Google mengamankan pasokan energi bersih dalam skala raksasa melalui kesepakatan dengan Steel River Energy Center di Arkansas, Amerika Serikat. Raksasa pencarian itu akan menyerap 100 persen output tahap awal sebesar 1,6 gigawatt (GW) listrik surya dan 2 GW kapasitas baterai ketika proyek mulai beroperasi pada 2029.
Skema ini bukan berarti panel surya di Arkansas akan langsung menyalurkan daya ke server Google. Perusahaan tetap mengambil listrik dari jaringan campuran batu bara, nuklir, gas alam, dan energi terbarukan, sementara produksi PLTS Steel River dimasukkan ke dalam pencampuran grid tersebut sebagai bentuk kompensasi karbon.
Lonjakan konsumsi listrik Google melonjak 37 persen tahun lalu, seiring ekspansi pusat data yang memicu permintaan komputasi kecerdasan buatan (AI). Kenaikan itu berimbas pada emisi berbasis jaringan yang naik dalam proporsi sama, karena sebagian besar kelistrikan masih bersumber dari bahan bakar fosil.
Fenomena serupa menimpa pesaingnya. Meta dan Amazon mencatat lompatan masif dalam pemakaian energi untuk pusat data AI. Amazon baru saja menyepakati pengambilalihan proyek surya dan baterai Sunstone 1,2 GW di Oregon, sedangkan Meta memborong seluruh output PLTS 200 MW di Texas.
Praktik membeli seluruh hasil pembangkit terbarukan guna menetralisir emisi sendiri memang memicu debat. Sejumlah ahli menilai metode offset semacam ini tidak efektif menekan polusi secara nyata, karena tidak mengurangi ketergantungan langsung pada pembangkit fosil yang menopang beban dasar jaringan.
Di Indonesia, pertumbuhan pusat data mulai menggeliat seiring masuknya investasi hyperscale dan layanan cloud. Namun, bauran energi nasional masih didominasi batu bara dengan porsi di atas 60 persen, sehingga ekspansi infrastruktur digital berpotensi memperbesar jejak karbon jika tanpa skema listrik bersih.
Belum banyak perusahaan teknologi lokal yang meniru langkah kontrak pasokan energi terbarukan (PPA) skala korporat seperti di AS. Sebagian provider cloud di Tanah Air baru sebatas memanfaatkan sertifikat energi terbarukan (REC) atau mengandalkan efisiensi pendingin, bukan pembelian langsung kapasitas pembangkit.
Masyarakat pengguna layanan digital ikut terdampak secara tidak langsung. Semakin borosnya energi pusat data AI dapat menekan kapasitas grid dan mempercepat kenaikan tarif listrik industri, yang pada akhirnya berpengaruh pada biaya layanan streaming, pencarian, hingga aplikasi berbasis AI.
Laporan Financial Times yang dikutip Engadget menyebutkan bahwa pendanaan fase awal Steel River mencapai 3,5 miliar dolar AS dengan prioritas memakai baja dan panel surya buatan AS. "Proyek ini akan memasok 2,45 GW tenaga surya dan 2,9 GWh penyimpanan baterai saat rampung sepenuhnya," demikian rincian dalam laporan tersebut.
Gelombang panas di Eropa pada bulan lalu disebut ilmuwan hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim. Pernyataan itu menegaskan urgensi korporasi teknologi menanggung tanggung jawab emisi, meski cara offset masih diperdebatkan efektivitasnya.
Ke depan, kontrak eksklusif semacam ini diprediksi makin lazim di kalangan perusahaan teknologi global. Permintaan daya untuk AI diperkirakan terus melonjak, memaksa Google, Amazon, dan Meta berlomba mengamankan pembangkit bersih sebelum operasional pusat data baru.
Indonesia perlu menyiapkan regulasi yang memudahkan PPA energi terbarukan agar penyedia layanan digital tidak sekadar bergantung pada grid kotor. Tanpa langkah strategis, transformasi digital negeri ini berisiko memperparah krisis iklim di tengah ambisi menjadi hub data Asia Tenggara.