Seorang editor senior MIT Technology Review mengaku pernah membuat jejak digital untuk anak pertamanya sejak lahir — akun Gmail, Twitter, hingga foto tersebar di platform. Namun saat anak kedua lahir, sikapnya berbalik 180 derajat. Ia justru menghapus jejak digital anak sulung dan menolak membuat akun untuk yang bungsu. Perubahan ini bukan kasus terisolasi. Ia mengamati rekan-rekannya di perusahaan teknologi besar menerapkan pola serupa: ponsel dumbphone untuk anak, larangan TikTok, hingga Mark Zuckerberg sendiri tidak memposting wajah anak-anaknya di Facebook maupun Instagram.
Fenomena ini melonjak setelah terbitnya buku "The Anxious Generation" karya Jonathan Haidt pada 2024. Buku yang mengaitkan media sosial dengan krisis kesehatan mental remaja itu memicu kebijakan nyata. Australia jadi pionir melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun pada 2025. Austria, Indonesia, dan sejumlah negara lain mengikuti langkah serupa. Mahkamah Agung AS baru-baru ini meneguhkan hukum verifikasi usia Texas yang berfungsi sebagai larangan de facto. Di tingkat sekolah, distrik-distrik di AS mulai mengganti iPad dan Chromebook dengan buku fisik.
Anak-anak sendiri ikut menolak budaya layar. Gadget paling dicari generasi Alpha justru adalah Sony Walkman vintage — simbol nostalgia analog di era digital. Tren ini mencerminkan kelelahan kolektif terhadap algoritma yang meretas perhatian dan citra diri. Perawat anak di rumah sakit, termasuk istri penulis, melaporkan lonjakan kasus dismorfia tubuh dan cyberbullying yang berakar dari interaksi media sosial.
Namun kenyataan tidak bisa dibanting: teknologi menembus segala aspek kehidupan. "Kita harus menyiapkan anak hidup di dunia yang sebenarnya kita ciptakan, bukan yang kita harapkan," tulis penulis. Urgensi semakin tajam di era kecerdasan buatan. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana anak bisa bertahan dan berkembang, MIT Technology Review bekerjasama dengan majalah remaja Anyway. Mereka meminta remaja berbicara langsung tentang AI. Hasilnya mengejutkan: pandangan mereka kompleks, cermat, dan jauh lebih dewasa dari dugaan orang dewasa.
Di Indonesia, kebijakan larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun baru diumumkan Kominfo pada akhir 2025. Pelaksanaannya masih menunggu peraturan turunan dan mekanisme verifikasi usia yang efektif. Tantangan utamanya: bagaimana menerapkan larangan di negara dengan penetrasi smartphone tinggi dan budaya berbagi foto keluarga yang merajalela di WhatsApp hingga Instagram. Banyak orang tua Indonesia justru bangga memamerkan pencapaian anak di media sosial sejak bayi.
Sisi lain, industri edutech lokal seperti Ruangguru dan Zenius justru mengandalkan akses digital untuk menjangkau siswa di daerah terpencil. Melarang perangkat di sekolah berarti memotong jalur pembelajaran bagi jutaan anak yang tidak punya akses perpustakaan fisik yang memadai. Kebijakan harus membedakan antara media sosial yang mengeksploitasi perhatian dan alat pembelajaran yang memberdayakan.
Penulis sendiri akhirnya melonggarkan aturan — setengah hati. Anak sulungnya mendapat iPhone saat masuk SMA. Anak bungsu memakai Apple Watch. Perangkat itu membuka dunia: pertemanan baru yang melintasi ruang digital dan fisik, kebebasan berkeliling kota tanpa pengawatan ketat, serta ruang untuk belajar batas-batas — proses alami tumbuh kembang. "Saya pun belajar bersama mereka," akui penulis.
Para pakar psikologi perkembangan di Indonesia seperti Vera Itabiliana Hadiwidjojo menegaskan: kunci bukan larangan total, tapi pendampingan digital yang aktif. Orang tua harus jadi "co-pilot" bukan "polisi". Riset Universitas Indonesia 2024 menunjukkan anak yang dibimbing orang tua di dunia digital justru memiliki ketahanan mental lebih baik dibanding yang dilarang total lalu diam-diam akses lewat teman.
Era AI menambah lapisan kompleksitas baru. Anak kini berinteraksi dengan chatbot yang meniru empati, generator gambar yang membelokkan realitas, dan sistem rekomendasi yang mempelajari kebiasaan mereka lebih dalam dari algoritma media sosial konvensional. Majalah Anyway menemukan remaja sadar risiko deepfake, bias algoritma, dan kehilangan keterampilan berpikir kritis — tapi juga melihat AI sebagai alat kreativitas dan pembelajaran mandiri.
Solusi jangka panjang butuh kolaborasi multi-pihak: pemerintah menetapkan standar desain aman untuk anak (age-appropriate design code), platform membangun fitur kontrol orang tua yang transparan dan tidak manipulatif, sekolah mengajarkan literasi AI bukan sekadar literasi digital, dan orang tua mencontohkan hubungan sehat dengan teknologi. Larangan adalah langkah awal, bukan titik akhir.
Kita menghadapi generasi pertama yang tumbuh dengan AI sebagai teman sebaya. Bagaimana kita menjawab tantangan ini akan menentukan apakah teknologi jadi alat pembebasan atau kandang baru. Seperti yang ditulis penulis: "Mereka belajar dan menguji batas, persis seperti yang seharusnya. Saya kira saya juga."