Gartner memprediksi bahwa lebih dari satu dari sepuluh perusahaan di dunia akan mengadopsi model bisnis 'AI-first' pada tahun 2030. Perubahan paradigma ini akan membuat perusahaan tersebut unggul dibandingkan kompetitor melalui pemanfaatan agen AI, semantik, serta platform data dan analitik (D&A) yang terintegrasi. Carlie Idoine, VP Analyst di Gartner, menekankan bahwa organisasi kini bergerak cepat menuju model operasional di mana kecerdasan buatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan bisnis, alur kerja, dan investasi strategis.
Tren pertama yang disoroti adalah percepatan Sovereign AI atau kedaulatan AI. Seiring dengan posisi AI sebagai pilar kekuatan ekonomi baru, banyak negara kini memprioritaskan kendali atas infrastruktur AI mereka sendiri guna meminimalkan ketergantungan pada pihak asing. Lokalisasi kontrol data menjadi komponen krusial dalam realitas geopolitik ini. Perusahaan diwajibkan untuk memodernisasi peta jalan D&A mereka agar mampu mengubah penggunaan AI dari sekadar alat bantu menjadi keunggulan kompetitif yang tangguh.
Tren kedua berkaitan dengan mitigasi risiko melalui tata kelola keputusan (decision governance). Mengingat agen AI semakin sering dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis dan operasional, risiko hukum serta reputasi menjadi ancaman nyata jika tidak dikelola dengan baik. Gartner memprediksi bahwa keputusan bisnis yang dimodelkan secara eksplisit akan lima kali lebih dipercaya dan 80% lebih cepat dibandingkan keputusan tanpa tata kelola pada tahun 2029, berkat adopsi platform kecerdasan keputusan.
Tren ketiga adalah penguatan kepercayaan melalui platform tata kelola AI. Metode jaminan standar saat ini dianggap tidak lagi memadai di tengah kompleksitas regulasi global dan munculnya risiko baru dari agen AI otonom. Penggunaan platform tata kelola AI sangat direkomendasikan bagi para pemimpin D&A untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan perusahaan, regulasi pemerintah, serta standar industri. Platform ini memberikan pengawasan terpusat dan kerangka kerja manajemen risiko yang terstandarisasi.
Tren keempat difokuskan pada agentic data streaming yang mendukung kecerdasan waktu nyata. Berbeda dengan pemrosesan data berbasis batch tradisional yang sering kali terlalu lambat untuk kebutuhan modern, streaming data berbasis peristiwa memungkinkan aliran informasi yang berkelanjutan. Hal ini menjadi krusial bagi organisasi yang ingin memberdayakan agen AI agar dapat menjalankan tugas dengan kecepatan dan akurasi yang lebih tinggi dalam lingkungan bisnis yang dinamis.
Secara keseluruhan, transisi menuju perusahaan berbasis AI memerlukan komitmen lintas divisi yang jelas dan terencana. Tanpa strategi yang matang, organisasi akan kesulitan untuk merealisasikan potensi penuh dari teknologi AI. Gartner menyarankan para pemimpin bisnis untuk segera mengintegrasikan keempat tren ini ke dalam strategi D&A mereka dalam dua tahun ke depan guna memastikan kesiapan perusahaan menghadapi tantangan teknologi masa depan.