Drama fiksi ilmiah terbaru karya sutradara Jepang ternama Hirokazu Kore-eda, *Sheep in the Box*, menawarkan perspektif yang tak terduga tentang kecerdasan buatan. Berlatar dunia mendekati masa kini, film ini mengisahkan pasangan yang kehilangan putra mereka dan menggunakan layanan AI untuk menciptakan klon robotik yang tampak identik dengan anak hilang mereka. Berbeda dengan banyak film sci-fi yang menggambarkan AI sebagai ancaman, karya Kore-eda justru menyelami proses berdu dan bagaimana teknologi bisa menjadi alat untuk menerima kenyataan baru.
Kore-eda, yang dikenal melalui film *Shoplifters* pemenang Palme d’Or, sudah lama mengeksplorasi tema duka dalam karyanya. Film perdana beliau, *Maborosi*, adalah drama tentang kehilangan yang mendalam, dan beliau saat itu membaca buku-buku karya Elisabeth Kübler‑Ross tentang proses berdu. Pengalaman tersebut menjadi kerangka bagi *Sheep in the Box*. Namun, beliau juga menyadari bahwa duka tidak pernah linear; setiap orang menghadapinya dengan cara berbeda. Dalam film ini, memori yang dimasukkan ke dalam tubuh robotik sang anak adalah data yang telah dipilih oleh orang tuanya, sebuah konsep yang menurut Kore-eda meragukan keaslian pengalaman emosional manusia.
Inspirasi untuk film ini muncul dari perkembangan nyata teknologi AI yang digunakan untuk tujuan “pekerjaan duka” di Asia. Beberapa tahun lalu, seorang penyanyi terkenal di Jepang “dihidupkan kembali” melalui AI untuk merilis lagu baru, sementara seorang remaja perempuan yang meninggal di Korea direplikasi menggunakan AI guna membantu orang tuanya melalui proses berdu. Di Tiongkok, perusahaan‑perusahaan mulai menawarkan jasa kloning digital orang-orang yang telah tiada. Kore-eda menggabungkan fenomena‑fenomena ini ke dalam narasi fiksinya, lalu menguji batas antara khayalan dan kemungkinan dengan berkonsultasi kepada seorang ahli robotika. Ahli tersebut menjelaskan bahwa hambatan terbesar dalam pembuatan android adalah panas yang dihasilkan saat robot bergerak dan memproses informasi, sehingga pembuatan humanoid yang benar‑benar mirip manusia mungkin mustahil. Untuk keperluan cerita, Kore-eda mengesampingkan kendala teknis ini, sehingga karakter-karakternya tidak memerlukan makanan atau air—sebuah pilihan yang menekankan kemerdekaan AI.
“Saya ingin menceritakan tentang bagaimana teknologi baru mengubah keluarga yang berusaha memulai kembali kehidupan mereka,” kata Kore-eda dalam wawancara di kantor Neon menjelang pemutaran perdana film di Amerika Serikat. “Saya juga menggunakan ChatGPT untuk membantu menyempurnakan naskah, melihat bagaimana AI memandang duka.”
Dari sudut pandang Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Beberapa startup lokal kini menawarkan layanan deepfake untuk keperluan memorial, seperti mengabadikan pesan video dari kerabat yang telah meninggal menggunakan AI. Selain itu, platform pembelajaran mesin yang dikembangkan di Indonesia mulai digunakan untuk recreasi suara dan wajah selebritas, meskipun masih terbatas pada hiburan dan bukan untuk keperluan terapeutik. Ketiadaan regulasi yang komprehensif tentang penggunaan AI untuk keperluan emosional membuat masyarakat rentan terhadap eksploitasi komersial.
Kore-eda tidak menghindari pertanyaan etis dalam filmnya. Ketika ditanya tentang memori yang “dipilih”, beliau menjawab, “Memori yang kita alami secara langsung adalah sesuatu yang organik, sesuatu yang tumbuh dari pengalaman kita. Ketika kita mengubahnya menjadi data, itu berhenti menjadi memori dalam arti yang sebenarnya; itu menjadi informasi yang dikendalikan oleh orang lain.” Pernyataan ini relevan dengan debat di Indonesia tentang siapa yang memiliki data pribadi yang di‑AI‑kan, terutama ketika perusahaan asing mengendalikan teknologi tersebut.
Ke depan, kemungkinan AI yang dapat “menghidupkan kembali” orang tercinta yang telah tiada mungkin akan menjadi kenyataan yang lebih luas di Asia, termasuk Indonesia. Pasar yang terbuka terhadap layanan digital, ditambah dengan minat budaya yang tinggi terhadap hubungan keluarga, bisa membuat teknologi ini cepat diadopsi. Namun, adopsi tersebut harus diimbangi dengan kerangka hukum yang jelas tentang persetujuan, hak cipta digital, dan dampak psikologis pengguna. Kore-eda sendiri berharap filmnya memicu percakapan yang lebih luas, bukan hanya tentang teknologi itu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai masyarakat menghadapi kehilangan di era digital.
*Sheep in the Box* bukan hanya sebuah drama sci-fi, tetapi juga cerminan dari ketegangan antara kemajuan teknologi dan nilai‑nilai kemanusiaan yang masih kitapegang. Di saat AI semakin merambah kehidupan sehari‑hari, film ini mengajak penonton untuk mempertimbangkan kembali definisi memori, identitas, dan duka di dunia yang semakin digerakkan oleh algoritma.