Silicon Valley sudah yakin bahwa agen AI adalah masa depan. Di jantung industri teknologi, para insider merancang sistem pembayaran untuk agen, mengotomatiskan pekerjaan mereka, dan baru-baru ini berusaha mencegah agen tersebut menyusup ke organisasi lain. Namun di dunia nyata, mayoritas orang belum pernah menyentuh agen AI sama sekali. Kesenjangan itu terungkap setelah Josh Miller, CEO The Browser Company, menuliskan ketidakpercayaannya di X: industri teknologi gila-gilaan pada agen, tapi publik umum tidak peduli.
Tulisan Miller yang viral itu bukan sekadar keluh kesah. Ia berbicara dari pengalaman membangun produk yang dibeli Atlassian seharga 610 juta dolar tahun lalu. Perusahaan ia, yang juga menciptakan browser Arc, menemukan fitur paling populer di browser AI terbaru mereka, Dia, justru bukan fitur "agen" yang menonjolkan kemampuan otonom. Fitur itu adalah briefing pagi personal: sapaan, daftar tugas dari kalender dan email, serta potongan seni acak untuk memicu keceriaan. Secara teknis ditenagai agen, tapi pengguna tidak perlu mengetahuinya.
Angka dari laboratorium AI besar memperkuat skeptisisme Miller. OpenAI mengaku Codex dan ChatGPT Work hanya memiliki sekitar 10 juta pengguna mingguan. Sumber dekat Anthropic mengatakan Claude Code dan Cowork mengalami adopsi serupa. Bandingkan dengan ChatGPT dan Gemini yang masing-masing menembus miliar pengguna bulanan — agen hanya kesalahan pembulatan. Para lab AI menghadapi dilema: mereka telah menghabiskan miliaran dollar melatih model yang mampu far more than chatting, tapi agen sebagai cara memonetisasi investasi itu gagal menembus pasar massal.
Kegagalan itu bukan soal kemampuan teknis. Para insider industri mengakui belum ada produk agen konsumen yang benar-benar menjadi "killer product". Saat ini konsumen menggunakan AI generatif untuk tugas sederhana: mencari informasi dan mengobrol. Agen menjanjikan eksekusi tugas kompleks — memesan tiket, menulis kode, mengelola email — namun produk yang dikirimkan terasa lebih seperti demo teknologi daripada solusi masalah nyata. Perusahaan mengirimkan hal paling mengesankan yang bisa dilakukan model mereka, bukan produk yang disesuaikan dengan keinginan pelanggan.
Miller menuding groupthink di industri AI sebagai akar masalah. Banyak pembangun terobsesi dengan visi fiksi ilmiah tertentu. Miller mengungkap, saat menjelajahi akuisisi musim panas lalu, hampir setiap laboratorium AI terkemuka menyebut film "Her" (2013) sebagai cara mereka mengartikulasikan visi. Kurangnya keragaman pendapat menciptakan produk yang seragam: asisten suara, antarmuka chat, otomatisasi browser. Semuanya mengejar mimpi yang sama, bukan memecahkan masalah yang berbeda.
Tren terbaru mencoba mengubah narasi dengan memberi pengguna kekuatan membangun perangkat lunak pribadi: otomatisasi deck presentasi, pengolahan dataset, tugas produktivitas khusus. Penulis artikel asli mengakui ChatGPT Work dan Claude Cowork lebih berguna dari pendahulunya. Tapi kolam pengguna yang tertarik membangun alat produktivitas sendiri terbatas. Industri butuh ide lebih besar untuk adopsi massal.
Di Indonesia, fenomena ini terasa relevan. Adopsi AI generatif di negara ini melonjak tajam sejak 2023, didorong ChatGPT dan Gemini yang gratis dan mudah diakses. Namun diskusi tentang "agen AI" masih terbatas di komunitas pengembang dan early adopter. Startup lokal seperti Nodeflux atau Kata.ai yang mengembangkan otomatisasi percakapan dan visi komputer lebih fokus pada solusi B2B — chatbot layanan pelanggan, analisis video keamanan — bukan agen konsumen otonom. Pendekatan itu justru selaras dengan argumen Miller: bangun produk yang memecahkan masalah spesifik, jangan jual konsep "agen".
Hambatan lain di Indonesia adalah infrastruktur dan biaya. Menjalankan agen yang butuh reasoning berulang dan pemanggilan alat (tool calling) membutuhkan komputasi berat dan latensi rendah. Banyak pengguna Indonesia mengandalkan koneksi seluler dengan kestabilan bervariasi. Produk agen yang bergantung pada eksekusi multi-langkah di cloud rapuh di lingkungan seperti itu. Solusi hybrid — pemrosesan ringan di perangkat, berat di cloud — baru mulai muncul di chip terbaru seperti Snapdragon 8 Elite atau Apple Intelligence, tapi penetrasi perangkat tersebut masih minim.
Regulasi juga jadi variabel. UU PDP yang mulai diberlakukan penuh 2025 menuntut transparansi pengambilan keputusan otomatis. Agen yang bertindak atas nama pengguna — memesan, membayar, bernegosiasi — menimbulkan pertanyaan hukum: siapa bertanggung jawab kalau agen salah pesan tiket kereta api? Produk yang menyembunyikan kompleksitas agen di balik antarmuka sederhana, seperti briefing pagi Dia, lebih mudah memenuhi kebutuhan transparansi daripada agen "black box" yang bertindak otonom penuh.
Miller berharap pesanannya tembus ke luar OpenAI dan Anthropic, menjangkau founder dan pembangun produk luas. Tujuannya mendorong pemikiran di luar kotak: seperti apa produk agen yang gembira, berguna, dan mudah didekati? "Siapa peduli apakah itu disebut agen atau tidak?" tanya Miller. Pertanyaan itu seharusnya jadi kompas bagi industri: bukan membangun agen karena teknologinya siap, tapi membangun produk karena manusia membutuhkannya.
Masa depan agen AI mungkin bukan pada antarmuka chat yang lebih pintar, melainkan pada kehadiran tak terlihat di balik fitur-fitur yang terasa alami. Briefing pagi yang mengetahui jadwal Anda. Penyunting foto yang memahami gaya Anda. Alat riset yang merangkum laporan sebelum Anda minum kopi. Semua itu ditenagai agen, tapi pengguna hanya merasakan: "Ini mempermudah hidupku." Itulah momen ChatGPT yang ditunggu industri — bukan peluncuran agen baru, tapi hilangnya kata "agen" dari percakapan sehari-hari.