Hyundai bersiap mengambil alih kepemilikan penuh Boston Dynamics dari Softbank setelah sebelumnya membeli 80% saham pada 2020. Menurut Bloomberg, perusahaan Korea ini kini meninjau hak dan kewajibannya sebelum membeli sisa saham Softbank senilai 9,9% atau sekitar $325 juta. Jika akuisisi berhasil, Hyundai akan memiliki 100% Boston Dynamics.
Langkah ini dianggap sebagai peluang besar bagi Hyundai karena industri bergeser ke pengembangan produk kecerdasan buatan fisik. Hyundai menyatakan ingin membangun rantai AI robotika end-to-end, mempercepat pengembangan, validasi, dan komersialisasi teknologi Physical AI dan solusi robotika.
Boston Dynamics telah mengembangkan robot Atlas yang semakin matang. Di CES awal tahun ini, perusahaan memamerkan versi siap produksi setelah bertahun-tahun pengujian, bahkan membuat robot tersebut menari dalam video promosi. Baru-baru ini, Atlas tampil di FIFA World Cup, berjalan di terowongan pemain dan menyerahkan bola pertandingan kepada wasit.
Hyundai bermitra dengan NVIDIA dan Google DeepMind dalam pengembangan Atlas. Rencananya, produksi Atlas akan dimulai di pabrik Georgia pada 2028, dengan target hingga 30.000 unit robot humanoid per tahun.
Awalnya, robot Atlas akan mengerjakan tugas sederhana seperti logistik dan pengelasan. Namun, Boston Dynamics memperkirakan pada 2030 robot tersebut dapat digunakan untuk proses manufaktur dan perakitan komponen yang lebih kompleks.
Dari perspektif Indonesia, industri manufaktur dan logistik sedang mencari otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi. Adopsi robot seperti Atlas dapat menjadi alternatif bagi perusahaan yang ingin mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, meski harga dan kompleksitas integrasi masih menjadi pertimbangan.
Indonesia memiliki beberapa startup robotika seperti Kobot, namun mereka belum memproduksi robot humanoid berskala besar. Kehadiran Atlas di pasar regional bisa mendorong munculnya ekosistem robotika lokal yang lebih kuat, dengan potensi kolaborasi atau lisensi teknologi.
"Melalui pendekatan terintegrasi ini, grup bertujuan mempercepat pengembangan, validasi, dan komersialisasi teknologi Physical AI dan solusi robotika," kata Hyundai kepada Bloomberg.
Analis melihat langkah Hyundai sebagai sinyal bahwa perusahaan otomotif semakin serius memasuki sektor robotika. Hal ini mencerminkan tren industri 4.0 yang lebih luas, di mana manufaktur tradisional bertransformasi melalui kecerdasan buatan dan automasi fisik.
Selanjutnya, Hyundai mungkin akan menyesuaikan Atlas dengan kebutuhan pasar Asia, termasuk menyesuaikan bentuk robot untuk ruang kerja yang lebih sempit dan iklim tropis. Kolaborasi dengan mitra lokal atau universitas di Indonesia bisa menjadi langkah awal untuk adaptasi regional.
Prospek jangka panjangnya adalah robot humanoid menjadi bagian dari tenaga kerja di sektor manufaktur, logistik, dan bahkan layanan. Jika target produksi 30.000 unit tercapai, harga robot per unit kemungkinan akan turun, sehingga membuatnya lebih terjangkau bagi perusahaan menengah di Indonesia.