Valve memastikan pasokan baterai pengganti untuk Steam Deck versi LCD akan kembali tersedia di toko suku cadang iFixit pada pekan depan. Kepastian ini disampaikan juru bicara Valve, Kaci Aitchison Boyle, kepada media The Verge pada Jumat sore waktu Amerika Serikat, menyusul keresahan pengguna yang sempat mendengar kabar penghentian produksi komponen tersebut.
Sebelumnya, CEO iFixit Kyle Wiens mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima informasi mengenai rencana Valve yang tidak lagi memproduksi baterai maupun layar pengganti untuk Steam Deck LCD generasi pertama. Kabar itu memicu kekhawatiran karena iFixit selama ini menjadi satu-satunya saluran resmi bagi pengguna yang ingin memperbaiki perangkat secara mandiri. Padahal, Valve dikenal sebagai perusahaan yang ramah terhadap hak perbaikan konsol portabelnya.
Keputusan Valve yang sempat hendak menghentikan stok baterai ini cukup mengejutkan mengingat perangkat tersebut baru berhenti dijual secara resmi pada Desember tahun lalu. Steam Deck LCD mulai dipasarkan pada 2022 dan langsung menjadi acuan bagi perangkat game portabel berbasis sistem operasi PC. Kebutuhan akan suku cadang pengganti baru mulai dirasakan pengguna ketika masa pakai baterai mulai menurun.
Menurut Wiens, Valve dan pemasoknya kemungkinan besar salah dalam memperkirakan jumlah komponen cadangan yang harus diproduksi. Jika prediksi terlalu rendah, stok akan habis lebih cepat. Sebaliknya, jika terlalu tinggi, biaya produksi menjadi sia-sia karena barang mengendap tak terpakai. Kesalahan forecast seperti ini lazim terjadi di industri perangkat keras, terutama untuk produk yang sudah tidak diproduksi utuh.
Isu ini sempat dikaitkan dengan regulasi Uni Eropa yang mewajibkan baterai perangkat elektronik baru dapat diganti oleh pengguna mulai Februari 2027. Aturan itu bahkan membuat Nintendo menghentikan Switch generasi pertama di Eropa dan meluncurkan versi khusus Switch 2 dengan baterai lepasan. Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku surut untuk Steam Deck LCD yang penjualannya sudah dihentikan Valve.
Di Amerika Serikat, undang-undang hak perbaikan di beberapa negara bagian juga tidak serta-merta menjamin ketersediaan baterai ini. Sebagian besar aturan tersebut secara eksplisit mengecualikan konsol game, kecuali Valve berani mengklaim perangkatnya adalah komputer pribadi. Situasi ini menunjukkan bahwa perlindungan konsumen terkait suku cadang masih beragam tergantung yurisdiksi.
Bagi pengguna di Indonesia, kabar ini relevan karena Steam Deck LCD cukup populer sebagai perangkat game impor meski tidak dipasarkan resmi. Banyak pemain lokal membelinya melalui perantara atau e-commerce luar negeri. Ketika baterai mulai rusak, akses ke iFixit menjadi satu-satunya jalur legal mendapatkan komponen standar pabrik.
Kendala utama bukan sekadar ketersediaan, melainkan proses penggantian yang rumit. Baterai Steam Deck LCD menempel kuat pada rangka menggunakan lem khusus. Pengguna tidak bisa mencabutnya sembarangan karena berisiko memicu kebakaran. Teknik pelepasan harus hati-hati dengan melunakkan lem terlebih dahulu, sebagaimana dijelaskan iFixit sejak 2022.
Desainer Valve pernah mengakui kepada The Verge bahwa mereka tidak sepenuhnya puas dengan jenis perekat tersebut. Ide tentang lem yang bisa dilepaskan secara elektrik sempat muncul, namun menurut Wiens teknologi shock-to-release umumnya terlalu mahal untuk dibenamkan di perangkat awal. Opsi aftermarket dengan biaya beberapa dolar lebih mahal baru mungkin menyediakannya.
Wiens menegaskan Valve adalah mitra yang sangat baik dalam hal hak perbaikan. Setelah koordinasi ulang, Valve menghubungkan iFixit dengan pemasok baru yang menggunakan komponen OEM sama seperti sebelumnya. Jika kelak Valve benar-benar menyetop suku cadang resmi, iFixit siap menggunakan pemasok aftermarket agar perangkat tetap bisa diperbaiki.
Ke depan, pengguna Steam Deck LCD dipastikan masih bisa mendapatkan baterai pekan depan melalui iFixit. Skenario terburuk pun sudah diantisipasi dengan rencana suplai alternatif. Tren perangkat portabel dengan baterai lebih ramah perbaikan kemungkinan baru matang beberapa tahun lagi seiring masuknya regulasi Uni Eropa dan tekanan komunitas right-to-repair.
Bagi ekosistem game portabel secara umum, langkah Valve memperbaiki koordinasi suplai menunjukkan bahwa transparansi dengan mitra perbaikan sangat menentukan kepercayaan pengguna. Di Indonesia, komunitas pemilik Steam Deck bisa bernapas lega karena akses suku cadang global tetap terbuka meski distribusi resmi terbatas.