Filsuf Universitas Chicago, Agnes Callard, merilis konsep baru yang disebut "uni-konteks" guna membedah fenomena aneh dalam interaksi manusia di era digital. Teori ini menawarkan jawaban tunggal mengapa media terasa penuh kabar buruk, mengapa kita sulit berhenti membandingkan diri, serta mengapa karya seni dan desain kini sering terlihat seragam.
Konsep uni-konteks merupakan perluasan dari gagasan "kolapsnya konteks" (context collapse) yang sudah dikenal luas. Pada media sosial, seseorang berhadapan dengan atasan, orang tua, mantan pasangan, dan orang asing secara bersamaan. Di dunia nyata, perilaku kita berubah tergantung ruang: hormat di kantor, kekanak-kanakan di rumah orang tua, atau jenaka bersama teman. Namun, internet meratakan semua batasan tersebut ke dalam satu ruang universal.
Callard membawa gagasan ini lebih jauh. Ia mempertanyakan bagaimana norma moral, etika, dan perasaan tentang kebaikan berubah ketika kita membayangkan diri hidup di satu ruangan raksasa bersama seluruh umat manusia. Menurutnya, uni-konteks adalah skenario di mana cara bertindak menjadi seragam melintasi semua situasi. Hanya ada satu set aturan yang harus diikuti tanpa mempedulikan latar belakangnya.
Latar belakang munculnya teori ini bersandar pada perubahan teknologi telekomunikasi selama 150 tahun terakhir. Sebuah survei ilmu sosial berjudul Recent Social Trends yang diterbitkan pada 1933 pernah menganalisis kondisi Amerika Serikat pada 1926. Penulisnya menyimpulkan bahwa radio menghancurkan individualitas karena meledakkan batas ruang orang-orang, membuat mereka hadir secara global di berbagai tempat sekaligus.
Namun, Callard menegaskan bahwa uni-konteks bukan sekadar produk determinisme teknologi. Ia menyoroti alasan mengapa teknologi seperti radio, televisi, dan telepon pintar bisa begitu populer dan menguasai kebiasaan manusia. Teknologi tersebut menangkap dorongan batin manusia untuk keluar dari dunia kecil yang terasa sempit. Ada hasrat mendasar untuk menjadi lebih besar dari diri sendiri, untuk berada di mana-mana, dan mengetahui segalanya.
Dorongan petualang ini membawa manusia ke perubahan norma yang jauh lebih radikal. Alih-alih sekadar pindah tempat, uni-konteks mendorong manusia hidup dalam realitas yang sepenuhnya terbuka. Hal ini relevan dengan kondisi di Indonesia, negara dengan penetrasi pengguna internet sangat masif. Berdasarkan data literasi digital, jutaan warga Indonesia bergabung dalam ruang obrolan keluarga di WhatsApp sekaligus berpartisipasi dalam debat publik di X atau TikTok tanpa memisahkan identitasnya.
Bagi pembaca Indonesia, teori uni-konteks menjelaskan mengapa ruang digital lokal kerap dipenuhi kecaman dan polarisasi. Ketika seseorang mencoba dipahami oleh kelompok besar, ia cenderung menggunakan bahasa yang universal. Kebaikan sangat bergantung pada konteks lokal, namun penderitaan seperti kematian, rasa sakit, dan kekerasan bersifat universal. Akibatnya, algoritma dan pengguna membanjiri linimasa dengan narasi negatif karena itu yang paling mudah dipahami semua orang.
Dampaknya meluas ke industri kreatif dan desain di Tanah Air. Jika norma estetika melebur, karya yang dihasilkan cenderung meniru tren global agar bisa diterima pasar internasional. Keunikan lokal tergerus karena pencipta merasa harus mematuhi satu selera tunggal yang berlaku di "ruang universal" tersebut. Ini membuat banyak produk digital dan visual Indonesia kehilangan ciri khasnya.
"Konteks adalah seperangkat keadaan yang memberi tahu Anda bagaimana seharusnya bertindak," ujar Callard menjelaskan akar teorinya. Ia menambahkan bahwa untuk sebagian besar sejarah manusia, konteks bersifat lokal dan beragam, seperti berada di ladang, di dalam rumah, atau di gereja.
Lebih lanjut, filsuf tersebut menyoroti bias negativitas di dunia maya. "Pada umumnya, kebaikan lebih bergantung pada konteks daripada keburukan. Tidak ada hal yang benar-benar baik sepanjang waktu untuk semua orang di luar konteks. Namun, ada cara yang pasti untuk membuat orang tidak bahagia, seperti kematian, rasa sakit, dan penyakit," jelasnya.
Ke depan, tren uni-konteks diprediksi semakin menguat seiring hadirnya kecerdasan buatan dan metaverse. Teknologi baru akan terus memfasilitasi hasrat manusia untuk lepas dari keterbatasan ruang fisik. Jika tidak disadari, masyarakat akan semakin terjebak dalam satu ruang norma yang seragam dan kehilangan kekayaan konteks lokal yang selama ini membentuk identitas budaya.
Edukasi literasi digital di Indonesia harus mulai memasukkan kesadaran akan kolapsnya konteks ini. Pengguna perlu diajak memahami bahwa memisahkan ruang privat dan publik secara sadar adalah bentuk pelestarian individualitas. Tanpa langkah tersebut, ruang maya akan terus terasa "aneh" dan menekan karena kita semua dipaksa berakting di atas panggung yang sama.