Pertarungan ketat sedang berlangsung di balik layar dewan legislatif Washington D.C. soal rancangan undang-undang yang akan mengizinkan kendaraan otonom beroperasi di ibukota Amerika Serikat. Uber dan Waymo, dua raksasa yang pernah bermitra, kini berdiri di sisi berlawanan. Uber menolak rancangan itu dengan alasan akan menggeser pengemudi manusia dan menyerahkan monopoli de facto kepada Waymo. Sebaliknya, Waymo menjadi salah satu perusahaan sedikit yang mendukung proposal tersebut secara terbuka.
Rancangan undang-undang yang dievaluasi Dewan D.C. mengharuskan pengembang kendaraan otonom menyelesaikan uji coba 180 hari dengan jarak 250.000 mil, membayar biaya aplikasi 1 juta dolar, biaya izin 5 juta dolar, serta pajak 0,15 dolar per mil. Tesla melalui penasehat kebijakannya, India Herdman, menentang ketentuan-ketentuan itu dan berargumen bahwa mil uji coba dari yurisdiksi lain harus dihitung. Waymo, yang sudah menguji armada mereka dengan operator keselamatan di D.C., telah melampaui ambang 180 hari dan 250.000 mil — artinya mereka akan memasuki pasar minimal enam bulan lebih awal jika undang-undang disahkan apa adanya.
Konflik ini bukan muncul tiba-tiba. Beberapa minggu lalu, kemitraan Uber dan Waymo mulai retak. Uber mengusung pendekatan "hibrida" yang mewajibkan robotaxi beroperasi di atas platform ride-hailing bersama pengemudi manusia. Sumber internal menilai pendekatan itu punya peluang kecil menjadi hukum, tapi jika terwujud, Waymo terpaksa memilih: taruh armada di aplikasi Uber atau rekrut pengemudi manusia untuk armada robotaxi yang dikembangkan bertahun-tahun dengan belanja ratusan juta dolar.
Rapat dengar Dewan D.C. pada hari Senin lalu menghadirkan wakil Lyft, Tesla, Uber, Waymo, serta puluhan advokat disabilitas, serikat buruh, kelompok keamanan jalan, dan pakar kebijakan. Kesimpulan jurnalis TechCrunch berdasarkan testimoni publik dan komunikasi lanjutan: Waymo relatif sendirian mendukung rancangan, sementara mayoritas industri menentang. Tesla bukan satu-satunya yang keberatan — beberapa pengembang AV lain menyuarakan kekhawatiran serupa soal biaya dan beban uji coba yang dianggap tidak proporsional.
Di sisi lain, Uber sedang memperluas kaki bisnis delivery-nya melalui akuisisi Delivery Hero bernilai 14,8 miliar dolar. Jika lolos hambatan regulasi, Uber akan menguasai hampir 100 pasar di Eropa, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia — menggandakan jejak delivery mereka. Delivery Hero juga menjual bisnis di 14 pasar tempat Uber Eats sudah hadir ke SSW Partners seharga 1,6 miliar dolar. Gerakan ini memperkuat posisi Uber sebagai raksasa ride-hailing dan delivery global, sekaligus memberi mereka leverage lebih besar dalam negosiasi kebijakan AV di berbagai yurisdiksi.
Perang lobi di D.C. mencerminkan dinamika yang lebih luas: siapa yang menulis aturan main, dia yang menentukan pemenang. Waymo, dengan keunggulan mil uji coba dan data dunia nyata, ingin aturan yang mengunci keuntungan first-mover. Uber, yang model bisnisnya bergantung pada jaringan pengemudi manusia, ingin aturan yang memaksa integrasi — menjaga relevansi platform mereka. Tesla, yang mengandalkan pendekatan berbasis kamera dan data armada milik pelanggan, menolak kerangka yang dirancang untuk pemain Lakukan untuk arsitektur lidar dan armada milik perusahaan.
Kendati demikian, tidak semua suara datang dari ruang direksi. Advokat aksesibilitas mendesak agar robotaxi dirancang inklusif sejak awal — kursi roda, penumpang buta, dan lansia tidak boleh jadi pemikiran belakangan. Serikat buruh mengingatkan bahwa transisi ke otonomi tidak boleh berarti pengupahan massal tanpa jaring pengaman. Pemerintah kota khawatir soal kemacetan, keamanan, dan pendapatan pajak. Semua kepentingan ini bertabrakan di ruang rapat yang sama.
Insiden Waymo di San Francisco pada 4 Juli lalu menambah bahan bakar. Ribuan robotaxi macet di kemacetan parah, kehabisan daya, dan memblokir jalan utama. Walikota Daniel Lurie menuntut empat persyaratan keras: protokol darurat yang andal, komunikasi real-time dengan kota, batas armada saat acara besar, dan sanksi bagi pelanggar. Kasus ini jadi bukti nyata bahwa teknologi siap jalan, tapi operasional skala besar masih rapuh.
Di Indonesia, pertarungan serupa belum terlihat di permukaan, tapi benih-benihnya sudah tertanam. Gojek dan Grab telah bereksperimen dengan pengiriman otonom dan mitra kendaraan listrik. Kementerian Perhubungan mulai menyusun kerangka regulasi kendaraan otonom, sementara BNN dan Polri menguji drone dan mobil tanpa pengemudi untuk keperluan khusus. Pelajaran dari D.C. jelas: regulasi yang terlalu longgar menciptakan kekacauan, terlalu kaku membunuh inovasi, dan yang paling berbahaya — regulasi yang ditulis oleh satu pemain untuk mengunci pasar.
Langkah selanjutnya di D.C. akan menentukan preseden. Jika Dewan melewatkan rancangan asli, Waymo mendapatkan jalan bebas enam bulan. Jika kompromi hibrida Uber lolos, model bisnis AV bergeser ke platform ride-hailing. Jika Tesla berhasil melobby penghapusan batas mil uji coba, pintu terbuka bagi armada Tesla pribadi (Robotaxi Network) untuk bersaing langsung. Satu hal pasti: aturan yang dibuat hari ini akan mengatur siapa yang menguasai jalan raya dua puluh tahun mendatang — bukan di Amerika saja, tapi di setiap kota yang meniru model regulasinya.