Artificial Intelligence

Google AI Mode Kini Bisa Terhubung Langsung dengan Aplikasi Pilihan

Ringkasan

  • Google menghubungkan AI Mode ke aplikasi seperti Instacart dan Canva di AS mulai Kamis untuk menyelesaikan tugas langsung.

Google meluncurkan pembaruan pada AI Mode yang memungkinkan pengguna di Amerika Serikat menghubungkan dan berinteraksi langsung dengan sejumlah aplikasi pihak ketiga mulai Kamis pekan ini. Fitur anyar ini menyambungkan layanan seperti Instacart, Canva, dan YouTube ke dalam pengalaman pencarian berbasis percakapan buatan perusahaan.

Langkah tersebut menandai pergeseran besar dari sekadar menjawab pertanyaan menjadi menyelesaikan tugas nyata di aplikasi yang digunakan sehari-hari. Pengguna tidak lagi harus berpindah platform secara manual setelah mendapat jawaban dari mesin pencari.

Peluncuran ini merupakan respons langsung Google terhadap persaingan ketat di ranah kecerdasan buatan. OpenAI melalui ChatGPT dan Anthropic lewat Claude sudah lebih dulu menghadirkan integrasi aplikasi serupa. Kehadiran fitur ini di AI Mode menjadi upaya Google mempertahankan pangsa pengguna sekaligus mendorong kebiasaan baru dalam merencanakan dan berbelanja.

Sejak diperkenalkan awal 2025, AI Mode terus dikembangkan secara agresif. Google sebelumnya meluncurkan fitur untuk mengecek ketersediaan barang di toko terdekat serta mode eksplorasi web berdampingan dengan AI. Pada awal tahun ini pula, fitur Personal Intelligence diluncurkan agar AI Mode bisa mengakses Gmail dan Google Photos untuk respons yang lebih personal.

Pembaruan terbaru ini membangun fondasi yang diperkenalkan di ajang Google I/O tahun ini, di mana pengguna dapat menyambungkan aplikasi pihak ketiga ke aplikasi Gemini. Daftar awal mencakup Canva, OpenTable, Spark, dan Instacart untuk mempercepat penyelesaian tugas.

Bagi industri teknologi Indonesia, langkah Google mencerminkan arah pengembangan asisten AI yang tidak lagi terbatas pada chatbot. Integrasi antarlayanan menjadi standar baru yang kemungkinan besar akan diadopsi pemain lokal. Perusahaan seperti Gojek dan Tokopedia memiliki ekosistem yang berpotensi menghadirkan fitur serupa jika berkolaborasi dengan model bahasa lokal.

Dampaknya bagi pengguna Tanah Air baru akan terasa jika fitur ini tersedia secara global. Saat ini, AI Mode belum menjangkau Indonesia dengan kapasitas penuh. Namun, tren integrasi aplikasi ini mempercepat ekspektasi pengguna terhadap kemudahan transaksional tanpa geser aplikasi.

Salah satu contoh penggunaan yang dipaparkan Google cukup representatif. Saat merencanakan barbekyu, pengguna dapat membuat daftar belanja melalui AI Mode lalu menyambungkan akun Instacart untuk memasukkan bahan langsung ke keranjang dan checkout. Prosesnya berlangsung tanpa meninggalkan antarmuka pencarian.

Dalam konteks desain, AI Mode dapat meminta Canva menampilkan pilihan templat flyer sesuai kebutuhan proyek. Untuk hiburan, pengguna bisa mengkurasi daftar putar pesta dan menyimpannya otomatis ke YouTube Music. Ketiga skenario itu menunjukkan bagaimana AI bertindak sebagai penyelia tugas lintas aplikasi.

Google menyatakan pembaruan saat ini menyasar pengguna di AS dan sedang menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk menambah daftar aplikasi yang didukung. Perluasan ini akan menentukan seberapa cepat AI Mode beralih dari alat pencarian menjadi asisten operasional harian.

Ke depan, integrasi semacam ini berpotensi mengubah cara pengiklan dan pengembang aplikasi berinteraksi dengan pengguna. Jika AI Mode menjadi gerbang utama, pengembang aplikasi harus memastikan layanannya kompatibel dengan protokol agregasi Google. Persaingan ekosistem AI tidak lagi soal siapa yang paling pintar menjawab, melainkan siapa yang paling luas berintegrasi.

Bagi Indonesia, momentum ini menggarisbawahi urgensi regulasi data lintas aplikasi. Integrasi yang meminta izin akses ke berbagai layanan menuntut perlindungan privasi yang jelas. Tanpa kerangka keamanan memadai, adopsi fitur serupa di pasar domestik berisiko mencederai kepercayaan publik.

Proyeksi berikutnya menunjukkan bahwa AI Mode akan bertransformasi menjadi pusat kendali digital. Google kemungkinan besar akan menambah aplikasi lokal populer jika masuk ke Asia Tenggara. Hal itu akan memperpendek jarak antara niat pengguna dan eksekusi layanan secara drastis.

Mengapa Ini Penting

Integrasi AI Mode ke aplikasi pihak ketiga menggeser paradigma asisten digital dari sekadar informasi ke eksekusi transaksi, yang belum memiliki padanan matang di ekosistem Indonesia. Jika masuk ke regional, hal ini akan memicu tuntutan interoperabilitas dan standar API terbuka di kalangan unicorn lokal. Di sisi lain, konsentrasi kendali pengguna pada satu gerbang AI menambah risiko monopoli layanan serta menuntut regulasi perlindungan data lintas platform yang lebih ketat dari pemerintah.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit