Uji coba penerbangan ke-13 roket Starship milik SpaceX terhenti tepat satu detik sebelum lepas landas di Starbase, Texas, setelah beberapa mesin Raptor pada booster Super Heavy gagal menyala.
Sistem otomatis mendeteksi anomali dan mematikan sekuens peluncuran, sehingga roket tidak pernah meninggalkan platform.
Starship dirancang sebagai kendaraan sepenuhnya reusable untuk misi orbit, Bulan, dan Mars; uji coba ini merupakan bagian dari program pengembangan iteratif yang sudah melakukan 12 penerbangan sebelumnya dengan tingkat keberhasilan bervariasi.
Kegagalan mesin pada tahap awal menyalakan api bukan hal baru dalam pengembangan roket besar, namun frekuensi pembatalan di detik terakhir menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan produksi massal mesin Raptor.
Pasar merespons dengan cepat; saham SpaceX yang baru melantai di bursa bulan lalu turun sekitar 3 persen dalam perdagangan pasca-pasar, menutup di level US$131,11 — pertama kali di bawah harga IPO US$135.
Bagi industri antariksa Indonesia yang sedang merencanakan satelit sendiri dan kerjasama peluncuran, insiden ini mengingatkan bahwa jadwal peluncuran komersial tetap bergantung pada kesiapan teknologi penyedia layanan roket.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) serta startup seperti PT Satelit Nusantara harus mempertimbangkan buffer waktu dan opsi cadangan jika Starship dijadwalkan sebagai peluncur utama di masa depan.
Elon Musk melalui akun X menyatakan bahwa dua mesin Raptor akan dicopot dan diganti, serta menargetkan peluncuran ulang pada awal minggu depan.
Meskipun Musk tidak merinci jumlah mesin yang gagal, keputusan mengganti unit menunjukkan pendekatan mitigasi risiko yang ketat, berbeda dengan kebiasaan sebelumnya yang sering mencoba meluncur ulang tanpa inspeksi mendalam.
Jika penggantian mesin berjalan lancar, SpaceX berharap dapat melanjutkan deretan uji coba menuju demonstrasi orbit penuh pada akhir tahun, namun setiap hari tunda menambah biaya operasional dan tekanan pada investor.
Dalam jangka panjang, keandalan Starship menentukan kelangsungan program Artemis NASA dan rencana koloni Mars, sehingga setiap kegagalan kecil dipantau secara global.
Pemantauan lanjutan akan fokus pada hasil uji bakar ulang mesin Raptor dan apakah SpaceX mampu mempertahankan tempo peluncuran yang agresif tanpa mengorbankan keamanan.