Google meluncurkan pembaruan untuk layanan Google Vids yang memungkinkan pengguna menciptakan avatar digital berwajah dan bersuara sendiri. Fitur ini resmi diumumkan pada Kamis (16/7/2026) waktu Pasifik, dengan memanfaatkan satu foto selfie dan rekaman suara yang diunggah pengguna.
Pengguna cukup mengunggah satu gambar wajah dan sampel suara untuk membentuk representasi digital yang menyerupai penampilan serta intonasi aslinya. Selain avatar personal, Google juga memasukkan model kecerdasan buatan multimodal Gemini Omni ke dalam Vids. Model tersebut menerima kombinasi perintah tertulis dan gambar referensi untuk menghasilkan video sesuai keinginan pengguna.
Gemini Omni tidak hanya membuat video dari nol. Ia mampu mengganti latar belakang, memperbaiki pencahayaan pada rekaman ponsel, serta menyisipkan efek tambahan. Kehadiran fitur penyuntingan bertahap memungkinkan pengguna mengubah bagian tertentu tanpa harus membuat ulang seluruh video dari awal.
Pembaruan ini mengubah posisi Google Vids yang awalnya dirancang sebagai alat bantu presentasi di ruang kerja menjadi platform pembuat video serbaguna. Google menempatkan Vids di dalam ekosistem Google Workspace sehingga penggunaan utamanya menyasar kebutuhan bisnis, seperti pembaruan perusahaan dan video pelatihan karyawan.
Langkah ini diambil di tengah redupnya ketersediaan alat serupa dari pesaing. OpenAI menutup layanan Sora, sementara Google melihat peluang untuk mengisi ceruk alat video berbasis AI yang melibatkan kemiripan wajah pengguna. Minat terhadap konten video personal diperkirakan tetap tinggi meski beberapa platform pesaing telah berhenti beroperasi.
Bagi pengguna di Indonesia, fitur ini berpotensi mengubah cara tim pemasaran dan divisi sumber daya manusia membuat materi internal. Perusahaan lokal yang selama ini menggunakan layanan seperti HeyGen atau Synthesia dapat beralih ke Vids jika integrasi Workspace dirasa lebih efisien. Persaingan antarpenyedia alat video AI pun makin ketat di pasar Asia Tenggara.
Kendati demikian, ketersediaan avatar personal dibatasi untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas di wilayah tertentu. Google belum merilis daftar lengkap negara yang mendapat akses, sehingga pengguna Indonesia perlu menunggu konfirmasi resmi mengenai ketersediaan fitur tersebut di tanah air.
Google menyatakan avatar AI akan terikat dengan akun dan kemiripan pemilik akun tersebut. Setiap hasil video diberi tanda air tak terlihat melalui teknologi SynthID guna mencegah penyalahgunaan wajah seseorang. Pembatasan ini menutup celah pembuatan video palsu yang meniru tokoh publik, seperti yang sempat terjadi pada layanan Sora milik OpenAI.
Menurut Sarah Perez, reporter TechCrunch yang telah meliput teknologi sejak 2011, pembaruan Vids menempatkan Google dalam posisi lebih dekat melawan startup video AI seperti Captions dan D-ID. Ia mencatat bahwa penyuntingan bertahap menjadi nilai tambah yang membedakan Vids dari alat lain yang mewajibkan pembuatan ulang jika terjadi kesalahan.
Di sisi keamanan, penanda SynthID menjadi bagian penting mengingat maraknya penyalahgunaan deepfake di Asia. Beberapa negara di kawasan telah mengusulkan regulasi ketat terkait konten sintetis, dan langkah Google sejalan dengan arah kebijakan tersebut.
Ke depan, Google kemungkinan akan memperluas akses regional secara bertahap sembari memantau respons pengguna terhadap kualitas avatar. Jika adopsi di lingkungan bisnis tercatat stabil, Vids dapat menjadi standar baru untuk produksi video perusahaan dengan biaya rendah. Tren pembuatan konten visual tanpa kamera fisik diproyeksikan terus tumbuh seiring matangnya teknologi multimodal.