Relay, sebuah startup otomatisasi alur kerja berbasis kecerdasan buatan yang diluncurkan pada 2021, akan ditutup pada September mendatang. Pengaksesan bagi pelanggan berbayar akan dihentikan pada 14 September 2026, sementara pengguna gratis kehilangan aksesnya sejak 15 Agustus lalu.
Dalam pengumumannya, pendiri dan CEO Relay, Jacob Bank, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari proses evaluasi pasca peluncuran. Bank yang sebelumnya pernah bekerja di Google selama lebih dari enam tahun, kini akan kembali bergabung dengan perusahaan teknologi raksasa itu sebagai VP of Product untuk tim Google Chrome.
Relay hadir sebagai upaya untuk menjadi pengganti baru Zapier dalam dunia otomatisasi alur kerja. Aplikasinya memungkinkan bisnis untuk menyederhanakan tugas berulang seperti penyuntingan dokumen, penulisan salinan, hingga manajemen proyek. Namun, seiring dengan persaingan yang semakin ketat di pasar AI, startup ini tidak berhasil mencapai skala yang diinginkan.
Latar belakang penutupan ini dapat dilihat dari dinamika pasar yang tidak menentu. Banyak startup AI yang bersaing untuk merevolusi produktivitas kerja, namun kesulitan bertahan tanpa pendanaan lanjutan atau model bisnis yang jelas. Relay mungkin kesulitan menemukan keunikan yang cukup kuat untuk bersaing dengan solusi yang sudah mapan seperti Zapier atau Make.
Keputusan Bank untuk kembali ke Google juga menimbulkan pertanyaan tentang strategi perusahaan dalam mengembangkan teknologi AI. Dengan pengalamannya di Timeful — startup sebelumnya yang juga fokus pada produktivitas — Bank membawa pengetahuan mendalam tentang integrasi AI ke dalam pengalaman pengguna sehari-hari.
Dampaknya bagi industri teknologi global cukup signifikan. Penutupan Relay menunjukkan betapa rapuhnya pasar startup AI, terutama yang bersaing di sektor produktivitas. Banyak ide bagus tidak cukup untuk bertahan tanpa dukungan pasar yang stabil.
Untuk pengguna Indonesia, penutupan ini berarti hilangnya alternatif lokal dalam otomatisasi alur kerja. Meskipun belum ada produk serupa yang dikembangkan oleh startup Indonesia, peluang ini membuka ruang bagi pengembang lokal untuk menciptakan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar Asia Pasifik.
Sementara itu, integrasi AI ke dalam Chrome semakin penting bagi Google. Dengan lebih dari 1 miliar pengguna Gemini, perusahaan tidak bisa ketinggalan tren. Rekrutmen Bank ke tim Chrome menunjukkan komitmen Google untuk mempercepat inovasi AI di peramban utama mereka.
Bank menyampaikan visinya melalui platform X-nya: "Saya telah menghabiskan seluruh karier saya untuk satu hal: membangun alat yang membantu orang menyelesaikan pekerjaan dengan AI, tanpa mengorbankan kreativitas atau wawasan pribadi." Ia menambahkan, "Kami memiliki banyak rencana ambisius untuk membantu Anda bekerja dengan AI di Chrome."
Dengan pengalaman Bank di Gmail, Google Calendar, dan Google Chat, ia diposisikan untuk membawa perspektif penggunaan AI yang lebih holistik ke Chrome. Integrasi antara Gemini dan fitur produktivitas browser dapat menjadi langkah logis berikutnya.
Namun, tantangan tetap ada. Penggunaan AI di peramban harus tetap menjaga privasi dan keamanan data. Google harus menyeimbarkan inovasi dengan tanggung jawab, terutama di pasar yang sensitif seperti Indonesia.
Ke depan, kita dapat menyaksikan evolusi Chrome sebagai pusat AI asisten pribadi. Dengan Bank di pimpinan, integrasi antara berbagai layanan Google dan AI lokal mungkin menjadi lebih lancar.
Tren ini juga mendorong pertumbuhan ekosistem pengembang. Lebih banyak API dan alat AI yang tersedia berarti lebih banyak startup lokal bisa berinovasi tanpa harus memulai dari nol.
Untuk Indonesia, peluang ini terbuka lebar. Startup teknologi setempat dapat belajar dari pengalaman Relay dan mengembangkan solusi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kunci utamanya adalah memahami kebutuhan pengguna lokal dan membangun dengan sumber daya yang ada.
Penutupan Relay adalah pelajaran berharga bagi seluruh ekosistem startup AI. Bahwa inovasi teknologi saja tidak cukup — keberhasilan juga bergantung pada strategi pasar, pendanaan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan cepat di dunia AI.
Di sisi lain, keputusan Google untuk memperkuat tim Chrome dengan bakat dari luar menunjukkan ambisinya untuk menjadi pemimpin dalam revolusi AI. Bagaimanapun, keberhasilan integrasi ini akan menentukan apakah AI benar-benar bisa menjadi mitra setia pengguna dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.
Sementara itu, para pengamat mengawasi perkembangan pasar startup AI secara global. Penutupan Relay bisa menjadi sinyal bahwa konsolidasi pasar semakin mendekat, dan hanya perusahaan dengan sumber daya kuat yang bisa bertahan lama.
Dalam konteks ini, penting bagi pengembang dan startup Indonesia untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi menciptakan nilai tambah yang unik. Dengan demikian, mereka dapat bersaing di kancah global tanpa kehilangan identitas lokal yang berharga.