Artificial Intelligence

Film AI Odysseus: The Fall Menumpang Gema Nolan di Tengah Kritik

Ringkasan

  • Fountain 0 rilis film AI Odysseus: The Fall akhir musim panas untuk mengekor ketenaran Nolan dengan biaya belasan ribu dolar.

Studio Fountain 0 meluncurkan trailer Odysseus: The Fall, film bergaya direct-to-video yang dibuat sepenuhnya dengan kecerdasan buatan dan dirilis digital pada akhir musim panas ini. Sutradara Ash Koosha memproduksi ulang kisah Odyssey dengan biaya belasan ribu dolar untuk mengekor ketenaran adaptasi Christopher Nolan yang menelan biaya 250 juta dolar.

Rencana rilis film tersebut diumumkan Selasa pekan ini, bertepatan dengan euforia penonton yang memadati bioskop untuk menyaksikan The Odyssey versi Nolan. Fountain 0 menargetkan penonton yang enggan ke bioskop namun tertarik pada teknologi AI. Mereka memposisikan karya itu sebagai pembanding antara puncak sinema manusia dan kemampuan terbaik generasi video AI saat ini.

Odysseus: The Fall digarap Koosha bersama adiknya, Pooya, menggunakan generator video Kling dan Nano Banana dari Google. Trailer yang beredar memperlihatkan shot pendek dengan estetika mengkilap khas output AI. Karakter Odysseus meniru wajah Koosha sendiri, dan ia mengisi suara seluruh pemeran, namun gerak serta dialog mereka terasa kaku dan salah satu.

Proyek ini bukan pertama kali Koosha bekerja dengan Fountain 0. Sebelumnya, ia membuat Dreams of Violets, dokudrama AI tentang kerusuhan di Iran akhir 2025 hingga awal 2026, dengan biaya hanya 2.000 dolar. Karya itu punya niat mengangkat isu hak asasi, namun tampil seperti kumpulan klip perintah teks. Odysseus: The Fall tidak membawa urgensi serupa dan lebih terasa sebagai promosi layanan produksi AI studio tersebut.

Ketua eksekutif Fountain 0, Tom Rogers, menyatakan kepada Variety bahwa filmnya ditujukan bagi penggemar AI yang tidak suka bioskop. Ia berharap penonton membandingkan karya Nolan dengan hasil AI terbaik Fountain 0. Rogers mengklaim proyeknya justru memicu orang menonton film Nolan untuk melihat beda sinema manusia dan mesin.

Di Indonesia, tren konten AI mulai masuk ekosistem kreator lokal lewat alat seperti CapCut dan Haiper. Beberapa rumah produksi kecil bereksperimen dengan video musik dan iklan berbasis prompt. Namun, belum ada studio yang berani merilis fitur layar lebar bertumpu pada AI murni karena audiens masih memprioritaskan aktor nyata dan nilai kolaborasi.

Fenomena ini memperlihatkan benturan antara efisiensi biaya dan nilai seni. Nolan butuh ratusan kru untuk epik Homerik, sementara Koosha cukup dua orang dan modal lima digit. Penonton Indonesia yang akrab dengan film berkualitas festival mungkin sulit menerima karya tanpa sentuhan manusia sebagai pengganti hiburan bioskop.

Rogers menegaskan bahwa Odysseus: The Fall mewakili standar tertinggi film AI saat ini. Pernyataan itu bertolak belakang dengan respons publik terhadap Dreams of Violets yang dinilai datar. ElevenLabs juga merilis audiobook Odyssey berisi suara tiruan Michael Caine, dan Particle6 mempopulerkan avatar bernama Tilly Norwood sebagai aktris AI.

Perusahaan seperti Fountain 0 dan Particle6 tampaknya ingin mencari perhatian lewat provokasi sebelum diterima industri. Mereka lupa bahwa daya tarik The Odyssey terletak pada emosi kolektif ratusan pekerja film. Kecanggihan mesin belum sanggup meniru ikatan manusia yang melahirkan karya epik.

Ke depan, strategi menumpang ketenaran film besar akan makin sering muncul seiring murahnya alat generatif. Namun tanpa narasi kuat, karya AI semacam ini berisiko dianggap sampah digital. Industri hiburan masih akan mengandalkan nama sutradara dan pemain nyata untuk menarik tiket.

Bagi Indonesia, penting memetakan regulasi terkait hak cipta dan etika AI di perfilman sebelum tren serupa meluas. Pemerhati teknologi perlu mendorong literasi agar masyarakat tak sekadar konsumtif terhadap klaim efisiensi, tetapi menuntut kualitas dan keaslian karya kreatif.

Mengapa Ini Penting

Masuknya film AI bergaya parasit ini menyoroti urgensi kebijakan hak cipta dan etika generative AI di industri kreatif Indonesia yang belum matang. Eksperimen serupa berpotensi menekan pelaku lokal seperti editor dan animator jika studio beralih ke produksi murah tanpa kru. Masyarakat perlu literasi kritis agar tak menormalisasi karya tanpa sentuhan manusia sebagai standar hiburan. Tren ini juga membuka celah regulasi terkait peniruan wajah dan suara tanpa izin yang relevan dengan UU PDP baru.

Sumber Asli
The Verge
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit