Google mengumumkan lonjakan pengguna aktif aplikasi Gemini di Asia Tenggara yang menembus angka lebih dari dua kali lipat dalam kurun setahun terakhir. Pertumbuhan tersebut mencatat rekor sebagai yang tercepat dibanding peluncuran aplikasi Google lainnya di kawasan, sekaligus menempatkan Gemini sebagai asisten kecerdasan buatan paling banyak digunakan di Indonesia, Thailand, dan Vietnam.
Laporan perdana Gemini Report: Southeast Asia 2026 yang diluncurkan secara daring pada 14 Juli 2026 membeberkan tren tersebut. Vice President Southeast Asia and South Asia Frontier Google, Sapna Chadha, menyatakan antusiasme masyarakat tercermin dari frekuensi akses baik lewat web maupun aplikasi seluler. Secara global, Gemini kini menyentuh sekitar 900 juta pengguna aktif bulanan.
Kajian tersebut menganalisis pola penggunaan di enam negara berbasis pengguna terbesar, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Salah satu pendorong utama adalah kemampuan model bahasa besar (LLM) ini beradaptasi dengan bahasa lokal. Menurut penilaian Southeast Asia Holistic Evaluation of Language Models (SEA-HELM) yang dikembangkan AI Singapore, Gemini menjadi model dengan performa terbaik untuk bahasa-bahasa Asia Tenggara.
Hampir 70 persen instruksi di kawasan dikirim menggunakan bahasa lokal, dengan Vietnam memimpin (89 persen), disusul Thailand (87 persen) dan Indonesia (84 persen). Dukungan linguistik ini memangkas hambatan adopsi bagi pengguna non-English. Generasi muda menjadi kelompok paling aktif, mereka mengirim permintaan lebih sering, berdialog lebih panjang, dan menulis instruksi lebih rinci.
Fitur multimodal dan generasi konten memperkuat daya tarik Gemini. Lebih dari 40 persen interaksi menggunakan masukan suara, foto, atau video, sementara 10 persen hanya mengandalkan suara. Sekitar 40 persen kueri meminta pembuatan konten baru, mulai gambar, musik, video, hingga dokumen. Sepanjang setahun terakhir, pengguna di Asia Tenggara menghasilkan 5 miliar gambar via Nano Banana dan hampir 1 juta lagu lewat Lyria 3.
Indonesia menunjukkan profil adopsi yang khas. Google mencatat 80 persen instruksi dikirim dalam Bahasa Indonesia dan 82 persen akses dilakukan lewat ponsel. Satu dari dua prompt hampir pasti memakai input multimodal seperti foto dan suara. Warga Tanah Air memproduksi sekitar 9 juta gambar setiap hari menggunakan fitur AI generatif Gemini.
Angka tersebut menggarisbawahi bahwa pasar Indonesia bukan sekadar konsumen, tetapi juga produsen konten AI massal. Hal ini berdampak pada pelaku UMKM, pelajar, hingga kreator digital yang memanfaatkan Gemini untuk merangkum dokumen, mengolah data, dan mendapat rekomendasi cepat. Kehadiran asisten berbahasa lokal yang akurat mempercepat transformasi digital tanpa bergantung pada literasi Inggris.
Di sisi lain, dominasi Gemini memunculkan tantangan bagi pengembang model bahasa dalam negeri. Sejumlah startup lokal yang mengusung model bahasa Indonesia masih harus berjuang menjangkau basis pengguna sebesar ini. Persaingan terbuka, namun keunggulan infrastruktur global Google memberinya nilai lebih.
“Pertumbuhannya mencetak rekor, melampaui aplikasi Google lainnya yang pernah kami luncurkan di Asia Tenggara,” ujar Sapna dalam peluncuran laporan. Ia menambahkan pengguna kembali memakai Gemini 50 persen lebih sering, sedangkan rata-rata jumlah instruksi yang dikirim meningkat dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan beragam.
Kelompok usia muda, menurut Sapna, menjadi penggerak utama dengan pola dialog yang lebih intens. Fenomena ini selaras dengan budaya mobile-first di Asia Tenggara, di mana ponsel menjadi gerbang utama layanan kecerdasan buatan.
Ke depan, Google menyiapkan kemampuan agen AI melalui Gemini Spark yang dirancang membantu pengguna menyelesaikan tugas secara proaktif. Layanan ini terintegrasi dengan Google Workspace seperti Gmail, Docs, dan Slides. Saat ini Gemini Spark tersedia dalam bahasa Inggris untuk pelanggan Google AI Ultra.
Mulai pekan ini, Google akan meluncurkan Spark secara bertahap dalam berbagai bahasa lokal di Asia Tenggara. Langkah itu akan memperdalam penetrasi asisten agen di Indonesia, sekaligus menandai pergeseran dari sekadar chatbot menuju mitra eksekusi tugas otomatis. Persaingan di ranah AI regional dipastikan semakin ketat.