Artificial Intelligence

Penulis Dave Eggers Kritik ChatGPT Bisukan Satu Generasi di OpenAI

Ringkasan

  • Dave Eggers mengecam staf OpenAI tahun lalu karena ChatGPT dianggap bisukan generasi pelajar lewat kemudahan menulis instan.

Dave Eggers menyerang langsung karyawan OpenAI dalam sesi paparan tertutup tahun lalu setelah menerima undangan dari CEO Sam Altman. Sang penulis menilai ChatGPT menghancurkan proses belajar menulis generasi muda dan mematikan suara khas mereka.

Undangan tersebut awalnya tampak sebagai kesempatan bagi Eggers untuk berbagi pengalaman sebagai novelis produktif sekaligus pendiri penerbit McSweeney’s dan sejumlah lembaga pendidikan seni. Sekitar 200 staf OpenAI menghadiri sesi tersebut. Alih-alih memberi tips produktivitas, ia justru melontarkan kecaman tajam terhadap dampak alat kecerdasan buatan buatan perusahaan tersebut terhadap dunia pendidikan.

Menurut laporan Financial Times, Eggers menyatakan bahwa beban hidup para pendidik kini menjadi jauh lebih berat karena kehadiran ChatGPT. Ia menekankan bahwa kesulitan tersebut bukan sekadar tantangan teknis, melainkan krisis metodologi pengajaran yang mendasar. Guru-guru di berbagai jenjang harus menghadapi kenyataan bahwa tugas tulisan tidak lagi mencerminkan kemampuan asli murid.

Kritik Eggers tidak muncul tiba-tiba. Novel larisnya, The Circle, sejak awal merupakan satir pedas terhadap industri teknologi dan budaya pengawasan digital. Ia juga pernah menyebut tulisan yang dihasilkan oleh AI sebagai omong kosong berbau plagiaran gaya. Altman, yang mengundangnya, kemungkinan besar menyadari risiko mendapat respons negatif dari tokoh sastra tersebut.

Latar belakang Eggers sebagai pendiri sekolah dan nonprofit pendukung seni tulis membuatnya melihat AI dari kacamata pembentukan karakter intelektual. Baginya, menulis bukan sekadar penyusunan kata, melainkan cara seseorang menemukan identitas dan kebenaran pribadinya. Ketika mesin mengambil alih proses itu, ruang bagi eksplorasi diri menyempit drastis.

Di Indonesia, fenomena serupa mulai terasa di sekolah dan perguruan tinggi. Survei informal komunitas pendidik di Jakarta menunjukkan banyak guru kesulitan membedakan esai orisinal dengan teks hasil AI. Beberapa kampus sudah mewajibkan ujian tulis manual tanpa perangkat elektronik untuk meredam ketergantungan mahasiswa pada ChatGPT.

Dampaknya melampaui nilai akademik. Ketika pelajar menyerahkan proses berpikir kepada model bahasa, mereka kehilangan latihan bernalar kritis yang esensial di era digital. Startup lokal seperti Linkee AI dan Kata.ai turut menyediakan layanan generatif berbahasa Indonesia, yang membuat akses serupa semakin mudah di tingkat pelajar menengah.

Eggers memperingatkan bahwa jika pelajar menggunakan AI untuk menyusun teks, mereka tidak akan pernah belajar menulis dengan benar. Suara mereka, menurut dia, dicuri oleh mesin. Generasi yang bersangkutan lantas kehilangan kemampuan menyampaikan kebenaran dan menuturkan kisah sendiri.

“Efek ChatGPT terhadap kehidupan para pendidik adalah bencana. Entah Anda sengaja atau tidak, Anda membuat hidup setiap guru jauh lebih sulit daripada dua tahun lalu,” kata Eggers di depan staf OpenAI. Ia meminta audiens membiarkan pernyataan itu meresap sebelum sesi dilanjutkan.

Ia menambahkan bahwa musibah terbesar terjadi saat siswa memakai AI untuk berkreasi secara tulisan. Kehilangan kemandirian berpikir itu, ujarnya, setara dengan membungkam satu atau dua angkatan manusia. Peringatan tersebut sekaligus menegaskan posisi sastrawan terhadap batas etis penggunaan AI di ruang pendidikan.

Ke depan, debat antara pelaku industri AI dan dunia sastra dipastikan makin tajam. Sekolah di berbagai negara mungkin menuntut transparansi dataset dan kebijakan penggunaan dari pengembang model bahasa. Di Indonesia, Kemendikbud perlu mempertimbangkan panduan nasional penggunaan AI di kelas agar keterampilan literasi tidak tergerus.

Tren integrasi AI ke kurikulum juga membuka peluang bagi pengembang lokal membuat alat pendeteksi teks otomatis berbahasa Indonesia. Tanpa intervensi budaya dan kebijakan yang jelas, generasi muda berisiko menjadi konsumen pasif teknologi rather than pencipta ide.

Mengapa Ini Penting

Kritik Eggers menyentuh inti masalah literasi Indonesia yang masih rendah dan rentan terhadap ketergantungan alat bantu AI. Tanpa kebijakan kurikulum yang tegas, pelajar lokal bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis serta identitas tulisan sendiri. Peluang bagi startup deteksi AI berbahasa Indonesia terbuka lebar seiring meningkatnya adopsi ChatGPT di sekolah.

Sumber Asli
The Verge
Tanggal
18 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit