Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, secara resmi memastikan gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4 yang mengguncang wilayah tersebut pada Minggu malam tidak memiliki potensi memicu tsunami. Kepala Pelaksana BPBD Buol, Moh Kachfi, menyampaikan penegasan tersebut usai gempa terjadi pada pukul 21.46 WITA dengan titik episenter berada di arah timur laut Buol pada kedalaman 37 kilometer.
"Insya Allah kita aman dan tidak terjadi tsunami. Namun juga masih tetap waspada dan tidak panik serta benda-benda berharga tetap diamankan," ujar Kachfi di Buol, Minggu malam. Ia menambahkan bahwa tim BPBD telah melakukan pemantauan langsung di wilayah pesisir dan perairan sekitar untuk memastikan tidak adanya anomaly gelombang laut yang mengancam.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut dikategorikan sebagai gempa tektonik dangkal yang disebabkan oleh aktivitas subduksi. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, peristiwa ini merupakan manifestasi dari interaksi lempeng tektonik di wilayah Sulawesi yang dikenal memiliki kerumitan struktur geologi.
Sulawesi sendiri berada di zona perempatan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Australia-Filipina. Kondisi ini membuat pulau ini sangat rentan terhadap aktivitas seismik, baik gempa dangkal akibat patahan aktif di darat maupun gempa dalam akibat subduksi. Kedalaman 37 kilometer menempatkan gempa Buol ini dalam kategori gempa dangkal (shallow earthquake), yang umumnya dirasakan lebih kuat di permukaan dibanding gempa dalam dengan magnitudo yang sama.
Hingga berita ini diturunkan, BPBD Kabupaten Buol masih melakukan pendataan komprehensif mengenai kerusakan fisik yang diakibatkan guncangan tersebut. Kachfi meminta perangkat desa dan kecamatan untuk meningkatkan koordinasi serta segera melaporkan kerusakan di wilayah masing-masing. Data awal yang masuk menunjukkan beberapa bangunan mengalami retakan, namun belum ada laporan korban jiwa atau luka-luka berat.
Penting untuk dicatat bahwa Indonesia memiliki sistem early warning tsunami yang terintegrasi melalui InaTEWS (Indonesian Tsunami Early Warning System) di bawah BMKG. Sistem ini mampu mengeluarkan informasi tsunami dalam waktu kurang dari 5 menit setelah gempa terjadi. Dalam kasus gempa Buol ini, BMKG dengan cepat menerbitkan informasi "Tidak Berpotensi Tsunami" yang kemudian disebarluaskan ke seluruh stakeholder dan masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi.
Masyarakat di wilayah rawan gempa seperti Sulawesi Tengah diimbau untuk selalu mempersiapkan tas siaga (go-bag) berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan kaleng, air minum, serta alat komunikasi darurat. Selain itu, pemahaman mengenai prosedur "Drop, Cover, and Hold On" saat gempa terjadi serta mengetahui titik pengungsian terdekat menjadi investasi keselamatan jangka panjang yang tidak tergantikan oleh teknologi apapun.
Gempa Buol ini menjadi pengingat kembali bahwa kesiapsiagaan bencana bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, melainkan kebutuhan kolektif yang melibatkan masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi, dan media. Dengan letak geografis Indonesia di Cincin Api Pasifik, mitigasi risiko bencana harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan nasional, mulai dari penataan ruang yang memperhitungkan zona patahan aktif, standar bangunan tahan gempa, hingga edukasi berkala di tingkat sekolah dan masyarakat.