Tahun 2026 menandai perluasan distribusi televisi dengan teknologi backlight mini RGB ke berbagai ukuran dan rentang harga. Setelah peluncuran perdana pada 2025, produsen seperti LG, Samsung, TCL, dan Hisense kini memasukkan panel ini ke lini produk utama mereka. Pengujian langsung terhadap lima model baru membuktikan bahwa tampilan yang dihasilkan jauh lebih vivid dibandingkan televisi LED konvensional.
Konsep dasarnya cukup sederhana namun revolusioner. Televisi ini tetap menggunakan panel LCD, namun sumber cahaya belakangnya tidak lagi mengandalkan dioda putih atau biru. Modul backlight merah, hijau, dan biru dipancarkan secara terpisah sehingga warna dapat dikontrol sejak dari sumber cahaya. Menurut Hisense, pendekatan ini bertujuan menghasilkan “warna murni langsung dari sumber”.
Munculnya mini RGB tidak lepas dari upaya produsen untuk terus menyegarkan pasar televisi LCD yang mulai jenuh. Teknologi OLED menawarkan kontras sempurna berkat kemampuan setiap piksel mematikan diri sendiri, tetapi harganya mahal dan berisiko burn-in. Mini RGB hadir sebagai jembatan: mempertahankan panel LCD yang murah diproduksi sambil mendekati kualitas visual OLED.
Perbedaan penamaan antarvendor kerap membingungkan konsumen. Samsung dan LG menyebutnya “micro RGB” karena menggunakan dioda lebih kecil, sementara TCL dan Hisense memakai istilah “mini RGB”. Sony menggunakan label “True RGB” dan mengklaim tak ada bedanya secara teknis. Pada praktiknya, semua varian bekerja dengan prinsip serupa.
Dalam pengujian lapangan, teknologi ini menunjukkan keunggulan nyata pada kecerahan dan sudut pandang. Tayangan siang hari tetap terbaca jelas, dan penonton yang duduk di sisi ruangan masih mendapatkan warna akurat. Hal ini sulit didapat pada televisi LED biasa tanpa lapisan anti-glare mahal.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran mini RGB membawa pertimbangan baru di segmen premium. OLED 65 inci dari LG atau Samsung saat ini dibanderol sekitar 42 juta rupiah di pasar lokal. Sementara itu, televisi mini RGB berukuran sama di Amerika Serikat dibanderol hampir 4.000 dolar, setara 62 juta rupiah belum termasuk pajak impor. Selisih harga membuatnya menjadi barang mewah ekstrem.
Pasar elektronik dalam negeri masih didominasi oleh televisi LED dan QLED dengan harga terjangkau, bahkan ada yang di bawah 8 juta rupiah untuk ukuran 55 inci. Merek lokal seperti Polytron belum mengumumkan rencana membawa teknologi RGB ke Indonesia. Konsumen tanah air cenderung memprioritaskan ketahanan dan harga daripada peningkatan kontras marginal.
Di sisi lain, komunitas penggemar home theater di Jakarta dan kota besar mungkin menyambutnya sebagai opsi alternatif OLED. Ketersediaan melalui jalur impor langsung atau marketplace internasional bisa terjadi dalam satu atau dua tahun. Tantangannya adalah layanan garansi yang tidak pasti jika barang dibeli dari luar negeri.
Hisense, sebagai pelopor, menegaskan bahwa teknologi ini adalah upaya menghasilkan warna murni sejak dari sumber cahaya. Sang penguji dari Wired, John Brandon, mencatat bahwa mini RGB ibarat mobil sport: kemampuannya baru terlihat setelah pengguna mengubah pengaturan gambar secara mendalam. Tanpa tweak, mode bawaan seperti Filmmaker seringkali terlalu gelap.
LG Micro RGB Evo menjadi contoh nyata kemampuan tersebut. Model 75 inci yang dijual 4.500 dolar tersebut menyuguhkan kepekatan hitam dan merah pada film Tron: Ares. Brandon juga menemukan opsi penyesuaian white balance dan saturasi hampir tanpa batas. Namun, ia mengalami kendala variable refresh rate saat menghubungkan laptop gaming tertentu.
Ke depan, harga televisi mini RGB diprediksi melandai seiring meningkatnya volume produksi panel. Sejarah industri elektronik menunjukkan bahwa teknologi baru biasanya turun harga dalam 18–24 bulan setelah peluncuran massal. Indonesia kemungkinan akan menyusul setelah penetrasi di pasar Amerika dan Eropa stabil.
Meski demikian, OLED tetap menjadi rekomendasi utama untuk waktu dekat karena kontrol piksel per piksel masih unggul. Mini RGB adalah evolusi, bukan revolusi. Produsen televisi dalam negeri perlu menyiapkan strategi jika ingin ikut bersaing saat teknologi ini akhirnya merambah pasar Asia Tenggara.