Artificial Intelligence

Gua Liangkabori Jadi Cagar Budaya Nasional: Lukisan Purba 67.800 Tahun Pecahkan Rekor

Ringkasan

  • Kemenbud RI menetapkan Gua Liangkabori dan Liang Metanduno sebagai cagar budaya nasional menyusul temuan lukisan purba tertua dunia berusia 67.800 tahun.

Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi memasukkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, ke dalam daftar Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa seluruh tahapan sidang penetapan oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional telah selesai dilaksanakan pada pekan lalu, dan pengumuman resmi akan dilakukan pada awal Agustus mendatang. Penetapan ini menjadi tonggak penting karena memberikan perlindungan hukum maksimal terhadap salah satu warisan budaya tertua di Nusantara.

Kawasan Muna memang telah lama dikenal sebagai kunci memahami awal peradaban manusia di Asia Tenggara. Gua Liangkabori dan Liang Metanduno menyimpan tinggalan berupa lukisan cadas yang merekam ekspresi visual purba. Kehadiran festival tahunan seperti Festival Liangkabori ke-4 pada 2026 menunjukkan komitmen lintas generasi dari pemerintah daerah hingga pemangku adat dalam merawat ruang cadas tersebut. Apresiasi setinggi-tingginya pun disampaikan menteri kepada Provinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Muna, Desa Liangkabori, serta seluruh komunitas budaya yang terlibat.

Sorotan global terhadap Liang Metanduno bermula dari publikasi riset kolaboratif pada 22 Januari 2026 yang melibatkan perguruan tinggi dalam dan luar negeri, Griffith University Australia, serta Balai Pelestarian Kebudayaan. Hasil pengujian saintifik dengan metode laser ablation uranium-series membuktikan bahwa bidang pigmen visual purba berukuran 14 x 10 cm di gua tersebut berusia minimal 67.800 tahun. Atas temuan ini, Guinness Book of Records 2026 mencatatkannya sebagai lukisan gua non-figuratif tertua di dunia, mengungguli rekor sebelumnya di Leang Karampuang, Maros Pangkep, Sulawesi Selatan yang berusia 51.200 tahun.

Temuan di Muna tersebut secara mengejutkan lebih tua 1.100 tahun dari batas minimum cap tangan purba di Maltravieso, Spanyol yang dikaitkan dengan Neanderthal, serta jauh melampaui usia lukisan dinding legendaris Gua Chauvet (30.000-32.000 tahun) dan Lascaux (17.000 tahun) di Prancis. Fakta arkeologis ini mendobrak anggapan bahwa pusat peradaban dan seni rupa purba berada di Eropa. Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa bukti di Muna yang membentang lebih dari 2.700 generasi sangat berpotensi menantang dominasi teori migrasi tunggal Out of Africa.

Perspektif kolonial selama ini kerap menempatkan Nusantara sebagai wilayah yang relatif muda secara kronologis dan hanya menerima pengaruh dari Barat. Dengan bukti arkeologis yang kokoh, Indonesia kini memiliki dasar ilmiah untuk mengajukan narasi migrasi manusia yang bersifat dwi-arah atau multiple traffic. Bahkan, muncul wacana mengenai kemungkinan Out of Nusantara maupun Out of Sulawesi, di mana kepulauan ini berperan sebagai salah satu pusat penyebaran Homo sapiens modern ke belahan dunia lainnya.

Untuk mengoptimalkan perlindungan fisik situs dari degradasi akibat perubahan iklim, Kemenbud berkomitmen membangun Pusat Informasi Lukisan Purba di Kepulauan Muna melalui kantor kementerian di Sulawesi Tenggara. Langkah strategis lainnya adalah pendokumentasian menyeluruh seluruh lukisan cadas prasejarah di Muna, Maros Pangkep, Kalimantan, hingga Raja Ampat ke dalam buku komprehensif. Replika visual berskala tinggi juga akan menghiasi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai etalase edukasi publik.

Konteks ancaman terhadap situs purba perlu mendapat perhatian serius. Selain perubahan iklim yang mempercepat pelapukan batuan kapur, aktivitas pertambangan di sekitar gua purba kerap memicu kerusakan struktural. Penetapan status cagar budaya nasional ini diharapkan dapat menghalau eksploitasi yang tidak terkendali dan memastikan proses penelitian berjalan dengan protokol konservasi ketat. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan akademisi menjadi kunci keberlanjutan.

Dari sudut pandang keilmuan, pengakuan internasional terhadap lukisan non-figuratif tertua di Muna membuka peluang Indonesia memimpin riset arkeologi regional. Kerja sama lintas negara seperti dengan Australia dapat diperluas ke penggunaan teknologi pemindaian digital, analisis DNA kuno, dan pelestarian berbasis komunitas. Hal ini sejalan dengan upaya menempatkan Sulawesi sebagai laboratorium sejarah manusia purba yang setara dengan Afrika atau Eropa.

Masyarakat luas tentu menantikan pengumuman resmi awal Agustus sebagai momen legalitas pelindungan. Dengan status cagar budaya nasional, pengelolaan kawasan Gua Liangkabori akan didukung anggaran dan regulasi yang lebih terstruktur. Semoga pencapaian ini memicu kebanggaan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta arkeologi dunia masa depan.

Mengapa Ini Penting

Penetapan ini mendorong adopsi teknologi dokumentasi digital seperti pemindaian laser dan kecerdasan buatan untuk pelestarian cagar budaya di Indonesia. Bagi industri teknologi lokal, peluang pengembangan museum virtual dan replika augmented reality dapat membuka pasar baru di sektor pariwisata edukatif. Selain itu, data arkeologi presisi tinggi memperkuat posisi Indonesia dalam kolaborasi sains global yang mengandalkan komputasi dan analitik big data. Implikasi jangka panjang adalah dorongan terhadap kedaulatan data kebudayaan yang tidak lagi bergantung pada narasi Barat.

Sumber Asli
ANTARA
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit