Alexandre LeBrun, CEO AMI Labs yang didirikan bersama peraih Turing Award Yann LeCun, menolak menggunakan istilah 'AGI' maupun 'superintelligence' untuk menyebut teknologi kecerdasan buatannya. Penolakan tersebut ia sampaikan dalam wawancara di Seoul pekan lalu, saat menghadiri International Conference on Machine Learning untuk menjajaki mitra industri di Asia.
LeBrun menilai label-label tersebut tidak memiliki definisi yang jelas dan tidak berguna bagi pengembangan teknologi. 'Kami tidak pernah memakai kata AGI. Dan saya baru sadar tidak ada yang lagi menggunakannya, mereka beralih ke superintelligence. Lain kali mungkin ganti lagi,' ujarnya. Bagi pendiri yang berada di pusat perlombaan AI terbaru, sikap ini menjadi pernyataan tajam di tengah euforia industri yang gemar menabalkan predikat besar pada sistemnya.
AMI Labs lahir setelah LeCun meninggalkan Meta dan mengumpulkan modal 1,03 miliar dolar AS pada Maret lalu dengan valuasi pra-pendanaan 3,5 miliar dolar AS. Perusahaan masih berstatus pra-produk, namun sudah mendekati pemain robotika, manufaktur, dan elektronik. Mereka membangun yang disebut world model, model yang memasukkan fisika untuk memprediksi dan berinteraksi dengan dunia nyata.
World model berbeda dengan large language model (LLM) yang hanya meramal kata berikutnya. LeBrun menjelaskan, world model memprediksi kondisi berikutnya: jika gelas didorong dari meja, model tahu gelas akan jatuh dan tumpah. Intuisi itulah yang ingin ditangkap agar AI bisa memahami lingkungan fisik. Ia menegaskan world model bukan pengganti LLM, melainkan pelengkap yang menangani konteks dan pemahaman dunia nyata, serupa dengan fungsi bahasa dan nalar yang terpisah di otak manusia.
Robot saat ini, menurut LeBrun, masih berjalan dengan rutinitas tetap dan 'sangat statis'. Kecerdasan buatan di dunia fisik masih 'sangat bodoh'. Hardware memang berkembang pesat beberapa bulan terakhir, tetapi tidak ada 'otak' yang memadai. Ia mencontohkan robot yang menari dan ber-kung fu di acara publik namun justru mendekat dan menendang anak kecil karena tidak sadar konteks. AI yang sekadar membuat robot peka konteks sudah akan menjadi perbedaan besar bagi dunia.
Bagi Indonesia, tren world model membuka pertanyaan soal kesiapan infrastruktur manufaktur dan robotika kita. Sebagian besar pabrik domestik masih mengandalkan otomasi kaku tanpa kecerdasan situasional. Jika teknologi LeBrun matang, sektor manufaktur dan logistik Tanah Air bisa terdongkrak, tetapi butuh akses mitra global dan riset lokal yang belum kuat.
Di sisi lain, LeBrun menyoroti kelemahan LLM di bidang kesehatan. Perusahaan sebelumnya, Nabla, bergerak di AI kesehatan. Ia mengibaratkan AI saat ini seperti dokter yang hanya belajar dari buku tanpa magang. LLM mungkin berguna, tapi baru mencakup 1% layanan kesehatan. Sisanya bergantung pengalaman dunia nyata yang hanya bisa dilatih lewat world model di luar lab.
Karena itulah AMI butuh akses ke dunia nyata lewat mitra industri. LeBrun tertarik ke Asia, khususnya Korea Selatan, karena di sana ada robot, semikonduktor, dan pabrik nyata. 'Korea adalah adopter internet tercepat 25 tahun lalu,' katanya. Kombinasi basis industri dalam dan kecepatan adopsi AI membuatnya menyebut Korea 'unik' dan alasan AMI ingin hadir sejak hari pertama.
JP Lee, CEO SBVA dan salah satu pendukung AMI di Asia, mendorong tim LeCun datang ke Korea. Pemerintah Seoul sudah menggelontorkan sekitar 880 miliar dolar AS untuk chip, pusat data AI, dan physical AI sebagai tiga pilar Juni lalu. Lee bilang model LLM lokal sudah cukup untuk tugas umum, tapi Korea wajib terus investasi di AI fisik.
AMI belum punya produk dan LeBrun enggan memberi tenggat. 'Kami akan memberi kejutan saat siap,' ucapnya. Ketertarikan ke Korea belum dibentuk jadi strategi Asia penuh karena menurutnya masih terlalu dini. Yang pasti, perusahaan ingin dekat dengan ekosistem hardware berat yang belum tersentuh gelombang AI pertama.
Ke depan, perlombaan AI fisik akan bergeser dari sekadar kemampuan teks ke pemahaman lingkungan. Negara dengan rantai pasok hardware dan kebijakan dukung cepat bakal jadi pangkalan pengembangan. Indonesia perlu menyiapkan riset robotika dan insentif agar tidak sekadar jadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai world model global.