Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth baru saja mengumumkan program pemeriksaan testosteron tahunan bagi personel militer. Mereka yang berusia 30 tahun ke atas wajib menjalani tes, sementara yang lebih muda boleh ikut secara sukarela. Hegseth juga menawarkan terapi pengganti testosteron (TRT) jika hasil tes menunjukkan kekurangan hormon, meskipun ia menekankan bahwa pengobatan bersifat opsional.
Pengumuman ini disampaikan melalui video di akun X resminya pada Rabu lalu. Hegseth mengklaim program ini bertujuan memulihkan 'dasar biologis' yang diperlukan untuk 'mempertahankan pertempuran' dan meningkatkan performa, ketahanan, serta kesehatan jangka panjang prajurit. Namun, di balik retorika maskulinitas itu, para ahli melihat kebijakan ini didasarkan pada pemahaman yang keliru tentang endokrinologi.
Langkah ini bukan tiba-tiba. Sejak menjabat, Hegseth terus mendorong militer yang lebih maskulin. Ia berulang kali mengkritik standar kebugaran yang menurutnya diturunkan untuk mengakomodasi perempuan, dan sering tampil berolahraga bersama prajurit untuk menunjukkan citra 'warrior ethos'. Tes testosteron adalah alat paling konkret—dan paling kontroversial—dalam misinya mengubah budaya militer AS.
Rencana ini juga selaras dengan gerakan 'high T' yang populer di kalangan manosphere dan didengungkan oleh tokoh seperti podcaster Joe Rogan, yang secara terbuka menjalani TRT dan merekomendasikannya untuk pria di atas 40 tahun. Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr., pendukung setia pengobatan alternatif, bahkan berupaya menghapus label peringatan efek samping kardiovaskular pada produk TRT.
Kebijakan ini menuai kritik tajam dari akademisi. Dr. Adrian Dobs, peneliti fungsi endokrin gonad dari Johns Hopkins University, menyatakan keterkejutannya. Menurut Dobs, diagnosis hipogonadisme—kondisi rendahnya testosteron—sangat rumit dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Kadar testosteron dipengaruhi ritme sirkadian: lebih tinggi di pagi hari dan menurun sepanjang hari. Metode tes pun bervariasi hasilnya.
Yang lebih rumit, kondisi fisik dan mental seseorang saat tes sangat memengaruhi kadar hormon. 'Prajurit yang baru kembali dari latihan berat atau tugas luar negeri dalam kondisi stres kronis akan memiliki kadar testosteron rendah sementara,' kata Dobs. Itu adalah respons fisiologis normal, bukan gangguan yang perlu diobati. Namun Hegseth menyamaratakannya sebagai kekurangan yang harus diperbaiki.
Klaim bahwa TRT bisa meningkatkan performa dan umur panjang juga tidak berdasar. 'Testosteron tidak akan membuat Anda lebih cerdas atau hidup lebih lama—tidak ada data yang mendukung itu,' tegas Dobs. Sebaliknya, terapi hormon ini memiliki risiko nyata: produksi sperma menurun drastis, testis menyusut, serta darah bisa mengental sehingga jantung bekerja lebih keras. Bagi prajurit berusia 20-30 tahun yang masih dalam puncak masa reproduksi, efek samping ini sangat serius dan bisa permanen.
Di Indonesia, wacana serupa belum muncul di lingkungan militer, tetapi pengaruh gerakan 'high T' sudah merambah melalui media sosial. Banyak pria Indonesia tergoda membeli suplemen atau terapi testosteron ilegal demi meningkatkan kebugaran dan kepercayaan diri. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebijakan kesehatan berbasis ideologi—bukan sains—dapat berakibat fatal. Institusi militer Indonesia pun harus waspada terhadap tren serupa yang mungkin muncul.
Dobs mengingatkan bahwa protokol medis seharusnya mencari akar penyebab rendahnya testosteron sebelum intervensi hormonal. Bisa jadi penyebabnya adalah penyakit ginjal, hati, diabetes, atau bahkan tumor pituitari. 'Ini bukan hal yang sederhana dan jinak. Anda tidak bisa melakukannya tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi pada pasien,' ujarnya.
Hingga kini Pentagon belum menjelaskan dasar ilmiah program ini, termasuk apakah personel perempuan juga akan diikutsertakan. Publik pun tidak tahu penelitian dan ahli medis mana yang dimintai pendapat. Ketidakjelasan ini memicu dugaan bahwa kebijakan diambil berdasarkan preferensi ideologis internal, bukan rekomendasi medis.
Ke depan, jika kebijakan ini tetap dijalankan tanpa persiapan diagnostik yang memadai, munculnya kasus efek samping serius pada prajurit hanyalah soal waktu. Hegseth mungkin akan terus mendorong visinya tentang militer yang lebih jantan. Namun, di tengah sains yang terus berkembang, mengemas kebijakan kesehatan dengan retorika maskulinitas tanpa dasar bukti adalah langkah mundur yang berpotensi merugikan banyak nyawa.