Teknik pembuatan logam yang digunakan manusia saat ini pada dasarnya tidak banyak berubah sejak Zaman Perunggu, yakni dengan mencairkan berbagai logam dalam wadah untuk kemudian dicampur. Namun, sebuah startup tahap awal bernama Foundation Alloy kini mendobrak pakem tersebut dengan mengembangkan teknik pemaduan logam yang tidak lagi mengandalkan proses peleburan. Alih-alih mencairkan material, perusahaan ini menggunakan metode 'menumbuk' partikel bubuk logam secara bersamaan untuk menghasilkan properti material yang sebelumnya mustahil dicapai.
Jake Guglin, salah satu pendiri sekaligus CEO Foundation Alloy, menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan mereka menciptakan struktur logam yang unggul dibandingkan metode tradisional. Saat ini, perusahaan tengah menjalankan proyek percontohan dengan berbagai industri besar, mulai dari otomotif, kedirgantaraan, semikonduktor, hingga pertahanan. Selain sektor industri berat, material hasil olahan mereka juga diminati oleh produsen barang konsumsi kelas atas, seperti pisau koki profesional dan jam tangan mewah.
Untuk mendukung ekspansi bisnisnya, Foundation Alloy baru saja berhasil menggalang pendanaan Seri A senilai 22 juta dolar AS yang dipimpin oleh Voyager Ventures. Putaran pendanaan ini juga diikuti oleh sejumlah investor strategis seperti Yamaha Motors, Trust Ventures, dan Kanematsu Corporation. Khusus untuk Kanematsu, kemitraan ini juga mencakup rencana distribusi material inovatif tersebut ke pasar Jepang dan Asia Tenggara, menandakan potensi penetrasi pasar yang luas di masa depan.
Teknologi yang diusung Foundation Alloy merupakan hasil dari riset ilmiah intensif selama dua dekade terakhir. Fokus utamanya adalah memahami perilaku logam pada skala nanometer, sebuah upaya yang dipelopori oleh Tim Rupert dan Chris Schuh. Schuh sendiri bukanlah sosok baru dalam dunia startup teknologi material, mengingat ia sebelumnya telah mendirikan perusahaan ternama seperti Desktop Metal dan Xtalic. Keahlian mendalam di tingkat molekuler inilah yang menjadi fondasi utama dari inovasi solid-state mereka.
Proses kerja perusahaan melibatkan penggunaan mesin penggiling khusus yang secara berulang menumbuk bubuk logam hingga menyatu menjadi material baru. Dengan menghindari proses peleburan, Foundation Alloy mengklaim dapat menghemat konsumsi energi secara signifikan—sekitar satu orde magnitudo lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Efisiensi ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga secara drastis mengurangi limbah material yang dihasilkan dalam proses manufaktur logam.
Secara teknis, tujuan akhir dari proses pemaduan adalah menciptakan struktur kristal berskala molekuler yang homogen. Metode tradisional sering kali menyisakan rongga atau ketidaksempurnaan yang membuat logam menjadi rapuh atau kurang tahan terhadap panas. Selain itu, teknik konvensional memiliki keterbatasan dalam mencampur logam dengan titik lebur yang sangat berbeda. Teknologi solid-state milik Foundation Alloy mampu mengatasi batasan tersebut, membuka peluang terciptanya kelas material baru dengan karakteristik fisik yang jauh lebih tangguh untuk kebutuhan industri masa depan.