Bupa, perusahaan asuransi kesehatan global yang melayani tujuh juta pelanggan di Asia-Pacific, berhasil memperbarui aplikasi mobile-nya 'My Bupa' dengan pendekatan modernisasi berbasis kecerdasan buatan. Dulu dibangun di atas kerangka kerja Xamarin yang kini sudah tidak lagi didukung oleh Microsoft, aplikasi tersebut kini diporting ke Swift dan Kotlin secara native. Hasilnya? Rating aplikasi naik dari 3,7 menjadi 4,7, sementara tingkat crash yang dirasakan pengguna turun hampir 24 poin persentase di Android dan delapan poin di iOS. Ini bukan sekadar migrasi kode — ini transformasi bisnis yang dilakukan dari posisi stabilitas, bukan karena tekanan mendadak.
Asifa Sherazi, CIO Health Insurance di Bupa, menjelaskan betapa risiko menunggu hingga sistem warisan benar-benar mati. "Teknologi akhir era adalah risiko yang menumpuk secara diam-diam, lalu tiba-tiba muncul," ujarnya. Dengan dukungan AI dalam reverse engineering dan rekayasa maju, proyel modernisasi selesai dalam waktu sekitar 60% lebih cepat dibandingkan dengan pendekatan konvensional. Hal ini membuktikan bahwa AI tak lagi hanya alat pendukung, tetapi pelaku utama dalam mengubah ekonomi pengembangan perangkat lunak.
Di Indonesia, banyak organisasi kesehatan dan keuangan masih bergantung pada sistem lama yang rentan karena dukungan teknologi yang menguap. Modernisasi serupa yang didorong AI bisa menjadi pelajaran berharga. Sanjeev Tripathi dari Infosys menekankan bahwa AI sedang menggeser ulang ekonomi modernisasi dengan cara yang mengurangi usaha, risiko, dan durasi proyek secara signifikan. Ini berarti bahwa bahkan perusahaan dengan anggaran terbatas kini memiliki peluang lebih besar untuk beralih ke platform modern tanpa harus menghabiskan sumber daya secara berlebihan.
Namun, Sherazi dan Tripathi juga menekankan aspek manusia di balik setiap transformasi teknologi. Menjaga pengetahuan institusional, memberi tim ruang untuk beradaptasi, dan menciptakan budaya di mana karyawan merasa nyaman melaporkan masalah sejak dini adalah kunci kesuksesan. Bukan hanya soal mengganti kode lama dengan kode baru, tetapi juga memastikan tim tetap produktif dan termotivasi sepanjang proses.
Pandangan ke depannya cukup menggoda. Menurut Tripathi, platform yang sudah dimodernisasi akan menjadi fondasi untuk pengalaman yang lebih personal, prediktif, dan berbasis AI. "Platform modern akan menjadi dasar untuk ekosistem AI yang lebih cerdas, di mana AI tidak sekadar tambahan, tetapi tersemat dalam setiap aspek dari desain hingga operasional," jelasnya. Ini berarti bahwa investasi pada modernisasi hari ini tidak hanya memperbaiki sistem, tetapi juga membuka pintu bagi inovasi yang belum terbayangkan.
Bagbagi Sherazi, pergeseran ini sudah mengubah cara pertanyaan diajukan di dalam organisasi. "Dulu, pertanyaannya adalah: bisakah platform kami mendukung itu? Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah itu benar-benar tepat untuk pelanggan kami?" Pertanyaan ini menandakan bahwa teknologi sudah tidak lagi menjadi pembatas, tetapi pendorong strategi yang lebih fokus pada nilai bagi pengguna.