Kemudahan teknologi kecerdasan buatan generatif membuat siapa saja bisa memproduksi esai panjang dalam hitungan detik. Sebuah tulisan tentang anjing Pomerania yang panjangnya ribuan kata, misalnya, bisa dihasilkan bot dalam 10 detik tanpa terdeteksi ada usaha di baliknya. Kondisi ini memicu krisis kepercayaan karena pembaca sulit membedakan mana gagasan asli manusia dan mana hasil cetak biru mesin.
Persoalannya bukan sekadar soal keaslian semu. Komunikasi kehilangan daya hubung antarmanusia. Mengajak seseorang berubah pikiran menjadi tugas berat ketika pesan yang diterima terasa kosong dari tenaga penulisnya.
Jacob Filipp, dalam esainya, merangkum fenomena yang disebutnya sebagai “Proof of Care” atau bukti kepedulian. Ia menyoroti berbagai cara baru yang digunakan masyarakat di dunia pasca-LLM (Large Language Model) untuk menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh mencurahkan upaya dalam menyampaikan pesan.
Salah satu metode paling mendasar adalah menulis tangan. Menulis ribuan kata secara manual memakan waktu dan tidak memiliki jalan pintas. Bahkan untuk pesan pendek di media sosial, menuangkan guyonan ke atas kertas lalu memotretnya terbukti membuat audiens merespons lebih baik ketimbang ketikan digital.
Beberapa orang menambah hambatan ekstra dengan menulis cermin, yakni membalik setiap huruf secara manual. Meski teks menjadi sulit dibaca sekilas, gesekan kognitif semacam itu justru disambut di era modern yang serba pelan-pelan dan lupa. Metode ini bahkan bisa dipakai untuk teks buatan AI dengan cara menelusuri keluaran mesin tersebut, membuktikan penulis peduli untuk tidak sekadar menyalin tempel.
Di ranah luring, selebaran fisik yang dibagikan manusia hidup masih jauh lebih ampuh daripada aliran berita di linimasa. Keterampilan utamanya adalah memangkas kata. Menulis 1.000 selebaran tangan memaksa seseorang menggunakan frasa sesedikit mungkin demi menghindari cedera pergelangan. Di Indonesia, tradisi pamflet dan coretan tangan sudah lama akrab dalam aksi demonstrasi atau kampanye komunitas, namun kini ia mendapat makna baru sebagai benteng autentisitas di tengah banjir konten sintetis.
Sayangnya, kelompok kaya memanfaatkan mesin pen plotter untuk meniru tulisan tangan massal hingga ke detail font unik seseorang, lalu menyebarkannya lewat pekerja gig. Publik merasakan tipu muslihat ini selama tiga tahun terakhir, memaksa lahirnya indikator bukti kepedulian yang lebih sulit dipalsukan.
Tato permanen muncul sebagai salah satu jawaban. Dengan menusukkan pesan ke kulit, seseorang menunjukkan keyakinan yang tak terbantahkan. Pesan semacam itu wajib pendek dan abadi. Pengalaman di belahan Barat menunjukkan banyak anak muda menyesal menato “Grind Hard” di dahi atau “Meat is murder” di torso seiring bergesernya prioritas hidup.
Filipp mencatat kebangkitan para pendongeng jalanan yang berteriak di tempat ramai, meniru tradisi Speakers' Corner di London. Ia menyebut munculnya “Town Criers” yang berjalan kaki menyebarkan berita valid guna melawan hoaks di internet. Gelombang migrasi dari dunia maya kembali ke dunia fisik ini akan menguat dalam lima tahun ke depan, tulisnya menggambarkan pergeseran perilaku komunikasi.
Pendongeng keliling dituntut beradaptasi dengan ritme sajak dan pengulangan, menyesuaikan energi audiens dari buruh gudang hingga perawat yang baru lepas shift. Untuk mencegah oligarki merekrut propagandis, para pendongeng membentuk serikat dengan ritual inisiasi berdarah. Luka sayat dan abu kayu yang dibakar ke kulit, atau pahatan tulang pada wajah, hingga membentuk bekas seperti sisik buaya menjadi syarat keanggotaan yang tak terpalsukan.
Tren pembuktian usaha manusiawi ini diprediksi meluas seiring makin kaburnya batas antara karya mesin dan manusia. Masyarakat akan terus mencari sinyal keaslian yang tak bisa diotomatisasi, entah lewat rasa sakit fisik, keterbatasan medium, atau kehadiran langsung di ruang publik.
Bagi kreator dan jurnalis di Tanah Air, era pasca-LLM menuntut transparansi proses berkarya. Teknologi AI memang tak bisa dihindari, tetapi nilai sebuah pesan ke depannya akan sangat bergantung pada seberapa besar “biaya kepedulian” yang berani dibayar penulisnya.