Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) secara resmi menyatakan dukungannya terhadap xAI dalam sengketa hukum terkait penggunaan puluhan turbin gas yang tidak berizin di dekat pusat data perusahaan di Memphis. Langkah hukum ini merupakan respons terhadap gugatan yang diajukan oleh NAACP pada April lalu, yang berupaya menghentikan operasional turbin tersebut karena masalah lingkungan. Pihak DOJ berargumen bahwa penghentian operasional ini dapat mengancam keamanan nasional, ekonomi, dan energi Amerika Serikat.
Dalam dokumen memorandum yang diajukan ke pengadilan, DOJ menegaskan bahwa xAI, melalui model kecerdasan buatan Grok, memainkan peran krusial dalam mendukung operasi misi penting bagi Departemen Pertahanan AS. Menurut pemerintah, teknologi AI ini telah digunakan untuk mendukung berbagai operasi militer, termasuk serangan yang dilakukan di Iran. Oleh karena itu, gangguan terhadap pasokan listrik di pusat data xAI dianggap sebagai risiko strategis bagi kepentingan militer negara tersebut.
Sengketa ini bermula ketika NAACP berupaya menghentikan praktik xAI yang menggunakan turbin gas bergerak di pusat data Colossus dan Colossus 2. Meskipun upaya hukum awal gagal, xAI justru terus menambah jumlah turbinnya hingga mencapai 57 unit saat ini. Perusahaan milik Elon Musk ini berdalih bahwa karena turbin-turbin tersebut ditempatkan di atas trailer, mereka berhak atas pengecualian dari regulasi polusi udara Mississippi selama satu tahun masa operasional.
Namun, Southern Environmental Law Center, yang mewakili NAACP, menentang argumen tersebut dengan merujuk pada hukum federal. Mereka menyatakan bahwa turbin yang terpasang pada trailer tetap dapat dikategorikan sebagai fasilitas stasioner, sehingga tetap wajib tunduk pada regulasi lingkungan yang ketat. NAACP menyoroti bahwa kualitas udara di wilayah tersebut telah memburuk secara signifikan sejak pusat data xAI mulai beroperasi, mengingat daerah tersebut memang sudah memiliki tingkat polusi yang tinggi.
Data menunjukkan bahwa sejak tahun lalu, jumlah turbin di lokasi tersebut telah meningkat dua kali lipat, yang berbanding lurus dengan lonjakan polutan udara berbahaya seperti PM2.5, formaldehida, dan oksida nitrogen (NOx). Paparan zat-zat ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit asma, kardiovaskular, hingga kanker. Kekhawatiran masyarakat setempat semakin mendalam karena dampak kesehatan jangka panjang yang mungkin ditimbulkan bagi penduduk di sekitar fasilitas tersebut.
Ke depannya, xAI yang kini berada di bawah divisi SpaceX diperkirakan akan terus memperluas kapasitas energinya. Dalam dokumen pengajuan IPO SpaceX, perusahaan mengungkapkan rencana untuk mengalokasikan setidaknya 2 miliar dolar AS untuk pengadaan turbin gas bergerak tambahan dalam tiga tahun ke depan. Rencana ekspansi besar-besaran ini memicu perdebatan lebih luas mengenai keseimbangan antara kebutuhan infrastruktur teknologi AI yang haus energi dengan tanggung jawab perusahaan terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan publik.