Kolom Tekno

Skullcandy Crusher 1080: Haptic Bass dan ANC Bose dalam Satu Paket

Ringkasan

  • Skullcandy resmi meluncurkan headphone flagship terbaru, Crusher 1080, yang mengusung teknologi active noise cancellation (ANC) dari Bose dan haptic bass khas merek tersebut.
  • Dibanderol sekitar $270, headphone ini menawarkan keseimbangan suara lebih baik serta daya tahan baterai hingga 60 jam.

Skullcandy resmi meluncurkan headphone flagship terbaru, Crusher 1080, yang untuk pertama kalinya mengadopsi teknologi active noise cancellation (ANC) dari Bose. Headphone ini dibanderol sekitar $270 atau setara Rp4,2 juta dan menawarkan daya tahan baterai hingga 60 jam.

Peningkatan utama terletak pada integrasi teknologi Bose yang mencakup sistem audio WaveForm, TrueSpatial directional audio, dan tentu saja ANC. Ini menandai perubahan strategi Skullcandy yang selama ini dikenal lewat suara bass berat, kini mulai merambah segmen premium dengan keseimbangan suara yang lebih baik.

Skullcandy memiliki sejarah panjang dalam menghadirkan headphone dengan haptic bass—fitur yang memungkinkan pengguna merasakan getaran bass secara fisik. Lini Crusher menjadi andalan merek ini sejak bertahun-tahun. Namun, dengan hadirnya Crusher 1080, Skullcandy ingin membuktikan bahwa mereka tidak hanya soal bass, tetapi juga kualitas audio secara keseluruhan.

Dari segi desain, Crusher 1080 masih mempertahankan bentuk khas Crusher dengan konstruksi kokoh dan sedikit berat. Skullcandy tetap setia pada kontrol fisik, termasuk kenop besar untuk mengatur intensitas haptic bass. Sayangnya, letak kenop yang berdekatan dengan tombol ANC membuat pengguna kerap tidak sengaja mengganti mode noise cancellation saat mengatur bass.

Fitur konektivitas cukup lengkap. Headphone ini mendukung multipoint Bluetooth, Auracast, dan koneksi kabel 3.5 mm serta USB-C. Baterai diklaim tahan 50 jam dengan ANC aktif dan 60 jam tanpa ANC, dilengkapi fast charging untuk pengisian cepat.

Dalam pengujian yang dilakukan Engadget, kualitas suara Crusher 1080 mengalami peningkatan signifikan. Panggung suara terasa lebih lebar dan seimbang, dengan mid-range atas yang lebih menonjol. Saat fitur haptic dimatikan, bass terdengar lebih terkontrol. Dibandingkan dengan Sennheiser HD 630, Crusher 1080 menawarkan suara yang lebih enerjik dan volume yang lebih besar.

Sektor ANC menjadi salah satu kejutan terbesar. Menurut Engadget, performa peredaman bising Crusher 1080 melampaui Sennheiser HD 630 dan Soundcore Space One Pro. Meski belum sebaik Bose dan Sony di kelas flagship, jarak kualitasnya semakin dekat. Mode transparansi juga dinilai cukup natural untuk percakapan singkat tanpa melepas headphone.

Tentu saja, haptic bass tetap menjadi pembeda utama. Intensitas getaran bisa disesuaikan dari yang halus hingga gemuruh penuh. Fitur ini mungkin tidak cocok untuk semua pendengar, tetapi bagi penggemar musik bergenre bass-heavy, pengalaman yang ditawarkan sangatlah unik.

Di Indonesia, pasar headphone premium masih didominasi oleh merek-merek seperti Sony, Bose, dan Sennheiser. Skullcandy, meskipun memiliki basis penggemar, belum sepopuler kompetitor. Dengan harga sekitar Rp4,2 juta, Crusher 1080 langsung bersaing dengan Sony WH-1000XM5 dan Bose QC Ultra. Keunggulan utama Skullcandy ada pada fitur haptic bass yang tidak dimiliki merek lain. Namun, dari segi desain dan kualitas build, masih ada catatan.

Untuk konsumen Indonesia yang menginginkan pengalaman audio yang berbeda—suara bertenaga dengan sensasi bass fisik—Crusher 1080 bisa menjadi pilihan menarik. Apalagi dengan dukungan ANC dari Bose, headphone ini kini lebih dari sekadar mainan bass.

Secara keseluruhan, Skullcandy Crusher 1080 mendapat skor 7,8/10 dari Engadget. Headphone ini membuktikan bahwa Skullcandy mampu berinovasi tanpa meninggalkan identitasnya. Ke depannya, kolaborasi semacam ini mungkin akan menjadi tren baru di industri audio, menggabungkan kekuatan merek yang berbeda untuk menciptakan produk yang unik.

Mengapa Ini Penting

Peluncuran Skullcandy Crusher 1080 menandai langkah berani perusahaan untuk bersaing di segmen headphone premium yang selama ini didominasi Sony dan Bose. Bagi pasar Indonesia, kehadiran teknologi ANC dari Bose dalam headphone yang lebih terjangkau bisa menjadi alternatif menarik. Namun, persaingan tetap ketat mengingat loyalitas konsumen pada merek-merek established. Skullcandy perlu memperkuat distribusi dan brand awareness di Indonesia untuk benar-benar merebut hati pengguna audiofil Tanah Air.

Sumber Asli
Engadget
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit