Apple Inc. baru saja melakukan pemotongan pekerja sebanyak lebih dari 200 orang, terutama di tim pengembangan Vision Pro dan asisten virtual Siri. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk beralih fokus ke pengembangan kacamata pintar dan teknologi kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya.
Dilansir dari laporan Bloomberg oleh Mark Gurman, sekitar 100 pekerja dari divisi Vision Pro dan 100 lagi dari divisi Siri serta perangkat lunak lainnya terdampak. Pemotongan di tim Vision Pro didominasi pada tim pengembangan game dan video imersif. Di sisi lain, pemotongan di tim Siri ditujukan untuk tim-tim yang masih bekerja pada versi lama asisten virtual tersebut, mengingat versi baru yang berbasis Large Language Model (LLM) membutuhkan keahlian teknis yang berbeda.
Apple secara resmi mengakui bahwa perusahaan sedang melakukan penyesuaian terhadap struktur organisasi akibat perubahan campuran produk. Dalam pernyataannya, perusahaan menyatakan bahwa meskipun akan menciptakan peran baru sebagai bagian dari transformasi ini, sejumlah terbatas peran eksisting akan terdampak. Apple juga menegaskan komitmennya untuk mendukung para pekerja yang terkena dampaknya, termasuk memberikan kesempatan untuk mengajukan diri ke posisi lain di dalam perusahaan.
Laporan ini tidak begitu mengejutkan mengingat spekulasi sebelumnya yang menyatakan bahwa Apple telah menyimpan pengembangan model pengganti Vision Pro dan kini sedang mengembangkan kacamata AR serupa dengan produk Meta. Beberapa minggu lalu, seorang eksekutif senior Apple yang bertanggung jawab atas Vision Pro dilaporkan telah pindah ke OpenAI. Selain itu, laporan juga menyebutkan bahwa tim-tim pengembang Vision Pro semakin banyak dialihkan untuk bekerja pada kacamata AR yang sedang dirahasiakan.
Vision Pro, yang diluncurkan dengan harga tinggi sebesar $3.699, belum berhasil mencapai angka penjualan yang signifikan. Salah satu faktor utamanya adalah pengalaman pengguna yang dianggap tidak nyaman serta biaya produksi konten video imersif yang mahal, sementara basis pengguna tetap terbatas. Akibatnya, Apple menilai investasi lebih lanjut pada fitur-fitur tersebut tidak lagi proporsional dengan penggunaan yang ada.
Meskipun demikian, Apple menegaskan bahwa Vision Pro dan sistem operasinya, VisionOS, tidak akan dihentikan. Perusahaan masih berencana merilis model baru paling lambat pada 2028. Namun, dengan semakin kuatnya fokus pada kacamata pintar yang tidak mendukung game atau video imersif, pemotongan di sektor terkait memang menjadi hal yang tak terelakkan.
Dari sudut pandang pasar global, langkah Apple mencerminkan tren industri teknologi yang kini semakin mengutamakan solusi yang ringan, terjangkau, dan mudah diakses oleh konsumen. Kacamata pintar yang lebih sederhana dan terjangkau diperkirakan akan menjadi jalur utama bagi perusahaan untuk memperluas ekosistem digital mereka tanpa harus bergantung pada perangkat mahal seperti headset.
Di Indonesia, hingga kini Vision Pro belum secara resmi tersedia untuk konsumen, meskipun beberapa unit impor telah muncul di pasar gelap dengan harga jauh di atas dari yang ditawarkan di negara lain. Penggunaan kacamata pintar atau perangkat AR belum widespread, meskipun ada inisiatif lokal dalam pengembangan solusi berbasis realitas campuran untuk sektor pendidikan dan kesehatan.
Para ahli teknologi menilai bahwa strategi Apple ini bisa memberi pelajaran penting bagi pengembang teknologi di Indonesia. Dengan fokus pada ketersediaan dan aksesibilitas, inovasi lokal perlu mempertimbangkan kembali apakah teknologi canggih sekalipun layak dikembangkan jika belum didukung oleh infrastruktur pengguna yang cukup besar.
Sementara itu, transisi Siri ke versi berbasis LLM juga menandai langkah Apple untuk kompetisifikasi dengan model AI lain yang telah lebih dulu diterapkan oleh pesaing seperti Google atau Microsoft. Ini menunjukkan bahwa Apple tidak hanya mengoptimalkan perangkat kerasnya, tetapi juga berupaya menyaingi tren AI yang sedang berkembang pesat di seluruh dunia.
Mengingat dinamika pasar yang cepat berubah, tidak mengherankan jika Apple memilih untuk mengalihkan sumber dayanya ke arah yang lebih strategis dan berpotensi memberikan pengembalian investasi yang lebih baik di masa depan.
Dengan demikian, meskipun Vision Pro mungkin akan tetap ada di roadmap Apple, jelas bahwa perusahaan tidak lagi menganggapnya sebagai prioritas utama dalam jangka pendek. Fokus kini telus diarahkan pada pengembangan kacamata pintar yang lebih terjangkau dan ramah pengguna — sebuah langkah yang mungkin akan membuka peluang baru bagi Apple untuk kembali menaklukkan pasar konsumen global, termasuk di wilayah seperti Indonesia.