Artificial Intelligence

Fora Jadi Unicorn, Kembangkan Asisten AI untuk Agen Perjalanan

Ringkasan

  • Fora raih 60 juta dolar AS pada 16 Juli 2026, jadi unicorn lewat AI agen travel.

Fora, platform agensi perjalanan berbasis kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, mengumumkan pendanaan Seri D senilai 60 juta dolar AS pada 16 Juli 2026. Putaran tersebut dipimpin oleh Forerunner dan Tactile Ventures serta menempatkan valuasi perusahaan di angka 1 miliar dolar AS, menjadikannya unicorn baru di industri travel tech.

Sejak didirikan pada 2021, Fora membangun sistem dua sisi yang memungkinkan masyarakat biasa menjadi agen perjalanan dengan dukungan infrastruktur komunikasi dan perencanaan. Pengguna juga dapat mencari dan berdiskusi dengan penasihat perjalanan untuk acara seperti bulan madu atau liburan keluarga ke destinasi seperti Kosta Rika dan Thailand.

Pendanaan terbaru turut diikuti Insight Partners dan Thrive Capital. Dengan tambahan modal ini, total dana yang berhasil dikumpulkan Fora mencapai 138,5 juta dolar AS sepanjang masa operasinya.

Latar belakang lahirnya Fora berawal dari tingginya biaya operasional dan beban administratif yang dihadapi agen perjalanan konvensional. Riset itinerary, konfirmasi pemesanan, dan koordinasi klien kerap menyita waktu yang seharusnya dapat dialokasikan untuk membangun relasi personal.

Perusahaan melihat peluang dengan mendemokratisasi profesi agen perjalanan. Siapa pun dapat bergabung tanpa pengalaman sebelumnya, karena Fora menyediakan perangkat kerja dan ekosistem pendukung. Mayoritas agen di platform tersebut memang tercatat baru memulai karier di bidang ini.

Sebagian besar dana segar akan difokuskan pada pengembangan Via, asisten AI milik Fora. Via membantu agen menyelesaikan tugas administratif membosankan seperti riset dan penyusunan rencana perjalanan agar tenaga manusia dapat fokus pada aspek relasi klien.

Bagi industri di Indonesia, model Fora menawarkan refleksi menarik. Tanah Air memiliki ribuan agen perjalanan lokal, namun mayoritas masih mengandalkan proses manual lewat pesan singkat dan spreadsheet. Produk serupa seperti Traveloka dan Tiket.com lebih berfokus pada penjualan tiket ketimbang pendampingan agen personal.

Kehadiran AI penunjang agen seperti Via dapat memangkas waktu kerja dan menekan biaya pelatihan. Namun, adopsi di Indonesia perlu mempertimbangkan literasi digital pelaku UMKM pariwisata serta regulasi perlindungan data perjalanan.

Fora mencatat bahwa agen di platformnya telah memesan perjalanan senilai lebih dari 3 miliar dolar AS sejak peluncuran. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pendekatan hybrid antara manusia dan AI mampu menghasilkan nilai transaksi besar tanpa menggantikan peran manusia.

Evan Frank, salah satu sosok di balik Fora, menekankan bahwa tujuan utama Via adalah meningkatkan produktivitas manusia, bukan menggantikannya. Strategi ini sengaja diambil agar agen dapat menjaga kualitas layanan meski volume permintaan naik.

Ke depan, Fora berencana menggunakan dana untuk merekrut talenta baru dan memperluas kategori seperti kapal pesiar dan penerbangan. Ekspansi ini menandai ambisi perusahaan untuk menjadi satu atap bagi berbagai kebutuhan perencanaan liburan.

Tren agensi perjalanan berbasis AI diprediksi makin meluas seiring permintaan wisata pasca-pandemi yang personal. Model Fora berpotensi menginspirasi startup lokal Indonesia untuk membangun infrastruktur serupa dengan sentuhan pasar domestik.

Mengapa Ini Penting

Model Fora relevan bagi Indonesia yang memiliki jutaan pelaku UMKM pariwisata namun minim alat bantu AI. Jika diadopsi, infrastruktur serupa dapat menekan tingkat pembatalan dan mempercepat layanan agen lokal. Tren ini juga mendorong diskusi soal regulasi data perjalanan dan perlindungan konsumen di era agensi hibrida.

Sumber Asli
TechCrunch
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit