Anthropic, startup AI yang didukung Amazon dan Google, tengah menjadi sorotan media sosial dan industri teknologi pasca rilis video kampanye "Hard Questions" minggu lalu. Iklan berdurasi 60 detik itu menampilkan deretan batu nisan dan pemandangan pemakaman sunyi sambil menyoroti pertanyaan-pertanyaan etis seputar kecerdasan buatan. Alih-alih membangun kepercayaan, visual gelap tersebut justru memicu reaksi negatif masif dari penonton dan profesional industri.
Kritik tajam datang dari berbagai kalangan, mulai dari peneliti AI, jurnalis teknologi, hingga pengguna biasa di platform X dan LinkedIn. Banyak yang menilai estetika video mirip film thriller konspirasi era 1970-an, menciptakan asosiasi negatif yang justru merusak citra merek. Beberapa komentar paling populer menyebut iklan itu "sinis", "menggelisahkan", dan "tidak peka" terhadap sentimen publik yang sudah cemas soal risiko AI.
Latar belakang kampanye ini adalah upaya Anthropic memposisikan diri sebagai pemimpin keamanan AI di tengah persaingan ketat dengan OpenAI, Google DeepMind, dan xAI. Sejak meluncurkan model Claude 3 pada Maret 2024, perusahaan yang dipimpin Dario Amodei ini agresif menonjolkan pendekatan "Constitutional AI" — kerangka etika yang melatih model menolak permintaan berbahaya tanpa intervensi manusia real-time. Iklan "Hard Questions" dirancang sebagai manifestasi transparansi tersebut.
Namun eksekusi visualnya meleset. Pemilihan latar pemakaman ditafsirkan sebagai metafora kematian umat manusia akibat AI yang keluar kendali — narasi yang justru dijauhi oleh perusahaan AI lain. OpenAI misalnya cenderung menggunakan visual bersih, minimalis, dan futuristik dalam komunikasi publik. Google DeepMind memfokuskan narasi pada manfaat ilmiah seperti penemuan obat dan prediksi cuaca. Anthropic malah memilih jalur apokaliptik.
Puncak kontroversi terjadi saat Sam Altman, CEO OpenAI dan rival langsung Amodei, mengejek iklan tersebut di akun X-nya. "Aku kira ini parodi," tulis Altman di postingan yang dilihat jutaan kali. Ia menambahkan kritik tajam soal keandalan Anthropic, mengutip keluhan pengembang tentang "downgrade performa diam-diam" dan akses model yang tidak konsisten. Sindiran ini memicu perdebatan panas di komunitas pengembang soal kredibilitas kedua perusahaan.
Di sisi lain, Anthropic mempertahankan posisi. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan kampanye ini bagian dari komitmen jangka panjang untuk "melacak dan menjawab pertanyaan sulit dampak AI pada masyarakat" secara terbuka. Mereka mengklaim video dirancang memprovokasi diskusi, bukan menakut-nakuti. Namun banyak analis menilai strategi ini naif — publik umum tidak membedakan antara provokasi intelektual dan fear-mongering.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, kontroversi ini menawarkan pelajaran penting. Sejumlah startup AI lokal seperti Nodeflux, Kata.ai, dan Bahasakita kini mulai mengeksplorasi model bahasa besar dan keamanan AI. Kasus Anthropic menunjukkan betapa sensitifnya komunikasi soal risiko teknologi di era di mana kepercayaan publik rapuh. Satu kesalahan messaging bisa menghapus bulan-bulan upaya membangun reputasi.
Kendati demikian, beberapa pakar keamanan AI di Indonesia justru melihat sisi positif. "Setidaknya Anthropic berani membuka diskusi keras secara publik," ujar Dr. Bens Pardamean, Direktur Bioinformatics & Data Science Research Center Universitas Bina Nusantara. "Di Indonesia, pembahasan AI safety masih minim. Kasus ini bisa jadi momentum untuk mendorong regulasi dan standar etika yang lebih matang."
Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika, investasi AI di Indonesia tumbuh 47% tahun 2023, mencapai Rp 1,2 triliun. Dengan pertumbuhan itu, kebutuhan akan kerangka keamanan dan etika AI semakin mendesak. Kontroversi Anthropic mengingatkan bahwa teknologi canggih harus dibarengi narasi yang bertanggung jawab — bukan hanya soal apa yang bisa dilakukan AI, tapi bagaimana masyarakat mempercayainya.
Ke depan, Anthropic diharuskan mengevaluasi strategi komunikasinya. Beberapa insider mengabarkan tim pemasaran sedang menyiapkan video lanjutan dengan nada lebih konstruktif. Sementara itu, persaingan dengan OpenAI semakin memanas — OpenAI baru saja meluncurkan GPT-4o dengan kemampuan multimodal real-time, sedangkan Anthropic bersiap rilis Claude 3.5 Opus. Perang narasi keamanan AI baru saja dimulai.