Apple TV+ resmi mengembalikan serial komedi olahraga paling ikoniknya, Ted Lasso, untuk musim keempat yang mulai tayang 5 Agustus 2025. Kehadiran musim ini menandai titik balik bagi layanan streaming milik Apple yang terus memperluas katalog aslinya demi bersaing dengan raksasa industri seperti Netflix dan Disney+ Hotstar. Berbeda dengan tiga musim sebelumnya yang berfokus pada tim putra, musim terbaru ini menggeser sorot ke tim sepak bola putri AFC Richmond — sebuah narasi baru yang sekaligus menjadi reboot lunak bagi franchise ini.
Finale musim ketiga yang tayang 2023 terasa seperti penutup yang sempurna. Ted Lasso (Jason Sudeikis) pulang ke Amerika Serikat untuk merawat putranya, Roy Kent (Brett Goldstein) dipromosikan jadi pelatih kepala AFC Richmond, dan Rebecca Welton (Hannah Waddingham) bersama Keeley Jones (Juno Temple) serta Higgins (Jeremy Swift) mulai merencanakan tim putri. Episode penutup itu berjudul "So Long, Farewell" — tapi rencana tim putri itulah yang memicu kembali roda cerita.
Musim keempat dibuka dengan suasana yang asing. Ted kini bekerja paruh waktu di toko grosir di Kansas City agar punya lebih banyak waktu untuk anaknya. Rebecca, Keeley, dan Higgins datang ke sana untuk meyakinkan dia memimpin tim putri AFC Richmond yang baru dibentuk. Selama satu episode penuh, penonton disajikan reuni para sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, sambil menunggu keputusan Ted yang sudah pasti: dia akan menerima tawaran itu.
Setelah premis transisional itu, latar cerita kembali ke Inggris dengan nuansa yang lebih familiar — tapi dengan wajah-wajah baru. Pemain-pemain bintang musim lalu seperti Jamie Tartt (Phil Dunster), Sam Obisanya (Toheeb Jimoh), dan Dani Rojas (Cristo Fernández) tidak muncul, kecuali sebutan singkat. Ganti mereka, hadir skuad baru penuh semangat: kiper keras kepala Jude Mack yang menolak pakai sarung tangan, Faye Marsay ibu rumah tangga yang lolos seleksi terbuka secara spontan, dan Abbie Hern penyerang andalan yang menyelesaikan gelar hukum sambil bermain. Pelatih asisten Alice (Tanya Reynolds) hadir sebagai konterpartis yang lebih tegas bagi optimisme Ted.
Keputusan mengganti seluruh pemain inti adalah taruhan berisiko. Tiga musim penuh telah membangun ikatan emosional penonton dengan karakter-karakter lama. Namun setidaknya di lima episode awal yang disediakan untuk pers, musim keempat berhasil menangkap kembali semangat yang membuat Ted Lasso jadi fenomena budaya: kehangatan, humor, dan kebijaksanaan sederhana di tengah tekanan kompetitif. Lebih dari itu, serial ini tidak mengabaikan realitas keras sepak bola putri: fasilitas minim, liputan media sepi, hingga lakan cedera parah yang mengancam karir para atlet.
Konteks peluncuran musim ini sangat berbeda dari debut 2020. Saat itu, Apple TV+ masih layanan baru dengan katalog tipis. Kini, platform ini sudah punya pesona tersendiri berkat keberhasilan Severance, Silo, dan thriller paranoid terbaru seperti Pluribus. Ted Lasso tidak lagi sendirian jadi "wajah" Apple TV+ — tapi dia tetap jadi simbol budaya yang paling luaskan jangkauan. Kembalinya sepak bola ke puncak perhatian global, didorong Piala Dunia Putra 2022 yang kontroversial namun sukses komersial, serta Piala Dunia Putri 2027 yang mendekat, menciptakan momentum sempurna.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran musim keempat ini relevan di dua lapisan. Pertama, Apple TV+ semakin agresif menembak pasar Asia Tenggara dengan harga berlangganan yang kompetitif — sekitar Rp 59.000 per bulan — dan dukungan subtitle serta dubbing bahasa Indonesia yang semakin lengkap. Kedua, narasi sepak bola putri mulai mendapat perhatian serius di tanah air, seiring naiknya Liga 1 Putri dan performa timnas putri di panggung regional. Serial ini bisa jadi gerbang budaya pop yang memperkenalkan dinamika sepak bola putri ke audiens luas yang belum familiar.
Andrew Webster dari The Verge menilai bahwa meski sulit mereplikasi "keajaiban" musim-musim awal, musim keempat ini hadir pada waktu yang strategis bagi Apple. "Layanan ini terlihat naik daun, dan minat global pada sepak bola — khususnya sepak bola putri — sedang puncak," tulisnya. Ia juga menyoroti bagaimana serial ini memanfaatkan konteks baru untuk menyajikan pelajaran hidup khas Ted Lasso tanpa terasa geprek.
Di sisi produksi, Jason Sudeikis tetap terlibat sebagai produser eksekutif dan penulis, bersama Brendan Hunt dan Joe Kelly. Apple tidak membocorkan anggaran produksi musim ini, namun insider industri memperkirakan biaya per episode melonjak signifikan dibanding musim pertama yang dikabarkan kisaran USD 500.000–750.000 per episode. Peningkatan ini sejalan dengan status serial sebagai aset intelektual paling berharga Apple TV+.
Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah musim keempat ini akan jadi penutup nyata, atau malah membuka pintu spin-off. Beberapa karakter baru — terutama Alice dan tiga pemain inti tim putri — memiliki kedalaman yang cukup untuk dibangun narasi mandiri. Apple juga belum mengonfirmasi apakah Jason Sudeikis akan kembali untuk musim kelima, mengingat dia sebelumnya menyatakan musim ketiga dirancang sebagai akhir. Namun dengan angka penayangan yang diharapkan kuat, keputusan bisnis kemungkinan besar akan mengalahkan niat kreatif awal.
Bagi penonton Indonesia yang ingin menonton, semua episode musim keempat akan tersedia eksklusif di Apple TV+ mulai 5 Agustus 2025, dengan pola rilis mingguan (satu episode per pekan) setelah premiere dua episode sekaligus. Strategi ini dirancang untuk mempertahankan retensi langganan di tengah musim libur dan musim panas serial Asia Tenggara yang padat. Ted Lasso mungkin sudah berubah wajah, tapi misinya sama: mengingatkan kita bahwa kebaikan, meski kliise, tetap layak diperjuangkan — kini di lapangan hijau yang selama ini terlalu lama diabaikan.