polikrisis bukan abstrak. Ia hadir dalam hujan yang tak musiman, lowongan kerja yang menghilang, dan notifikasi berita menakutkan di genggaman tangan. Jaringan dukungan daring bukan solusi tunggal, tapi menjadi bukti nyata: solidaritas sebaya bisa menjadi pelabuhan saat badai dunia tak henti berputar.